Dari Kalah Lawan Kotak Kosong hingga Jadi Wali Kota, Munafri Motivasi Mahasiswa FH Unhas Pantang Menyerah

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, saat menghadiri kuliah umum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Jumat (22/5/2026). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkot Makassar

Munafri Arifuddin atau Appi membagikan kisah perjuangannya dari penyiar radio, kalah dua kali di Pilkada, hingga menjadi Wali Kota Makassar saat kuliah umum di FH Unhas.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Kisah jatuh bangun hidup Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, sukses menyita perhatian ratusan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin dalam kuliah umum yang digelar, Jumat (22/5/2026).

Di hadapan mahasiswa, sosok yang akrab disapa Appi itu blak-blakan menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari bekerja sebagai penyiar radio demi membiayai kuliah, kalah dua kali di Pilkada Makassar, hingga akhirnya dipercaya menjadi Wali Kota Makassar periode 2025-2030.

Kuliah umum bertema “Sinergi Pemerintahan, Hukum dan Entrepreneurship dalam Menciptakan Inovasi Pemerintahan yang Berdampak di Kota Makassar” itu tak sekadar membahas birokrasi dan hukum, tetapi juga menjadi ruang motivasi bagi generasi muda untuk berani bermimpi dan bangkit dari kegagalan.

Baca Juga : Hari Ini Musda Golkar Sulsel Dibuka Bahlil, IAS Hampir Pasti Terpilih Aklamasi

“Kesuksesan adalah perjalanan yang dibangun melalui visi yang jelas, konsistensi, dan ketekunan. Tidak ada jalan pintas untuk mencapainya,” ujar Appi.

Dalam paparannya, Appi menegaskan Kota Makassar membutuhkan lebih banyak entrepreneur karena pertumbuhan kota selama ini bertumpu pada sektor perdagangan dan jasa.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Makassar pernah mencapai 5,3 persen pada 2025, melampaui rata-rata nasional dan Sulawesi Selatan. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Makassar juga masuk tujuh besar nasional.

Baca Juga : IAS Jadi Kandidat Pertama Kembalikan Formulir Calon Ketua Golkar Sulsel, Pengembalian Dijadwalkan Hari Ini

“Kota ini tumbuh dari perdagangan dan jasa. Karena itu kita membutuhkan lebih banyak entrepreneur,” katanya.

Menurut Ketua Golkar Makassar tersebut, ilmu hukum memiliki peran penting dalam membangun dunia usaha karena menjadi dasar memahami aturan dan etika dalam mengambil keputusan.

“Hukum menjadi rambu-rambu kita dalam melangkah, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah,” tuturnya.

Baca Juga : Munafri dan Coach Darije Satukan Semangat Kebangkitan PSM Makassar: "Ewako PSM!"

Appi juga menyoroti rendahnya jumlah entrepreneur di Indonesia yang belum mencapai 4 persen dari total populasi sekitar 280 juta jiwa. Karena itu, ia menilai sinergi antara pemerintahan, hukum, dan entrepreneurship menjadi fondasi utama pembangunan kota modern.

“Pemerintahan membutuhkan inovasi untuk pelayanan publik, hukum menjamin inovasi tetap berada dalam koridor aturan, dan entrepreneurship membawa cara berpikir kreatif serta solutif,” jelasnya.

Namun bagian paling menarik dalam kuliah umum itu adalah ketika Appi menceritakan pengalaman pahitnya di dunia politik.

Baca Juga : Dinsos dan RSUD Daya Raih Penghargaan Ombudsman RI, Bukti Transformasi Layanan Publik Makassar Makin Berkualitas

Ia mengungkapkan pernah kalah melawan kotak kosong pada Pilkada Makassar 2018. Kekalahan itu membuatnya sempat kehilangan kepercayaan diri.

“Selama tujuh bulan saya tidak pernah ke warung kopi. Bukan karena kalahnya, tapi malunya,” ungkap Appi yang disambut riuh mahasiswa.

Pada Pilkada 2020, Appi kembali maju bersama Rahman Bando di tengah pandemi COVID-19. Namun, ia kembali harus menerima kekalahan.

Baca Juga : Makassar Jadi Tuan Rumah Perdana Local Fest 2026 di Indonesia Timur, Bidik 15 Ribu Pengunjung dan Dongkrak Ekonomi Kreatif

Meski dua kali gagal, Appi memilih bangkit. Pada Pilkada Makassar 2024, ia maju bersama Aliyah Mustika Ilham dan berhasil memenangkan kontestasi dengan raihan sekitar 54 persen suara.

“Tidak ada perjuangan yang dilakukan sampai tuntas yang berakhir sia-sia. Berjuanglah sampai tuntas untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan,” pesannya kepada mahasiswa.

Appi juga mengenang masa mudanya yang penuh keterbatasan ekonomi. Ia mengaku hanya dibiayai orang tua selama satu semester saat kuliah di Fakultas Hukum Unhas, selebihnya ia harus bekerja sambil kuliah sebagai penyiar radio.

Pengalaman hidup itu, kata dia, membentuk mental kerja keras hingga akhirnya dipercaya memimpin berbagai perusahaan, menjadi pimpinan PSM Makassar, hingga menjabat perwakilan kehormatan Republik Kroasia di Indonesia.

Saat memimpin PSM Makassar pada 2016, Appi melakukan reformasi besar-besaran di tengah kondisi klub yang terpuruk akibat sanksi FIFA. Upaya itu akhirnya membuahkan hasil dengan keberhasilan PSM menjuarai Piala Indonesia 2019 setelah puasa trofi selama 19 tahun.

Menutup kuliah umumnya, Appi mengajak mahasiswa Fakultas Hukum Unhas menjadi motor penggerak lahirnya kebijakan publik yang cerdas dan berpihak kepada masyarakat.

“Mari jadikan Fakultas Hukum Unhas sebagai motor penggerak lahirnya kebijakan publik yang cerdas, berkeadilan, dan berpihak pada rakyat,” pungkasnya. (rls)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Samsir
Berita Terbaru