Jejakfakta.com, Makassar - Banjir masih menggenangi sejumlah titik di Kota Makassar, terutama di wilayah Kecamatan Manggala dan Biringkanaya. Sejumlah warga memilih mengungsi ke tempat aman.
Dari pantauan tim jejakfakta.com, Senin (26/12/2022) sekitar pukul 12.00 siang. Air masih menggenangi rumah warga hingga leher orang dewasa di Blok 8 dan Blok 10 Perumnas Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.

Hamzir, Warga Blok 8 Perumnas Antang menceritakan pemukimannya memang menjadi langganan banjir tiap tahunnya. Tahun 2022 ini yang kedua kalinya. Banjir kali ini yang terparah dari bulan November lalu.
Baca Juga : Humanis Tanpa Gusur Paksa, Pemkot Makassar Ajak Pedagang Bongkar Mandiri Lapak di Atas Drainase
"Yang terparah ini. Sabtu air mulai naik, ketinggiannya 1 meter lebih, kalau yang di belakang lorong 5 sampai 2 meter lebih. Kami kira ini tidak seberapa seperti bulan lalu, padahal lebih parah. Jadi banyak barang elektronik warga yang terapung," katanya.

Baca Juga : Peringatan Curah Hujan Tinggi, Pemkab Gowa Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana
Kondisi warga di pengungsian membutuhkan bantuan logistik, Hamzir mengatakan sejumlah warga belum mendapatkan bantuan selimut dan pakaian khusus bayi.
"Ada sebagian yang tinggal di rumah di lantai dua. Jadi kami juga bagikan ke mereka, kami berharap kami bisa dibantu soal selimut dan logistik. Masih ada yang belum dapat, apalagi disini ada bayi, jadi kami butuh selimut," harapnya.
Dilaporkan, sejumlah warga yang mengungsi termasuk lansia mendapatkan penyakit seperti gatal-gatal dan demam. Sejumlah tim medis disiagakan di lokasi untuk membantu warga.
Baca Juga : Cuaca Ekstrem Mengintai Gowa, Sejumlah Kecamatan Masuk Status Awas Hujan Lebat
"Kalau situasi banjir kaya begini kami sediakan yang obat urgen itu obat flu batuk dan demam. Tapi dari kemarin kami itu dapatkan pasien yang gatal-gatal dan demam, dan kebanyakan lansia," ujar Nuraini, tim medis dari Dinas Kesehatan Kota Makassar.
BPBD Fokus Warga Terdampak yang ada di Pengungsian
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin, mengatakan saat ini bantuan diprioritaskan kepada warga terdampak yang mengungsi di pengungsian yang sudah ditetapkan pemerintah.
Baca Juga : Presiden Prabowo Tinjau Langsung Penanganan Banjir di Tapanuli Tengah
"Jadi dia merasa sudah tidak bisa apa, tidak bisa memasak dan tidak bisa beli popok susu, jadi terhentinya aktivitas-nya. Yang dititik ungsi itu orang yang terancam jiwanya sehingga menjadi prioritas mendapatkan bantuan," ujarnya.
Untuk itu, kata Achmad di titik pengungsian disediakan dapur umum dan fasilitas lain baik swadaya masyarakat maupun pemerintah.
"Jadi yang dihitung oleh BPBD betul betul yang ada di titik ungsi. Mulai dari perempuan, laki-laki, anak-anak, lansia dan disabilitas. Mereka diberikan makanan pokok dll," katanya.
Baca Juga : Makassar Siaga Bencana, Wali Kota Munafri Pimpin Apel Kesiapsiagaan 2025

Hasil pantauan di lapangan, sebagian warga memilih bertahan di rumahnya untuk menjaga barang-barang berharga miliknya dan ribuan warga memilih mengungsi.
"Kalau kita lihat data hari ini, pengungsi kita ada sekitar 1400, bahkan data terakhir yang terdampak itu 3000-an," ujar Achmad.
Ia mengaku, BPBD Makassar menyediakan layanan di titik pengungsian itu untuk kenyamanan para warga yang mengungsi.
"Kita kasih dia selimut, kita kasih dia makanan, dan apa yang menjadi kebutuhannya. Tapi prioritas kita tentu saja yang ada di titik titik ungsi yang berkumpul disana," terangnya.
Untuk memudahkan layanan, Achmad berharap warga kepada warga terdampak diminta ke posko pengungsian sehingga mudah dalam pelayanan, meskipun pihak tetap harus melayani dari rumah ke rumah. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




