Warga Bongkar Sendiri Lapak 10 Tahun di Atas Drainase, Sinyal Baru Kesadaran Kota Makassar
Enam PKL di Tamalanrea Makassar membongkar lapak yang berdiri 10 tahun di atas drainase secara sukarela. Aksi ini jadi contoh kesadaran warga menjaga kota.
Jejakfakta.com, MAKASSAR – Perubahan wajah kota tak selalu dimulai dari penertiban aparat. Di Kecamatan Tamalanrea, justru warga sendiri yang mengambil langkah lebih dulu.
Di RW 05 Tamala’lang, Kelurahan Parangloe, sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) secara sukarela membongkar lapak mereka yang selama lebih dari 10 tahun berdiri di atas saluran drainase. Tanpa tekanan, tanpa penertiban paksa—hanya kesadaran.
Langkah ini menjadi potret langka sekaligus harapan baru dalam penataan kota Makassar.
Baca Juga : BPBD Makassar Salurkan Air Bersih ke 23 Titik, Enam Kecamatan Jadi Prioritas Kekeringan
Camat Tamalanrea, Andi Patiroi, menyebut ada enam kios yang dibongkar langsung oleh pemiliknya. Bangunan tersebut selama ini menutup saluran air dan mengganggu fungsi fasilitas umum.
“Kurang lebih ada enam kios yang dibongkar mandiri, dan itu sudah berdiri lebih dari satu dekade di atas drainase,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Pembongkaran ini tak sekadar soal mematuhi aturan. Lebih dari itu, ini mencerminkan perubahan cara pandang warga terhadap ruang publik.
Baca Juga : SMEP 2026 Berlanjut ke Biringkanaya dan Tamalanrea, Melinda Aksa Tekankan PKK Harus Responsif
Selama ini, area tersebut tidak hanya digunakan untuk aktivitas ekonomi, tetapi juga mengorbankan fungsi vital kota—mulai dari aliran air hingga hak pejalan kaki. Kini, drainase yang sempat tertutup mulai terbuka kembali, memberi harapan bagi pencegahan genangan dan banjir.
Andi Patiroi mengapresiasi langkah tersebut sebagai bentuk kolaborasi nyata antara masyarakat dan pemerintah.
“Ini sinyal positif bahwa kesadaran warga tumbuh. Kota yang bersih dan tertata adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Baca Juga : Jelajah Sampah Titik ke-14, Appi Ajak Warga Mulai Pilah Sampah dari Rumah
Pendekatan yang digunakan pemerintah kecamatan pun menitikberatkan pada cara persuasif dan humanis. Edukasi dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memahami bahwa penataan kota bukan sekadar penertiban, melainkan kebutuhan bersama.
“Komunikasi yang baik jadi kunci. Kami ingin perubahan ini lahir dari kesadaran, bukan paksaan,” jelasnya.
Aksi pembongkaran mandiri ini kini menjadi contoh bagi wilayah lain di Makassar. Di tengah kompleksitas perkotaan, langkah sederhana dari warga ini justru memberi dampak besar: memperlancar drainase, mengurangi risiko banjir, dan mengembalikan fungsi pedestrian.
Baca Juga : Ducting Sharing Makassar Masuk Tahap Pemantapan, Appi Siapkan Investasi dan Perseroda Infrastruktur
Sebuah pesan kuat pun muncul—kota yang nyaman, bersih, dan indah bisa dimulai dari kesadaran warganya sendiri. (rls)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News