Sulsel Ekspor Jagung 6.150 Ton Senilai Rp40 M ke Filipina
Produksi jagung nasional yang 32 juta ton, dan kebutuhan hanya 25 juta ton, dengan pemanfaatan lahan tidur yang ada, produksi bisa jauh lebih bertambah lagi.
Sebanyak 6.150 ton jagung asal Sulawesi Selatan senilai Rp40 miliar dikirim ke Filipina, melalui Pelabuhan Makassar dengan eksportir dari PT Segar Agro Nusantara, Rabu (11/1)
Menurut Kepala Balai Karantina Pertanian Makassar, Lutfie Natsir, ekspor jagung tersebut yang kedua setelah November lalu dikirim 12 ribu ton ke Vietnam. "Sekarang ke Filipina. Ini tanda-tanda sustainable. Dan ini kita jaga, karena kita ada program gratieks, yaitu gerakan tiga kali ekspor," ungkapnya.
Lutfie menambahkan, jika saat ini, Balai Karantina Pertanian, setiap hari melakukan ekspor, dengan nilai Rp1,99 miliar, terdiri dari berbagai komoditi, seperti jagung, ubi jalar, porang, dan lainnya. "Ada 11 komoditas yang diekspor dari Sulsel. Yang terbaru itu kelapa dan pala," tambahnya.
Baca Juga : Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat, BMKG: Puncaknya Agustus dan Berpotensi Lebih Kering
Nilai ekspor Sulsel khusus yang ditangani Karantina Pertanian Makassar, pada 2021 sebesar Rp2,2 triliun. Lalu 2022 naik jadi Rp2,6 triliun. "Kita yakin, 2023 ini pasti lebih dengan ekspor setiap hari itu," lanjut Lutfie.
Cristian Candra, Eksportir jagung, dari PT Segar Agro Nusantara, menyampaikan rasa syukurnya, karena Indonesia punya komoditas jagung yang melimpah. "Kita terus tingkatkan swasembada jagung. Dengan itu, perlu intensifikasi dan ekstensifikasi terhadap produk jagung," akunya.
Dia menyebutkan, jika kebutuhan jagung dalam negeri bisa terpenuhi. Berdasarkan Data Kementan 2022, Indonesia surplus jagung 2,2juta ton. "Sehingga kita bisa ekspor, dengan negara tujuan bukan hanya Filipina, tapi juga ke Vietnam, bahkan Malaysia," sebutnya.
Baca Juga : Indonesia Buat Sejarah, Kalahkan Jepang 5-3 dan Lolos ke Final Piala Asia Futsal 2026
Sulsel sendiri, merupakan daerah terbesar ke-5 dengan produksi jagung 1,6 ton, yang 500 tonnya dimanfaatkan untuk pakan. "Dan dengan ekspor ini, jagung di Sulsel bisa terserap dengan baik, disertai harga yang juga baik sehingga petani semangat kembali menanam jagung," lanjut Cristian.
Sementara itu, Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kementerian Perekonomian Musdalifah Machmud pun mengingatkan jika sekarang kita bisa ekspor, meski sempat juga melalukan impor jagung. Sehingga petani harus sejahtera, agar anak cucunya mau berkelanjutan.
Baca Juga : Timnas Futsal Indonesia Lolos ke Semifinal AFC Asian Cup 2026 Usai Kalahkan Vietnam 3-2
"Sekarang kita bisa ekspor 100-200 ribu ton jagung. Artinya memang sudah bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Apalagi semua negara butuh jagung, tidak hanya sebagai pakan ternak, tapi bisa jadi bahan lain salah satunya sebagai bahan baku industri, jadi etanol sebagai pengganti bahan bakar," seru Musdalifa.
Sehingga dari produksi jagung nasional yang 32 juta ton, dan kebutuhan hanya 25 juta ton, dengan pemanfaatan lahan tidur yang ada, produksi bisa jauh lebih bertambah lagi.
"Terlebih sekarang semua komoditi, tidak hanya jagung, dipermudah untuk melakukan eskpor berdasarkan UU Cipta Karya. Kita harus selalu membawa optimisme ke dapan," pungkasnya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News