Soal ABS, IKA-KPMM Desak Kades Hungayonaa Minta Maaf

0
404

Boalemo – Ikatan Alumni Komunitas Pelajar Mahasiswa Mananggu (IKA-KPMM) mendesak Kepala Desa (Kades) Hungayonaa, Mohammad Wisnu Sau meminta maaf kepada masyarakat Kabupaten Bualemo atas pernyataannya yang mengartikan kalimat Asal Bapak Senang (ABS) dalam pidato Bupati boalemo Darwis Moridu yang dialamatkan kepada Kepala Dinas Sosial dan PMD Boalemo.

“Kami selaku IKA KPMM mendesak kepada saudara Mohammad Wisnu Sau untuk mengklarifikasi secara terbuka terkait pernyataannya dalam media lokal memoza beberapa hari yang lalu, serta melakukan permohonan maaf secara terbuka pula kepada Kadis Sosial dan PMD Boalemo,” tegas Presidium IKA-KPMM Rein Tulen, Sabtu (6/6/2020).

Menurutnya, pernyataan yang dilontarkan oleh Kades Hungayonaa adalah perlakuan yang tidak mencerminkan sebagai pemimpin masyarakat. Pernyataan tersebut bukan saja melukai perasaan dari Kadis sosial dan PMD tetapi juga melukai seluruh masyarakat Boalemo.

“Karena bagaimanapun juga, Dinas Sosial dan PMD yang dinahkodai oleh Ulkia Kiu ini sangat bersentuhan langsung dengan seluruh kepala desa yang ada di Kabupaten Boalemo. Berkat kerja dan penanganan cepat beliau dalam merespon kebutuhan masyarakat, yang tentunya juga menjadi arahan dari Bupati, maka seluruh desa bisa mengelola sumber daya yang ada di desanya masing-masing sesuai dengan mekanisme yang ada,” ujar Rein.

Rein juga menekankan, Kades Wisnu selayaknya berterima kasih kepada Kadis Sosial dan PMD, karena terlepas dari tupoksinya Ulkia telah banyak menguras tenaga dan pikiran untuk desa dan masyarakat agar lebih baik kedepannya.

“Tidak demikian dengan saudara Wisnu Sau, justru terkesan menciptakan kegaduhan di kalangan masyarakat. Pada saat seluruh elemen yang ada di Kabupaten Boalemo terkonsentrasi dalam menangani penyebaran COVID-19, beliau malah secara gamblang mengartikan bahwa yang di maksud Asal Bapak Senang dalam isi pidato Bupati Boalemo itu adalah Kadis Sosial dan PMD Kabupaten Boalemo, sehingga dalam benak kami bertanya, apa maksud beliau dalam memberikan pernyataan tersebut,” tandasnya.

Rein juga menambahkan, seharusnya kepala desa yang bisa dibilang sebagai olongia (Maha Raja) di desanya harus mampu menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat serta lebih beradab (debo potoloadabu) apalagi kepada yang lebih tua (totahehula-hulanga), jika tidak akan tertimpa bencan atau malapateka (odungga lo bito).

“Kepala Desa harus berhati hati dalam mengeluarkan setiap kata dan pernyataan dimanapun dia berada. Karena pemimpin itu adalah cerminan rakyat,” pungkasnya.

Sementara itu, hingga berita ini dipublish, Kepala Desa Hungayonaa, Mohammad Wisnu Sau belum berhasil dikonfirmasi terkait hal ini.(FO7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here