Kementan Siapkan Langkah Mitigasi Hadapi Kemarau Panjang 2026, Pompanisasi Jadi Kunci
Strategi menghadapi kemarau tidak hanya bertumpu pada intervensi sarana, tetapi juga pada penguatan sistem peringatan dini, pendampingan intensif, serta penyesuaian kalender tanam berbasis kondisi iklim aktual.
Jejakfakta.com - JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan kesiapan menghadapi potensi kemarau panjang tahun 2026 dengan langkah mitigasi terukur berbasis kondisi lapangan. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan produksi pangan nasional tetap dalam kendali meskipun menghadapi dinamika iklim yang diperkirakan lebih panjang dan intens.
“Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah strategis, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan berbasis early warning system, optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, serta pemanfaatan pompanisasi dan perpipaan,” ujar Mentan Amran.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian menegaskan bahwa pompanisasi menjadi instrumen kunci dalam menjaga stabilitas produksi saat kemarau. Pada periode 2023–2025, Kementan telah menyalurkan 80.158 unit pompa air, dan pada tahun 2026 ditargetkan 11.000 unit pompa air untuk seluruh Indonesia.
Baca Juga : Hadiri Pesta Panen, Bupati Irwan Pastikan Pengairan Permanen bagi Desa Tawakua
Hingga 20 April 2026, dari alokasi pupuk subsidi sebesar 9,55 juta ton, masih tersedia sekitar 7 juta ton yang dapat dimanfaatkan petani. “Ketersediaan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memberikan keringanan biaya produksi bagi petani,” terang Mentan Amran.
Di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, petani mulai merasakan manfaat intervensi pemerintah. Junaedi, anggota Kelompok Tani Cibogor, menyampaikan bahwa akses pupuk subsidi kini lebih mudah dan terjangkau. “Alhamdulillah harga di lapangan sesuai, biaya produksi saya berkurang, jadi lebih hemat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya bantuan pompa air yang diterima sejak 2023. “Alhamdulillah dengan bantuan pompa air dari pemerintah, sekarang jadi aman dan nyaman. Kalau tidak ada pompa air itu, tidak mungkin kami bisa mengairi lahan,” ungkapnya.
Baca Juga : Bupati Irwan Tegaskan Asa Manfaat Program Cetak Sawah Harus Dirasakan Masyarakat
Kementan menegaskan strategi menghadapi kemarau tidak hanya bertumpu pada intervensi sarana, tetapi juga pada penguatan sistem peringatan dini, pendampingan intensif, serta penyesuaian kalender tanam berbasis kondisi iklim aktual. Dengan pendekatan ini, risiko terhadap produksi dapat dikelola secara sistematis dan terukur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News