Pemkab Gowa Siapkan Skema Khusus Tekan Angka Stunting, Target 16,4 Persen pada 2025
Prevalensi stunting di Sulawesi Selatan turun dari 27,4 persen pada 2019 menjadi 23,3 persen pada 2023.
Jejakfakta.com, GOWA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa, Sulawesi Selatan, terus memperkuat upaya penurunan angka stunting melalui skema khusus yang difokuskan pada program gizi. Targetnya, prevalensi stunting turun menjadi 16,4 persen pada 2025 dengan skema khusus yang telah disiapkan.
Wakil Bupati Gowa, Darmawangsyah Muin, yang juga Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Gowa, mengatakan pihaknya telah menyusun alur perencanaan dan penganggaran yang berbasis data dan terarah.
“Target kami di 2025 adalah mencapai prevalensi 16,4 persen, dan kami yakin bisa mencapainya,” ujar Darmawangsyah saat menghadiri Lokakarya Komitmen untuk Gizi: Dari Bukti Menuju Dampak, di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Selasa (15/7).
Baca Juga : Pengukuhan Pertama di Sulsel, Wakil Bupati Gowa Siap Bersinergi dengan Bunda Guru Majukan Pendidikan
Menurutnya, tren penurunan angka stunting di Gowa sudah terlihat positif. Berdasarkan data Bappeda Gowa, prevalensi stunting periode 2024 berhasil ditekan hingga 17 persen, lebih rendah dari rata-rata provinsi Sulawesi Selatan.
“Ini menunjukkan tren penurunan yang baik. Kami optimis angka ini akan terus menurun, bahkan bisa lebih rendah dari target nasional,” katanya.
Darmawangsyah juga mengungkapkan, pada 2023 angka stunting di Gowa sudah turun drastis dari 33 persen pada 2022 menjadi 21,1 persen. Ia menilai capaian tersebut berkat perencanaan dan penganggaran yang konsisten serta berbasis data.
Baca Juga : Pertahankan Status KLA, Pemkab Gowa Kukuhkan Forum Anak dan Lahirkan Duta Anak sebagai Agen Perubahan
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah Sulawesi dan Maluku, Henky Widjaja, mengapresiasi kinerja para Ketua TPPS di Sulsel, termasuk Gowa.
“Saya sangat senang melihat antusiasme dan kerja nyata dari para Ketua Tim. Ini adalah bentuk komitmen bersama yang sangat dibutuhkan dalam mengatasi persoalan gizi anak,” ujar Henky.
Henky mengingatkan, tantangan gizi di Indonesia kini semakin kompleks. Selain stunting, obesitas pada anak juga mulai menjadi ancaman seiring pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Baca Juga : Darmawangsyah Muin dan Istri Ikuti Pendataan BPS, Ajak Warga Gowa Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026
“Kita tidak boleh lengah. Baik kekurangan maupun kelebihan gizi berdampak langsung pada tumbuh kembang anak, yang kemudian memengaruhi produktivitas dan daya saing bangsa,” jelasnya.
Ia menegaskan pentingnya investasi gizi untuk mendukung terwujudnya generasi emas Indonesia 2045.
“Penanganan gizi adalah investasi jangka panjang. Ini bagian dari strategi membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia,” tegas Henky.
Baca Juga : Pemkab Gowa Perkuat Syiar Islam, Darmawangsyah Muin Buka Jalan Sehat Pawai Muharram 1448 H
Berdasarkan data, prevalensi stunting di Sulawesi Selatan turun dari 27,4 persen pada 2019 menjadi 23,3 persen pada 2023.
Henky menyebut penurunan tersebut sebagai bukti nyata sinergi lintas sektor yang semakin kuat dan terarah.
“Kerja keras dan keterlibatan berbagai pihak bisa menghasilkan dampak nyata. Kita harus pertahankan dan tingkatkan sinergi ini,” pungkasnya.
Baca Juga : Tahun Baru Islam 1448 H, Bupati Gowa Ajak Warga Perkuat Persatuan Demi Sukseskan Pembangunan
Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Direktur Jenewa Institute Surahmansah Said, Kepala Bappeda Kabupaten Gowa Sujjadan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa drg. Haris Usman, serta Kepala Dinas PPKB Kabupaten Gowa Sofyan Daud.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News