Selasa, 24 Februari 2026 16:45

Lima Tahun Menjaga Masa Depan Kakao Luwu Timur: Anak Terlindungi, Perempuan Berdaya

Editor : Redaksi
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang diwakili Sekretaris Daerah, Dr. Ramadhan Pirade, bersama Save the Children Indonesia (StC) resmi menutup rangkaian Program Perlindungan Anak di Rantai Pasok Kakao dan Program GrowHer Kakao, di Aula Sasana Praja Kantor Bupati Luwu Timur, Selasa (24/02/2026). @Jejakfakta/dok. Istimewa
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang diwakili Sekretaris Daerah, Dr. Ramadhan Pirade, bersama Save the Children Indonesia (StC) resmi menutup rangkaian Program Perlindungan Anak di Rantai Pasok Kakao dan Program GrowHer Kakao, di Aula Sasana Praja Kantor Bupati Luwu Timur, Selasa (24/02/2026). @Jejakfakta/dok. Istimewa

Kolaborasi Pemkab Luwu Timur, Save the Children Indonesia, dan PT Mars Wrigley selama lima tahun berhasil membentuk 51 PATBM, menerbitkan 3.500 KIA, serta menguatkan 93 kelompok simpan pinjam dengan dana lebih dari Rp6 miliar.

Jejakfakta.com, LUWU TIMUR – Di balik hamparan kebun kakao yang menjadi denyut ekonomi masyarakat Luwu Timur, tersimpan kisah kolaborasi panjang yang tak sekadar bicara produksi dan rantai pasok. Selama lima tahun terakhir, sebuah gerakan sunyi namun berdampak nyata telah menanam benih perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di desa-desa sentra kakao.

Bertempat di Aula Sasana Praja Kantor Bupati Luwu Timur, Selasa (24/02/2026), Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang diwakili Sekretaris Daerah, Dr. Ramadhan Pirade, bersama Save the Children Indonesia (StC) resmi menutup rangkaian Program Perlindungan Anak di Rantai Pasok Kakao dan Program GrowHer Kakao.

Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis sejak 2021 antara StC Indonesia dan PT Mars Wrigley, dengan dukungan implementasi lapangan oleh Sulawesi Cipta Forum.

Baca Juga : Pemuda di Gowa Ditangkap, Diduga Lakukan Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Sebarkan Foto Korban

51 PATBM Jadi Garda Terdepan Desa

Di sektor perlindungan anak, program di Rantai Pasok Kakao berhasil membentuk 51 Kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang tersebar di tujuh kecamatan. Kelompok ini menjadi garda terdepan di tingkat desa dalam mencegah dan menangani kekerasan serta praktik berbahaya terhadap anak.

Tak hanya aktif secara sosial, seluruh PATBM kini memiliki payung hukum melalui Peraturan Desa, menjadikannya model perlindungan anak yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Baca Juga : Husniah Talenrang Berikan Semangat Kafilah Gowa di MTQ XXXIV Sulsel, Siapkan Bonus Umrah bagi Juara

Dalam sambutannya, Sekda Ramadhan Pirade menegaskan bahwa kolaborasi lima tahun tersebut menjadi bukti nyata komitmen bersama membangun masa depan daerah.

“Keberhasilan puluhan PATBM dan kelompok usaha perempuan yang telah terbentuk bukan sekadar akhir dari sebuah program, melainkan standar baru dalam membangun kemandirian desa,” ungkap Ramadhan.

Menurutnya, masa depan Luwu Timur sangat ditentukan oleh kekuatan perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan.

Baca Juga : Bupati Luwu Timur Apresiasi Sinergi Kota Parepare di Hari Jadi ke-66

“Ketika perempuan berdaya, petani semakin sejahtera. Ketika petani sejahtera, maka desa menjadi kuat. Dan ketika desa kuat, maka daerah akan semakin maju dan mandiri,” jelasnya.

3.500 KIA Terbit, Tak Ada Anak Tertinggal

Senior Manager Agriculture Portfolio Lead StC Indonesia, Ihwana Mustafa, mengungkapkan bahwa kehadiran PATBM membawa dampak signifikan di tengah masyarakat.

Baca Juga : Bupati Gowa Hadiri Hari Jadi ke-66 Parepare, Dorong Sinergitas Antar Daerah

“PATBM di Luwu Timur bukan hanya menjadi napas baru dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan pada anak, tetapi juga bukti komitmen dalam memenuhi hak dasar anak. PATBM berhasil membantu penerbitan lebih dari 3.500 Kartu Identitas Anak (KIA), memastikan tidak ada anak yang tertinggal di rantai pasok ini,” tutur Ihwana.

Langkah ini dinilai krusial dalam memastikan setiap anak memiliki identitas hukum dan akses terhadap layanan dasar.

GrowHer Kakao: Rp6 Miliar Dana Simpanan Perempuan Desa

Baca Juga : Pemkab Gowa Komitmen Wujudkan Daerah Ramah Anak

Dari sisi pemberdayaan ekonomi, Program GrowHer Kakao mencatat capaian impresif. Sebanyak 93 Kelompok Simpan Pinjam Desa atau Village Saving and Loan Association (VSLA) terbentuk di 28 desa, dengan total akumulasi dana simpanan mencapai lebih dari Rp6 miliar.

Sebanyak 446 warga, yang hampir seluruhnya perempuan, kini tergabung dalam 31 kelompok usaha produktif. Mereka membukukan total bagi hasil lebih dari Rp20 juta.

Tak berhenti di situ, seluruh kelompok usaha minimal telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB). Sebagian besar bahkan telah melengkapi legalitas dengan sertifikasi PIRT, PSAT, hingga sertifikat halal—menandai transformasi dari usaha rumahan menjadi unit ekonomi desa yang legal dan berdaya saing.

Tonggak Estafet untuk Masa Depan Desa

Momentum penutupan ini bukanlah akhir, melainkan tonggak estafet bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat Luwu Timur untuk terus merawat benih perlindungan, kesetaraan, dan kemandirian yang telah tumbuh selama lima tahun terakhir.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Pemerintahan dan Kesra, kepala OPD lintas sektor, pimpinan PT Mars, camat, kepala desa, TP PKK Kabupaten, Forum PATBM, hingga para “champion” program yang menjadi motor penggerak perubahan di desa-desa.

Di tengah dinamika industri kakao global, Luwu Timur memberi pesan kuat: keberlanjutan bukan hanya soal hasil panen, tetapi tentang anak-anak yang terlindungi dan perempuan yang berdiri tegak menggerakkan ekonomi keluarga. (diolah dari sumber: ikp-humas/kominfo-sp)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Luwu Timur #PATBM #Save the Children Indonesia #PT Mars Wrigley #GrowHer Kakao #Perlindungan Anak #pemberdayaan perempuan #kakao #VSLA #kia #Sulawesi Selatan
Youtube Jejakfakta.com