Umat Muslim Hadiri Haul Guru Tua ke-52 di Masjid Al-Muttaqien Girian Weru Satu

0
684

Bitung, Sulut – Umat Muslim antusias menghadiri peringatan Haul ke 52 Guru Tua Sayyid Idrus Bin Salim Al Jufri. Tidak hanya para santri dan alumni Al Khairaat, masyarakat pun berduyun-duyun memadati Masjid Al-Mutaqien Girian Weru Satu, Jumat (12/6/2020).

Kegiatan yang digagas oleh Majelis Asy Baalul Khairaat Kota Bitung, diawali dengan tahlil dan dilanjutkan dengan Sholat Jumat berjamaah yang diakhiri dengan manaqib Guru Tua oleh sang murid, K.H. Ismet Djaelani dan Fauzi Badarab serta ceramah agama dari Pembina Majelis Asy Baalul Khairaat Kota Bitung, Habib Abdullah Bin Ali Bin Smith.

Ketua BTM Masjid Al-Muttaqien Girian Weru Satu, Ipda Abdul Natip Anggai melalui Sekretaris BTM, Saridiharjo saat ditemui media ini menjelaskan, bahwa pihaknya hanya meminjamkan tempat untuk penyelengaraan kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini digagas langsung oleh Majelis Asy Baalul Khairaat Kota Bitung. Karena kecintaan kami kepada Guru Tua, makanya Masjid Al Mutaqien dalam hal ini Badan Ta’mirul Masjid ikut serta dengan memfasilitasi tempat untuk kegiatan tersebut yang tetap mengikuti instuksi protokol kesehatan COVID-19,” singkat Ari, sapaan akrabnya.

Terpisah, Pembina Majelis Asy Baalul Khairaat Kota Bitung, Habib Abdullah Bin Ali Bin Smith mengungkapkan kegiatan kali ini agak berbeda dari tahun sebelumnya.

“Seperti tahun sebelumnya, kami ke Kota Palu untuk mengikuti Haul Guru Tua, tapi untuk tahun ini karena dalam situasi pandemi COVID-19 dan terhalang dengan adanya penetapan PSBB di beberapa wilayah, maka kami berinisiatif mengelar Haul Guru Tua di Kota Bitung demi mengenang dan rasa cinta terhadap Guru Tua,” singkatnya.

Habib Abdullah juga mengingatkan kepada jamaah, bahwa suatu kehormatan tersendiri jika hadir pada acara Haul Guru Tua.

“Guru Tua adalah Wali Allah, dimana saja keberkahan kita semua yang hadir di sini dan akan menemui baik orang itu sendiri dan keturunanya maupun muridnya,” ungkapnya.

“Saya juga berpesan kepada masyarakat Kota Bitung agar tetap menjalankan sholat berjamaah dan Bitung mengaji, ini harus tetap dilakukan agar daerah kita tetap mendapatkan safaat dan hidayah dari Allah SWT,” tambah Habib Abdullah yang merupakan kakak dari Habib Bahar Bin Ali Bin Smith.

Berikut ini gambaran dan potret sosok Guru Tua Sayyid Idrus bin Salim (SIS) Al Jufri yang diolah dari berbagai sumber.

Guru Tua lahir di Tarim, Hadramaut, 15 Maret 1891 M dan wafat di Kota Palu, Sulawesi Tengah, 22 Desember 1969 M. Guru tua berasal dari marga besar Ba’alawi sumber keturunan para sufi dan ulama besar di Hadramaut, generasi ke 35 dari Ali bin Abi Thalib dan Fathimah. Sumber keilmuan bersumber dari jalur Ali bin Abi Thalib dan Fathimah as Zahra.

Ayah Guru Tua datang ke Indonesia 1878 M. Guru tua adalah anak ke 4 dari enam bersaudara. Ibu guru tua adalah asli warga negara Indonesia. Guru tua memiliki nasionalisme dan faham kebangsaan yang sangat kuat.

Akar nasionalisme Guru Tua berasal dari ibunya, Andi Syarifah Nur. Sejak kedatangannya yang pertama pada 1911 dan kedua 1922 serta muktamar Al Khairat pertama, Guru Tua tidak pernah mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara.

Ideologinya bermanhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan bernadzhab Syafii. Dalam buku tarikh Al Khairat, guru Tua berpesan:

Kehidupanku berdasarkan madzhab imam Syafi’i. Sepeninggalku, saya wasiatkan kepada Abnaul Khairat untuk bermadzhab Syafii. Dan berpegang pada jalan lurus yg diajarkan Rasulullah, sahabat, tabiin dan salafusshalih.

Ketika Belanda gencar memecah belah, guru tua melawannya dengan perkawinan antar suku berbeda untuk para muridnya. Mereka disebar untuk berdakwah dan dinikahkan dengan penduduk setempat.

Guru Tua menulis syair tentang bendera merah putih. Potongan terjemahan syair berbahasa Arab itu antara lain:

Berkibarlah bendera kemuliaan di angkasa. Daratan dan gunungnya hijau. Hari kebangkitannya adalah hari kebanggaan.

Setiap bangsa memiliki lambang kebangsaan dan kebanggaan. Lambang kebangsaan untuk Indonesia adalah merah dan putih.

Dengan mendirikan madrasah, guru tua berjuang dengan mendirikan Madrasah Al-Khairat sejak 15 tahun sebelum Indonesia Merdeka.(redaksi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here