Keliling 13 Daerah, IAS Temukan Kerinduan yang Belum Hilang di Tubuh Golkar Sulsel

Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) disambut meriah saat roadshow dalam rangka konsolidasi pasca-Musda. @Jejakfakta/Ist.

Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mendengar langsung berbagai persoalan di daerah. Mulai dari kaderisasi, ekonomi masyarakat, pertanian, hilirisasi, pariwisata, hingga hubungan antara struktur partai dan anggota legislatif.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Tiga belas daerah telah disambangi Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dalam rangka konsolidasi pasca-Musda. Dari perjalanan itu, satu kesan kuat muncul: IAS ternyata belum benar-benar menjadi orang asing di daerah.

Di sejumlah wilayah, kedatangannya disambut dengan nostalgia, pengakuan atas rekam jejak, hingga harapan agar kepemimpinannya membawa perubahan bagi Golkar Sulsel.

Di Tana Toraja, misalnya, IAS disambut dengan ikatan emosional. Ia disebut memiliki hubungan dengan daerah tersebut sebagai keturunan Puang Tondong sekaligus kader terbaik Tana Toraja.

Baca Juga : Bukan Kejar Kemenangan, IAS Bidik Golkar Kuasai Kursi di Semua Tingkatan

Dalam kunjungan itu, IAS bahkan kembali menerima topi Toraja untuk kedua kalinya. Pemberian tersebut dilakukan oleh dua Ketua DPD Golkar Tana Toraja yang berbeda pada kesempatan berbeda.

Suasana serupa terasa di Luwu Utara. Ketua Harian Golkar Luwu Utara Basir menyebut IAS bukan sosok asing bagi kader di daerah. Kompetensi IAS juga dinilai tidak perlu diragukan.

Sementara di Palopo, Ketua DPD Golkar Palopo Rachmat Masri Bandaso mengingat kembali kiprah IAS saat memimpin Partai Golkar. Ia berharap Palopo ke depan dapat kembali menjadi salah satu basis kuat partai berlambang pohon beringin tersebut.

Baca Juga : Baso: Kepemimpinan Visioner IAS Jadi Modal Golkar Sulsel Menuju Kejayaan

Harapan terhadap IAS juga disampaikan Ketua DPD Golkar Wajo dr. Baso Rahmanuddin. Menurutnya, pengalaman IAS memimpin Kota Makassar selama dua periode menjadi modal penting dalam menjalankan roda organisasi Golkar Sulsel.

“Pak IAS dua periode menjadi Wali Kota Makassar. Pembangunannya masih kita rasakan sampai saat ini. Beliau pemimpin yang visioner, bukan hanya dalam pemerintahan, tetapi juga dalam memimpin partai,” kata Baso.

Di Luwu Timur, Ketua DPD Golkar Luwu Timur Aripin bahkan menyebut IAS sebagai tokoh pemersatu Sulsel. Ia optimistis kepemimpinan IAS dapat membawa Golkar kembali merebut posisi pimpinan DPRD.

Baca Juga : IAS: Silaturahmi Masih Lebih Kuat dari Politik Uang

Bukan Sekadar Roadshow

Namun, perjalanan IAS ke 13 daerah tidak berhenti pada agenda silaturahmi dan menerima sambutan kader.

Di Toraja Utara, misalnya, Ketua DPD Golkar Toraja Utara Johannes Bassang secara terbuka mengakui masih adanya kebutuhan pembenahan internal partai.

Baca Juga : IAS Minta Anggota DPRD Golkar Tak Lupakan Kader Saat Reses

IAS kemudian membawa agenda konsolidasi organisasi yang lebih terukur. Targetnya, konsolidasi kabupaten/kota rampung hingga akhir 2026, sementara struktur organisasi hingga tingkat kecamatan, desa dan kelurahan ditargetkan tuntas pada 2027.

Dalam perjalanan tersebut, IAS juga mendengar langsung berbagai persoalan di daerah. Mulai dari kaderisasi, ekonomi masyarakat, pertanian, hilirisasi, pariwisata, hingga hubungan antara struktur partai dan anggota legislatif.

Dari berbagai pertemuan itu, pesan IAS semakin tegas: Musda telah selesai. Saatnya Golkar Sulsel kembali bekerja.

Baca Juga : IAS: September, Golkar Sulsel Mulai Survei Calon Ketua DPD Kabupaten/Kota

Konsolidasi organisasi, penguatan kader, membangun kedekatan dengan masyarakat, serta meningkatkan perolehan kursi legislatif menjadi agenda yang harus dikerjakan secara bersama-sama.

IAS menyadari target tersebut tidak mungkin diwujudkan hanya dengan mengandalkan dirinya sebagai ketua.

“Tidak mungkin saya bekerja sendiri. Apa yang sudah kita targetkan juga tidak mungkin tanpa upaya bersama. Kita membutuhkan soliditas pengurus dan kader,” kata IAS.

Kerinduan yang Belum Hilang

Tiga belas daerah memiliki karakter sosial dan dinamika politik yang berbeda. Namun, dari seluruh perjalanan tersebut, terlihat satu benang merah: IAS masih memiliki ruang dalam ingatan kader dan masyarakat daerah.

Ada yang mengingat rekam jejak kepemimpinannya. Ada yang menyebutnya bukan orang asing. Ada yang menyambutnya sebagai bagian dari keluarga daerah. Ada pula yang menitipkan harapan terhadap masa depan Golkar Sulsel di bawah kepemimpinannya.

Bahkan, dalam sejumlah pertemuan, muncul doa dan harapan agar perjalanan politik IAS dapat berlanjut ke level yang lebih tinggi.

IAS memang telah meninggalkan panggung pemerintahan daerah. Namun, perjalanan 13 daerah memperlihatkan bahwa jejak kepemimpinannya belum sepenuhnya hilang.

Justru dari sambutan, nostalgia dan harapan yang muncul, terlihat bahwa ada kerinduan terhadap sosok IAS yang belum benar-benar selesai.

Kini tantangannya adalah mengubah kerinduan tersebut menjadi energi organisasi: memperkuat kader, merapikan struktur, mendekatkan partai dengan masyarakat, dan membawa Golkar kembali menjadi kekuatan politik utama di Sulawesi Selatan. (rls)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Erwin Ijarta
Berita Terbaru