Dari Pekarangan ke Pasar MBG, Urban Farming Makassar Mulai Gerakkan Ekonomi Warga
Urban farming bukan sekadar aktivitas menanam, tetapi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan keluarga dan menekan inflasi di tengah naiknya harga sejumlah bahan pokok.
Jejakfakta.com, MAKASSAR — Program urban farming atau pertanian perkotaan terus didorong menjadi gerakan kolektif di Kota Makassar. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, meminta masyarakat memaksimalkan pekarangan rumah untuk memproduksi kebutuhan pangan mandiri sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.
Komitmen itu ditegaskan Munafri saat menghadiri kegiatan urban farming dan silaturahmi bersama tokoh masyarakat serta Ketua RT/RW di RW 02, RT 03, Kelurahan Paccerakkang, Selasa (19/5/2026).
Menurut Munafri, urban farming bukan sekadar aktivitas menanam, tetapi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan keluarga dan menekan inflasi di tengah naiknya harga sejumlah bahan pokok.
Baca Juga : Penertiban PKL di Makassar Dikritik, Lapar Sulsel: Pemerintah Jangan Hanya Kejar Estetika Kota
“Urban Farming ini bukan hanya soal menanam, tapi bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan lahan terbatas untuk menghasilkan kebutuhan pangan sehari-hari,” ujarnya.
Munafri mengapresiasi konsep pertanian terintegrasi yang dikembangkan warga setempat, termasuk budidaya ikan, sayuran, hingga ternak dalam satu kawasan. Ia menilai pola tersebut menjadi contoh konkret pemanfaatan lahan sempit yang produktif dan berkelanjutan.
“Ini luar biasa. Ada ayam, ikan, sayur, semua terintegrasi dalam satu kawasan. Ini harus menjadi contoh bagi masyarakat lain untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan yang dimiliki,” katanya.
Baca Juga : Pemkot Makassar Dekatkan Layanan Adminduk ke Kelurahan, Warga Biringkanaya Kini Tak Perlu Antre Jauh
Pria yang akrab disapa Appi itu menyebut sejumlah wilayah di Makassar lebih dulu membuktikan keberhasilan urban farming. Di Kecamatan Tamalate, kelompok warga mampu membudidayakan kangkung dengan masa panen sekitar 20–21 hari dan menghasilkan hingga 150 kilogram per panen.
Hasil produksi tersebut bahkan telah terserap pasar lokal, termasuk program MBG (Makanan Bergizi Gratis) yang membutuhkan suplai pangan rutin setiap hari.
“Ini yang kita harapkan, ada siklus ekonomi yang berjalan. Masyarakat dapat penghasilan tambahan, sementara kebutuhan pasar juga terpenuhi,” jelasnya.
Baca Juga : Satgas Drainase Bergerak Cepat, Genangan di Titik Viral Pettarani Berhasil Surut
Selain fokus pada produksi pangan, Pemkot Makassar juga mendorong pengelolaan limbah rumah tangga menjadi pupuk kompos sebagai bagian dari ekosistem pertanian berkelanjutan.
Munafri meminta camat dan lurah lebih aktif membuka akses pendampingan bagi warga agar program urban farming semakin luas dan terorganisir di seluruh kelurahan.
Tak hanya tanaman pangan, Pemkot Makassar juga mulai mengembangkan kawasan berbasis tanaman herbal yang dinilai memiliki potensi ekonomi dan bisa menjadi identitas wilayah.
Baca Juga : Makassar Bidik Transportasi Modern, Munafri Tawarkan Skema BTS dan Subsidi APBD untuk Bus Kota Terintegrasi
“Ini potensi besar. Kalau dikelola dengan baik, bisa menjadi identitas wilayah sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkot Makassar akan menyalurkan bantuan bibit, sarana kandang ternak, hingga pendampingan teknis guna memastikan keberlanjutan program.
Appi juga menyoroti kenaikan harga telur yang mulai terjadi. Karena itu, ia mendorong masyarakat mulai memproduksi kebutuhan pangan sendiri di pekarangan rumah.
Baca Juga : Pemkot Makassar Benahi Total SPMB 2026, Server Dipisah dan Aduan Dibuka Demi Cegah Kendala
Ia berharap urban farming tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama yang mampu memperkuat ekonomi rumah tangga dan ketahanan pangan kota.
“Ini harus menyebar luas ke seluruh kelurahan. Bahkan di wilayah yang lahannya terbatas pun tetap bisa dilakukan,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News