Dari Keluhan Sampah Jadi Kampung Zero Waste, BSU Nurul Ilmi Manggala Bangun Ekosistem Lingkungan Berkelanjutan

Gerakan lingkungan di Cluster Berlian Permai (CBP), RT 4 RW 7, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar,. Saat ini menjadi pusat edukasi lingkungan berbasis masyarakat melalui Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi, yang mengusung konsep zero waste, pengolahan sampah organik, hingga pengembangan urban farming. @Jejakfakta/dok. Humas Pemkot Makassar

Berawal dari keluhan sampah, BSU Nurul Ilmi di Cluster Berlian Permai Manggala berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan, pengolahan kompos, urban farming, dan gerakan zero waste berbasis masyarakat.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Berawal dari keresahan warga terhadap persoalan sampah yang semakin kompleks, sebuah gerakan lingkungan tumbuh dan berkembang di Cluster Berlian Permai (CBP), RT 4 RW 7, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala, Kota Makassar.

Gerakan yang awalnya hanya bertujuan mengurangi timbunan sampah rumah tangga itu kini menjelma menjadi pusat edukasi lingkungan berbasis masyarakat melalui Bank Sampah Unit (BSU) Nurul Ilmi, yang mengusung konsep zero waste, pengolahan sampah organik, hingga pengembangan urban farming.

Di tengah berbagai tantangan pengelolaan sampah perkotaan, warga CBP memilih tidak sekadar mengeluh. Mereka membangun solusi bersama dengan semangat gotong royong dan perubahan perilaku dari tingkat rumah tangga.

Baca Juga : Jelang Kedatangan 32 Duta Besar, Wali Kota Ajak APINDO Jadi Motor Gerakan Lingkungan di Makassar

Gerakan tersebut sejalan dengan visi Ketua RT 4 RW 7 Cluster Berlian Permai, Prof. Muhammad Zubair Muis Alie, yang ingin mewujudkan kawasan permukiman yang bersih, sehat, nyaman, tertata, bahkan bebas rokok.

Inspirasi itu lahir dari pengalaman Prof. Zubair selama menempuh pendidikan di Jepang, yang dikenal memiliki budaya hidup bersih, disiplin, dan peduli lingkungan.

Ketua Umum BSU Nurul Ilmi, Andi Nirma Naim, mengatakan pembentukan bank sampah berangkat dari kesadaran bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas kebersihan.

Baca Juga : Munafri Gerakkan RT/RW Kelola Sampah dari Rumah, Siapkan Hadiah Rp100 Juta untuk Lingkungan Terbaik

"Kami melihat persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan. Harus ada perubahan perilaku dari warga," ujar Andi Nirma, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, perubahan sistem pengelolaan dan pengangkutan sampah yang mulai dirasakan warga pada awal 2025 menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa sampah harus diselesaikan dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Dari situlah lahir gagasan mendirikan BSU Nurul Ilmi, bukan sekadar tempat menabung sampah bernilai ekonomis, melainkan pusat edukasi dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Baca Juga : Makassar Percepat Transformasi TPA Antang: Dari Open Dumping ke Sanitary Landfill, Target Tuntas Bertahap

Menuju Kawasan Percontohan Pengelolaan Sampah

Sejak awal, BSU Nurul Ilmi dirancang sebagai bagian dari upaya menjadikan Cluster Berlian Permai sebagai kawasan percontohan pengelolaan sampah berkelanjutan.

Program ini terintegrasi dengan konsep permukiman ramah lingkungan yang juga mendukung pengembangan Masjid Peduli Lingkungan melalui berbagai aktivitas edukatif, termasuk penerapan konsep zakat hijau.

Baca Juga : Produksi Sampah Capai 1.036 Ton per Hari, Pemkot Siapkan Reward dan Punishment untuk Dorong Perubahan Perilaku

Berbagai program disusun secara bertahap melalui peta jalan bulanan dan tahunan yang berfokus pada edukasi, perubahan perilaku masyarakat, pemilahan sampah dari rumah, pengolahan sampah organik, hingga pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.

Saat ini, salah satu fokus utama yang terus didorong adalah memastikan seluruh warga mampu memilah sampah secara mandiri dan konsisten dari rumah masing-masing.

"Progresnya bertahap. Kami ingin semua warga mendapat pendampingan agar mampu memilah sampah sejak dari rumah," kata Andi Nirma.

Baca Juga : HLH 2026 di Makassar: Munafri-Aliyah Gaungkan Gerakan Lingkungan dari Rumah

Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan

Perjalanan BSU Nurul Ilmi tidak berjalan sendiri. Gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kelurahan Tamangapa, Pemerintah Kecamatan Manggala, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian dan Perikanan (DP2), komunitas pemerhati lingkungan, hingga pengurus RT/RW setempat.

Dukungan juga datang dari pihak pengembang perumahan yang menyediakan bantuan sarana-prasarana, peminjaman lahan untuk aktivitas lingkungan, hingga dukungan pendanaan berbagai kegiatan warga.

Selain itu, sejumlah akademisi, pegiat lingkungan, media lingkungan, hingga komunitas penggerak perubahan turut memberikan pendampingan dan masukan dalam pengembangan konsep pengelolaan sampah di kawasan tersebut.

Belum lama ini, kawasan tersebut juga mendapat kunjungan dari Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang meninjau langsung berbagai program lingkungan yang dijalankan warga.

"Kami tidak bisa berjalan sendiri. Banyak pihak yang mendukung, memberikan ilmu, pendampingan, hingga motivasi," ujar Andi Nirma.

Sampah Organik Diolah Jadi Kompos, Urban Farming Jadi Penggerak Ekonomi

Salah satu inovasi terbaru yang dikembangkan BSU Nurul Ilmi adalah pembangunan pusat pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.

Lokasinya berada berdampingan dengan kebun PKK dan Kelompok Wanita Tani (KWT), sehingga membentuk ekosistem yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan pertanian perkotaan.

Saat ini terdapat dua unit teba atau lubang pengolahan organik yang sedang dalam proses menghasilkan kompos.

Ke depan, kompos tersebut akan digunakan untuk mendukung program urban farming yang tengah dikembangkan warga, baik di lahan kosong, taman lingkungan, maupun pekarangan rumah.

"Urban farming akan menjadi buyer utama kompos yang kami produksi," jelas Andi Nirma.

Konsep tersebut dirancang untuk menciptakan siklus ekonomi berkelanjutan, di mana hasil pengolahan sampah dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

BSU Nurul Ilmi bahkan tengah merancang pasar internal bagi berbagai produk hasil pengolahan sampah, baik organik maupun nonorganik, sehingga nilai ekonomi yang tercipta dapat terus berputar di dalam kawasan.

"Kami ingin nilai ekonominya tetap berputar di dalam kawasan, kecuali untuk sampah residu yang memang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir," tambahnya.

Membangun Budaya, Bukan Sekadar Membersihkan Lingkungan

Bagi Andi Nirma, tujuan akhir dari gerakan yang dibangun warga CBP bukan hanya menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi membentuk budaya baru yang membuat masyarakat sadar dan bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.

Melalui tim Agent of Change, warga terus melakukan edukasi, sosialisasi, dan pendampingan kepada masyarakat agar pengelolaan sampah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

"Kami ingin membuktikan bahwa lingkungan bersih bukan karena membayar petugas kebersihan lebih banyak, tetapi karena masyarakatnya memiliki kesadaran dan budaya hidup bersih," tegasnya.

Kisah BSU Nurul Ilmi menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana. Dari sebuah keluhan tentang sampah, warga Cluster Berlian Permai berhasil membangun gerakan kolektif yang kini tumbuh menjadi model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat menuju kawasan zero waste yang berkelanjutan. (rls)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Samsir
Berita Terbaru