Tiga Tertinggi Penduduk Miskinnya di Sulawesi Selatan, Tiga Tahun Berturut-turut
BPS mencatat, Sulawesi Selatan 776,83 ribu jiwa penduduk miskin pada tahun 2020, sebanyak 784,98 ribu jiwa pada 2021 dan 777,44 ribu jiwa pada 2022.
Makassar, jejakfakta.com – Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Bone merupakan tiga daerah tertinggi jumlah penduduk miskinnya di Sulawesi Selatan selama tiga tahun terakhir.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, kota Makassar menempati angka penduduk miskin tertinggi kedua dengan angka 71,83 ribu jiwa pada tahun 2022.
Angka kemiskinan kota Makassar juga tertinggi kedua Sulsel pada tahun 2020 yaitu 69,98 ribu jiwa dan 74,69 ribu jiwa pada tahun 2021.
Baca Juga : Pelayanan Publik Meningkat, Pengangguran dan Kemiskinan Menurun, Kinerja Pemkab Lutim Tunjukkan Tren Positif
Tetangga langsung kota Makassar, Kabupaten Gowa, tertinggi ketiga angka kemiskinannya tahun 2022 yakni 57,96 ribu jiwa.
Gowa juga tertinggi ketiga dengan angka 58,66 ribu jiwa penduduk miskin pada tahun 2021, dan 57,68 ribu jiwa tahun 2020.
Bone menempati posisi tertinggi pertama dengan angka 80,34 ribu jiwa pada tahun 2022. Sebanyak 81,33 jiwa pada tahun 2020 dan 79,64 jiwa pada 2021. Tiga tahun beruntun.
Baca Juga : BPS Catat Tren Kemiskinan di Sulsel Terus Menurun Enam Tahun Terakhir, Andi Sudirman: Hasil Kerja Bersama
Kaya tapi Penduduk Miskinnya Tinggi
BPS mencatat, Sulawesi Selatan 776,83 ribu jiwa penduduk miskin pada tahun 2020, sebanyak 784,98 ribu jiwa pada 2021 dan 777,44 ribu jiwa pada 2022.
Yang mengundang perhatian publik, apa yang salah dengan lima daerah Sulsel yang kaya sumber daya tetapi tinggi pula angka kemiskinannya? Kota Makassar termasuk.
Baca Juga : Bupati Bone Hadiri Syukuran HUT ke-65 Bank Sulselbar
BPS mencatat angka kemiskinan kota Makassar 4,58% dibandingkan daerah lainnya di Sulsel. Padahal, Makassar termasuk dalam gologan daerah pusat pertumbuhan ekonomi utama di Indonesia. Kota Makassar sederet pertumbungan ekonomi Medan, Jakarta, dan Surabaya.
Berikutnya, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sidrap. Data BPS membukukan, angka kemiskinan penduduk Kabupaten Sidrap 5,11% dibandingkan wilayah lainnya.
Kota Parepare kaya sumber daya tapi juga kaya angka kemiskinannya. Parepare menyentuh anka kemiskinan 5,41%.
Baca Juga : Ekonomi Pangkep Tumbuh 7,97%, Tertinggi se-Sulawesi Selatan & Kelima se-Sulawesi
Miris angka kemiskinan daerah Luwu Raya. Luwu Raya ada kabupaten yang dikenal sebagai daerah pertambangan terbesar Indonesia, siapa lagi kalau bukan Luwu Timur. Namun, BPS menobatkan Luwu Timur dengan angka kemiskinan penduduk yang menjulang tinggi 6,81% di tahun 2022.
Kota Palopo lebih tajam lagi angka kemiskinannya menurut data BPS.
Angka kemiskinan kota Palopo juga menjulang tinggi, menyentuh angka 7,78%.
Baca Juga : Penduduk Miskin Pangkep Turun, Raih Peringkat Kedua Penurunan Tertinggi se-Sulsel
Ukuran Kemiskinan
Konsep BPS untuk mengukur penduduk miskin, bagaimana?
Laman BPS menerangkan, untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).
Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.
Jadi Penduduk Miskin, menurut BPS, adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan.
Angka Pertumbuhan Ekonomi, untuk Apa?
Tinggi rendahnya angka pertumbuhan ekonomi tidaklah penting sebab angkanya tidak peduli nasib masyarakat apalagi rakyat kecil.
Angka pertumbuhan ekonomi merupakan kondisi terjadinya peningkatan produk domestik bruto (PDB) sebuah daerah atau negara (PNB) tanpa memedulikan perbaikan nasib masyarakat daerah.
Tinggi rendah angka pertumbuhan ekonomi sekadar membandingkan angka tahun sebelumnya, isinya aset asing (harta investor asing) pun dihitung, seolah-olah milik daerah itu.
Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomilah yang dibutuhkan masyarakat. Pemerintah yang menjagokan, menekankan pembangunan ekonomi adalah kabar gembira bagi rakyat, mengapa? Pembangunan ekonomi merupakan upaya untuk meningkatkan PDB yang selaras perbaikan ekonomi masyarakat atau rakyat kecil, serba peduli nasib penduduk daerah itu.
Ekonom Inggris dan Slandia Baru, Dudley Seers (April 1920 – 1983), memberi pengertian pembangunan ekonomi secara sederhana.
Dudley Seers menyatakan, sebuah daerah atau negara betul-betul membangun ekonominya jika mampu menjawab tiga pertanyaan dan faktor, yaitu:
1. Apakah pembangunan telah mengurangi kemiskinan?
Artinya, jika pendapatan per kapita meningkat, angka kemiskinan pasti berkurang.
Jika pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi angka kemiskinan tak berkurang, makan maknanya tidak terjadi pembangunan ekonomi.
2. Apa yang dilakukan pada pengangguran?
Artinya, pembangunan ekonomi pasti mengurangi angka pengangguran.
Tidak terjadi pembangunan ekonomi jika angka pengangguran tidak tergerus, tidak menurun.
3. Apa yang dilakukan pada kesenjangan?
Artinya, kesenjangan antara rakyat miskin dan orang kaya mengecil.
Tidak terjadi pembangunan ekonomi jika kesenjangan antara orang kaya dan orang-orang miskin membesar; yang kaya makin kaya, sedangkan masyarakat atau rakyat mengalami kondisi sebaliknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News