Dari Tarian hingga Drama Kolosal, Padoe Menyapa Zaman: Wabup Puspawati Ajak Generasi Muda Jaga Tradisi
Mohola Padoe, Meriban Malotu, menekankan bahwa pagelaran ini memiliki makna strategis dalam memperkuat solidaritas dan arah masa depan komunitas Padoe.
Jejakfakta.com, LUWU TIMUR – Denting gong membuka panggung budaya yang penuh warna di Lapangan Karelai, Kecamatan Wasuponda, Jumat (27/03/2026). Dari gemulai tarian tradisional hingga megahnya drama kolosal, Pagelaran Budaya Musyawarah Adat Padoe tampil sebagai narasi utuh tentang identitas, sejarah, dan masa depan masyarakat Padoe.
Sejak awal acara, suasana sudah dipenuhi antusiasme warga. Ragam tarian tradisional yang ditampilkan tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga menyimpan makna filosofis tentang kehidupan, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam. Deretan devile budaya semakin menambah semarak, menghadirkan simbol-simbol adat yang diwariskan lintas generasi.
Puncak pertunjukan hadir melalui drama kolosal yang mengangkat kisah perjuangan Suku Padoe. Dengan balutan artistik dan alur yang kuat, pertunjukan ini menjadi pengingat kolektif akan sejarah dan jati diri masyarakat, sekaligus menyentuh emosi penonton yang larut dalam setiap adegan.
Baca Juga : PN Malili Kabulkan Konsinyasi Lahan PSN, Petani Laoli Nilai Ancaman Penggusuran Kian Nyata
Wakil Bupati Luwu Timur, Puspawati Husler, menegaskan bahwa kekuatan budaya seperti yang ditampilkan dalam pagelaran ini harus terus dijaga di tengah arus globalisasi.
“Saya bangga melihat semangat luar biasa masyarakat. Ini menunjukkan bahwa budaya kita masih sangat dicintai,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya soal ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga penguatan nilai-nilai budaya sebagai fondasi karakter masyarakat.
Baca Juga : 84 Anak Luwu Timur Siap Taklukkan Olimpiade Aritmatika Nasional 2026 di Makassar
Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi turut ambil bagian sebagai pelaku budaya.
“Budaya harus terus diajarkan kepada generasi muda. Kita ingin nilai-nilai ini tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tambahnya.
Baca Juga : Percepat Status Nasional, Bupati Luwu Timur Lobi Badan Geologi untuk Geopark Matano
Senada dengan itu, Mohola Padoe, Meriban Malotu, menekankan bahwa pagelaran ini memiliki makna strategis dalam memperkuat solidaritas dan arah masa depan komunitas Padoe.
“Ini adalah momentum untuk memperkuat komitmen menuju masyarakat Padoe yang lebih kuat dan berdaya,” katanya.
Ia juga menitipkan harapan besar kepada generasi muda agar terus berkarya dan menjaga warisan leluhur.
Baca Juga : Petani Laoli Tolak Santunan PSN, Sidang Konsinyasi Jadi Arena Perebutan Keadilan di Luwu Timur
“Teruslah berkarya, karena masa depan Padoe ada di tangan kalian,” pesannya.
Pembukaan acara ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Bupati, didampingi tokoh adat, anggota DPRD, unsur Forkopimda, serta jajaran pemerintah daerah.
Lebih dari sekadar hiburan, pagelaran ini menjadi ruang hidup bagi tradisi untuk terus berkembang. Dari tarian yang sarat makna hingga drama kolosal yang menggugah, budaya Padoe membuktikan dirinya tetap relevan—menjadi akar sekaligus arah dalam membangun masa depan di tengah modernisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News