Rabu, 10 Desember 2025 20:32

Festival Daur Bumi 2025 Dihelat 12–14 Desember, Hadirkan Inovasi Pengolahan Sampah

Editor : Redaksi
Penulis : Samsir
Festival Daur Bumi 2025, berlangsung 12–14 Desember 2025 di Balai Prajurit M. Jusuf (Balai Manunggal). @Jejakfakta/dok. Istimewa
Festival Daur Bumi 2025, berlangsung 12–14 Desember 2025 di Balai Prajurit M. Jusuf (Balai Manunggal). @Jejakfakta/dok. Istimewa

Jelajah sampah di 15 Kecamatan jadi pemanasan menuju Festival Daur Bumi 2025.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Kota Makassar kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan kota yang bersih dan berkelanjutan.

Lewat gelaran akbar Festival Daur Bumi 2025, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengajak warga bergerak bersama menuju target besar Makassar Bebas Sampah 2029.

Festival yang berlangsung 12–14 Desember 2025 di Balai Prajurit M. Jusuf (Balai Manunggal) ini bukan sekadar pameran lingkungan, tetapi ruang kolaborasi besar yang menyatukan gagasan, inovasi, serta aksi nyata dari berbagai pihak—mulai dari komunitas, pelaku usaha berbasis keberlanjutan, hingga generasi muda yang peduli masa depan bumi.

Baca Juga : Awali 2026, Pemkot Makassar Bergerak Bersih di Pantai Losari

Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, menuturkan bahwa festival tersebut menjadi panggung kolaborasi para pegiat lingkungan dari berbagai latar, mulai dari komunitas relawan, pelaku inovasi, UMKM berbasis sustainability, hingga masyarakat umum.

"Festival ini kami hadirkan sebagai wadah besar bagi semua penggiat lingkungan untuk berbagi gagasan dan memperkenalkan inovasi yang memberi dampak nyata bagi bumi," ujarnya, Rabu (10/12/2025).

Sebagai kota yang tengah memperkuat agenda transformasi lingkungan, Festival Daur Bumi 2025 hadir untuk menunjukkan bahwa perubahan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi gerakan kolektif seluruh warga. Melalui kolaborasi lintas sektor, Makassar terus menegaskan posisinya sebagai salah satu kota paling progresif dalam pengelolaan sampah di Indonesia.

Baca Juga : TPA Antang Dibenahi, Pemkot Makassar Fokus Kurangi Beban Sampah

Festival ini menampilkan berbagai inovasi pengolahan sampah, seperti ecobrick, kerajinan daur ulang berbahan plastik, teknologi pengolahan limbah organik, hingga solusi pengurangan sampah rumah tangga.

Helmy berharap pameran tersebut menjadi inspirasi bagi warga untuk mendukung program Makassar Bebas Sampah 2029 yang menargetkan sistem pemilahan sampah komunal dari hulu ke hilir.

"Program ini sekaligus menjadikan Makassar sebagai salah satu kota besar pertama di Indonesia yang menerapkan pengelolaan sampah terintegrasi berbasis partisipasi masyarakat," tuturnya.

Baca Juga : Pemkot Makassar Perkuat Armada Kebersihan, Fokus Atasi Penumpukan Sampah Permukiman dan Lorong

Selain pameran, festival juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan hiburan seperti sharing session, talkshow, aktivitas sport-action, mural, permainan interaktif, hingga hiburan panggung. Sejumlah tokoh inspiratif dijadwalkan hadir sebagai narasumber, antara lain Bule Sampah, Pandawara Group, Founder Rappo.id, dan Founder Berdaur.id.

Helmy menilai kehadiran tokoh-tokoh tersebut penting untuk memberikan perspektif baru sekaligus menggerakkan antusiasme masyarakat terhadap isu lingkungan.

"Perubahan tidak akan terjadi tanpa keterlibatan masyarakat. Menjaga bumi butuh aksi nyata, bukan sekadar janji," tegas Helmy.

Baca Juga : Festival Daur Bumi: Menutup Tahun, Membuka Perjalanan Baru Persampahan Kota Makassar

Jelajah Sampah Makassar, Pemanasan Menuju Festival Daur Bumi 2025

Selain penyelenggaraan festival, DLH Makassar juga telah menggelar program “Jelajah Sampah Makassar”, sebuah inisiatif edukatif dan aksi nyata yang dilaksanakan serentak di 15 kecamatan sejak 19 November 2025.

Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat langkah menuju Makassar Bebas Sampah 2029 di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham.

Baca Juga : Wali Kota Makassar Tantang RT/RW Kelola Sampah, Anggaran hingga Rp100 Juta per Wilayah

Menurut Helmy, Jelajah Sampah Makassar dirancang sebagai gerakan kolaboratif untuk meningkatkan kesadaran, kedisiplinan, dan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah.

"Melalui kegiatan ini, kami mengajak warga memahami persoalan sampah di lingkungannya sekaligus belajar bagaimana menjadi bagian dari solusi," imbuh Helmy.

Rangkaian kegiatan Jelajah Sampah mencakup pelatihan pemilahan dan daur ulang sampah, pameran produk ramah lingkungan, diskusi lingkungan, aksi bersih, permainan edukatif, hingga hiburan bagi warga. DLH juga menyediakan pasar murah dan pemeriksaan kesehatan gratis, sehingga kegiatan tidak hanya menyentuh aspek lingkungan tetapi juga kebutuhan masyarakat langsung.

Program ini mendapat dukungan luas dari berbagai komunitas dan mitra kolaborasi, sehingga jangkauan edukasi dan aksi lapangan semakin meluas. Sejumlah kecamatan mencatat hasil pengumpulan sampah yang signifikan:

  • Kecamatan Mariso: 64,4 kg
  • Kecamatan Wajo: 135,25 kg
  • Kecamatan Manggala: 208,3 kg

Total ratusan kilogram sampah yang terkumpul menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat serta kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan.

Jelajah Sampah Makassar akan berakhir pada 15 Desember 2025 di Kecamatan Mamajang, sekaligus menjadi momentum menuju puncak Festival Daur Bumi 2025.

Melalui rangkaian kegiatan ini, DLH Makassar berharap terbentuk perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan serta mendorong kolaborasi lebih luas dari seluruh lapisan masyarakat.

"Festival Daur Bumi 2025 dan Jelajah Sampah bukan sekadar acara, tetapi gerakan bersama untuk memperkuat komitmen menjaga bumi dan mewujudkan Makassar sebagai kota yang lebih bersih dan sehat," tutup Helmy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Festival Daur Bumi 2025 #Makassar Bebas Sampah 2029 #Jelajah Sampah #inovasi pengolahan sampah #ecobrick Makassar #DLH makassar #pengelolaan sampah berkelanjutan #Pandawara Group #Bule Sampah
Youtube Jejakfakta.com