Kisruh 7 Guru Besar Mundur, Rektor Unhas Bentuk Tim Verifikasi
"Kami harus memastikan bahwa proses untuk menangani masalah itu harus baik-baik. Kami lakukan dan harus ada fakta dan verifikator sebelum rektor memutuskan," kata Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa.
Jejakfakta.com, Makassar - Kisruh tujuh Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin Makassar yang memilih mengundurkan diri menjadi pengajar Program S3 28 Oktober lalu disikapi Rektor Universitas Hasanuddin Jamaluddin Jompa dengan membentuk Tim Verifikasi.
Sebelumnya, Rektor sudah melakukan mediasi dengan tujuh guru besar bersama Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas dan menyepakati mereka saling memaafkan, kemudian masalah tersebut diserahkan ke Dekan untuk menyelesaikan secara internal.
"Kami sudah mediasi 7 guru besar dan dekan, namun yang hadir hanya 6. Tapi mereka menganggap cukup. Dalam pertemuan itu yang pertama disepakati saling memaafkan," ujar Jamaluddin Jompa kepada wartawan saat menggelar jumpa pers di Gedung Rektorat Unhas, Jumat (4/11/2022) kemarin.
Kesepakatan kedua, kata Prof Jamaluddin adalah mencari solusi di tingkat fakultas untuk kemudian disepakati di tingkat senat fakultas. "Dan itu sudah saya serahkan ke dekan, karena saya tidak boleh jauh mengintervensi. Dekan memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah itu," terangnya.
Baca Juga : Bupati Pinrang Ungkapkan Keinginan Bangun Kampus Vokasi, Rektor Unhas: Kami Siap Mendukung
Setelah melakukan mediasi, Rektor kemudian membentuk tim verifikasi yang nantinya akan bekerja untuk mendengarkan semua keluhan dan suara-suara dari semua pihak yang merasa dirugikan.
"Kami memiliki tim verifikasi, supaya kita tidak boleh lengah tidak boleh naik bahwa semua baik-baik saja. Rektor harus memiliki kemampuan melihat ini secara jelas seperti apa, sehingga tim verifikasi ini kita lihat bagaimana proses berikutnya sehingga tidak ada lagi kekisruhan seperti ini," kata Prof Jamaluddin.
"Jadi tim ini sudah kita bentuk, kami sudah sampaikan agar permasalahan ini dibahas di dalam rapat senat internal. Saya bertanggung jawab menyelesaikan masalah ini dengan segala kemampuan dan otoritas yang ada pada rektor untuk menyelesaikan ini secara tuntas karena ini masalah internal," sambungnya.
Di Universitas Hasanuddin dibentuk Satuan Pengawas (SP) internal, tim ini kita berikan penugasan khusus mendengarkan keluhan dari semua pihak. Supaya nantinya bisa berimbang dan tidak ada yang merasa tidak didengar.
"Mungkin mereka rindu-rindu mau didengar keluhannya. Tapi saya tidak bisa menentukan waktu untuk menyelesaikan masalah ini dalam waktu sesingkat-singkat nya, tapi biarlah diselesaikan secara alami," katanya.
Rektor Unhas Jamaluddin Jompa berjanji akan akan membangun dialog. Setiap ada dugaan masalah, pihak Universitas akan langsung membentuk tim verifikasi. Ia mengakui bahwa isu yang berkembang di kampus merah ini karena ada masalah dan pihaknya tidak menutup mata kalau tidak ada masalah disini.
"Kami harus memastikan bahwa proses untuk menangani masalah itu harus baik-baik. Kami lakukan dan harus ada fakta dan verifikator sebelum rektor memutuskan," jelasnya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News