Sop Saudara Lebih dari Sekadar Kuah: Diluncurkan Buku yang Usung Kuliner sebagai Identitas Budaya Pangkep

Forum Lingkar Pena (FLP) Kabupaten Pangkep meluncurkan buku berjudul "Saya Orang Pangkep, Saudara: Suatu Pertarungan Identitas Kultural dan Ekonomi Politik Kuliner", Sabtu (24/1/2026), di Aula Rumah Jabatan Bupati. @jejakfaktacom/Humas Pemda Pangkep

Melalui peluncuran buku ini, Sop Saudara tidak lagi sekadar sajian di atas meja. Ia diusung menjadi simbol kebanggaan, penggerak ekonomi, dan duta budaya yang siap bercerita tentang tanah Pangkep kepada dunia.

Jejakfakta.com - PANGKEP - Sop Saudara, hidangan ikonik Pangkep yang biasa menyapa lidah dengan kuahnya yang gurih dan isiannya yang beragam, kini mengisi lembaran baru sebagai pembawa identitas budaya. Forum Lingkar Pena (FLP) Kabupaten Pangkep secara resmi meluncurkan buku berjudul "Saya Orang Pangkep, Saudara: Suatu Pertarungan Identitas Kultural dan Ekonomi Politik Kuliner", Sabtu (24/1/2026), di Aula Rumah Jabatan Bupati.

Acara yang dihadiri lintas generasi, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pegiat literasi, menegaskan bahwa kuliner tidak hanya perkalian rasa, melainkan juga narasi tentang jati diri dan ekonomi.

Dalam sambutannya, Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau mengingatkan bahwa Sop Saudara telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sejak 2022. Namun, esensinya lebih dalam dari sekadar sertifikat. "Ini bukan sekadar soal nama atau merek, tetapi bagaimana kuliner khas seperti Sop Saudara dapat membawa nama daerah dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Pangkep," tegas Bupati yang akrab disapa MYL ini.

Baca Juga : Dianugerahi Satyalancana Wira Karya, Bupati Pangkep: Terima Kasih Bapak Presiden Prabowo

Ia juga melihat kegiatan bedah buku ini sebagai ruang penting untuk menumbuhkan literasi dan berpikir kritis, terutama di tengah arus media sosial yang kerap menggerus minat baca. "Bedah buku bukan hanya tentang membaca, tetapi juga bagaimana memahami isi dan berpikir kritis terhadap gagasan yang disampaikan," ujarnya.

Agus Salim AW, salah satu penulis buku, menjelaskan alasan memilih kuliner sebagai tema. Menurutnya, makanan memiliki kekuatan luar biasa sebagai alat diplomasi budaya atau gastrodiplomasi. "Sangat seksi untuk membahas kuliner ini. Intinya kuliner tidak ada matinya, sebagai sesuatu yang terus menerus dibicarakan," kata Agus.

Ia menyoroti persoalan yang muncul seiring meluasnya popularitas Sop Saudara hingga ke Makassar, yaitu persaingan yang tidak sehat yang justru dapat meminggirkan penjual konvensional di Pangkep. Buku ini, baginya, adalah cara untuk menegaskan kembali identitas asli dan mengembalikan 'kepemilikan' Sop Saudara kepada Pangkep.

Baca Juga : Bupati Pangkep Ajak Masyarakat Maknai Iduladha dengan Keikhlasan dan Kepedulian Sosial

"Kita kembalikan Sop Saudara itu menjadi milik Pangkep, bukan liar ke mana-mana. Dan kita ingin Sop Saudara ini suatu saat bisa menjadi warisan dunia yang dikenal oleh dunia, bukan hanya di Indonesia," harap Agus penuh semangat.

Melalui peluncuran buku ini, Sop Saudara tidak lagi sekadar sajian di atas meja. Ia diusung menjadi simbol kebanggaan, penggerak ekonomi, dan duta budaya yang siap bercerita tentang tanah Pangkep kepada dunia. Sebuah langkah awal yang kuat untuk mengarungi gelombang gastrodiplomasi global, dimulai dari semangkuk sop yang hangat dan penuh makna

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru