Perekonomian Sulsel Tumbuh, Tapi Penduduk Miskin Malah Naik
Perekonomi Sulsel yang terus mengalami pertumbuhan positif ternyata tidak mampu mengurangi atau menekan angka kemiskinan. Mungkin ada program salah sasaran.
Provinsi Sulawesi Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,67% pada periode Juli hingga September 2022. Pada periode yang sama, penduduk miskin September 2022 sebesar 8,66% atau sekitar 782,32 ribu orang atau naik 0,03 % poin atau 4,9 ribu orang dibanding 2021.
Kepala BPS Sulsel, Suntono mengatakan, meningkatkannya jumlah penduduk miskin ini disebabkan adanya kenaikan sejumlah harga barang sebagai penyesuaian terhadap kenaikan harga BBM sehingga menyebabkan terjadinya inflasi.
Data menunjukkan angka kemiskinan meningkat khususnya di wilayah pedesaan. Padahal beberapa tahun belakangan Pemprov Sulsel masif melakukan pembangunan sejumlah infrastruktur di daerah-daerah, dimana salah satu tujuannya adalah untuk membuka akses jalan dari dan ke daerah-daerah terisolir yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Baca Juga : Kemnaker Gandeng TikTok, Perkuat Talenta Ekonomi Digital dan Buka Peluang Kerja Baru
Karena itu adalah data Badan Pusat Statistik (BPS), melihat kondisi itu, Pengamat Ekonomi dari Unhas, Nur Bau Masepe mengatakan, jika perekonomi Sulsel yang terus mengalami pertumbuhan positif ternyata tidak mampu mengurangi atau menekan angka kemiskinan.
Sehingga menurutnya, pertumbuhan tidak selamanya bisa identik jadi indikator kesejahteraan masyarakat. "Bisa saja pertumbuhan itu terjadi bukan karena
sektor pertanian yang merupakan sektor terbesar di Sulsel. Bisa saja sektor yang lain sehingga itu mengakumulasi," ungkap Bau.
Baca Juga : Musrenbang RKPD 2027 Gowa: Akselerasi Ekonomi Melaju, Pemerataan Pembangunan Jadi Fokus Utama
Ada beberapa faktor pemicu terjadinya peningkatan angka kemiskinan di Sulsel ungkapnya. Selain BBM, tarif listrik, juga berpengaruh terhadap kenaikan harga barang sehingga inflasi terjadi.
"Itu kan membuat daya beli masyarakat lemah sehingga kemiskinan bertambah. Mungkin orang-orang di desa tidak mampu lagi beli barang-barang tertentu yang harganya naik. Selain itu, masih ada dampak dari pandemi seperti PHK. Kedua, usaha tidak berkembang sehingga memperkecil pekerjaan. Otomatis menambah orang menganggur, dan akhirnya ujung-ujungnya kemiskinan," urai Bau Masepe.
Sementara itu, juga Pengamat Ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Anas Anwar menduga, kondisi ekonomi tumbuh tapi kemiskinan juga tumbuh terjadi, karena pembangunan di kabupaten/kota yang terus didengungkan Gubernur Sulsel tidak tepat sasaran.
Faktanya, BPS menyajikan data, jumlah kemiskinan semakin bertambah. "Infrastruktur yang dibangun itu kan untuk mempercepat distribusi barang dan mempercepat distribusi hasil-hasil pertanian. Jadi kalau tidak ketemu itu cerita, bisa kita katakan mungkin pembangunan jalan itu tidak tepat sasaran," sebut Anas.
Dia juga menilai, kemungkinan ada indikasi program pembangunan Pemprov Sulsel selama ini dilakukan atau dijalankan tanpa memperhatikan kondisi serta kebutuhan daerah setempat, karena angka kemiskinan meningkat.
"Tida ada bantahan terhadap pembangunan infrastruktur yang dilakukan Sulsel. Tapi kalau infrastruktur yang dibangun itu tidak juga bisa menurunkan angka kemiskinan, artinya tidak tepat sasaran. Apa gunanya dibangun kalau tidak mempercepat akses perdagangan dan segala macam," pungkas Anas. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News