Protes Debu Tambang PT Askon di Morowali Berujung Ricuh, Kendaraan dan Alat Berat Terbakar
Protes warga Desa Matarape, Morowali, terkait debu aktivitas PT Askon berujung ricuh. Sejumlah kendaraan dan alat berat dilaporkan terbakar.
Jejakfakta.com, MOROWALI — Keluhan warga terhadap debu dari aktivitas pengangkutan material PT Astima Konstruksi (Askon) di Desa Matarape, Kecamatan Sombori Kepulauan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, berujung kericuhan pada Jumat (2/10/2026).
Aksi warga yang sebelumnya dilakukan dengan memblokade akses jalan hauling menuju kawasan pelabuhan khusus perusahaan kemudian berkembang menjadi insiden pembakaran. Sejumlah kendaraan dan alat berat, termasuk ekskavator, dilaporkan terbakar dalam kericuhan tersebut.
Protes warga disebut dipicu debu yang muncul dari aktivitas pengangkutan material dan menyebar hingga ke kawasan permukiman. Warga meminta perusahaan dan pemerintah memberikan penanganan terhadap dampak operasional yang mereka rasakan.
Baca Juga : Makassar–Palu Jajaki Kerja Sama City to City, Munafri: Sinergi Jadi Kunci Pembangunan
Persoalan tersebut kini berada dalam dua sisi yang perlu ditangani secara bersamaan: pengamanan dan proses hukum atas kerusakan fasilitas perusahaan, serta pemeriksaan terhadap keluhan warga mengenai dampak aktivitas operasional perusahaan.
Kapolres Morowali AKBP Reza Khomeini mengatakan kepolisian telah melakukan langkah pengamanan untuk mengendalikan situasi di lokasi.
“Kami berupaya mengendalikan situasi secara persuasif, namun tetap tegas,” kata Reza.
Baca Juga : Hadiri Puncak HUT Morowali, Wabup Lutim Puspawati Tekankan Pentingnya Keseimbangan Industri dan Lingkungan
Personel Polres Morowali bersama Polres Konawe Utara dikerahkan untuk mengamankan lokasi. Pengerahan personel dari Polres Konawe Utara dilakukan karena wilayah hukumnya berada paling dekat dengan site PT Askon.
Selain mengamankan lokasi, kepolisian melakukan verifikasi dan pendataan terhadap rangkaian kejadian yang berlangsung. Penyelidikan juga dilakukan untuk mengidentifikasi pihak yang diduga bertanggung jawab atas perusakan dan pembakaran fasilitas perusahaan.
Reza meminta masyarakat menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang berpotensi memperluas konflik.
Baca Juga : Nahas! Imam Masjid di Morowali Utara Ditikam Saat Pimpin Salat Subuh
Ia mengimbau persoalan tersebut diselesaikan melalui mekanisme hukum, sehingga setiap pihak yang terlibat dapat dimintai pertanggungjawaban berdasarkan bukti dan hasil penyelidikan.
Di sisi lain, keluhan warga mengenai debu dan dampak aktivitas pengangkutan material tetap menjadi persoalan yang perlu diperiksa secara transparan.
Klaim mengenai kualitas udara maupun dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan keluhan warga. Pemeriksaan lapangan dan data pengukuran diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya serta mengetahui sumber dan tingkat dampaknya.
Baca Juga : Pekerja Perusahaan Nikel PT ITSS di Morowali Tewas Tertimpa Gulungan Baja
Dengan demikian, penyelesaian konflik tidak hanya berkaitan dengan penanganan kericuhan dan dugaan perusakan fasilitas, tetapi juga bagaimana keluhan warga terhadap aktivitas perusahaan ditindaklanjuti secara terbuka.
Pemeriksaan terhadap dampak operasional perusahaan menjadi penting agar persoalan yang awalnya muncul dari keluhan lingkungan tidak terus berkembang menjadi konflik antara masyarakat dan perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News