Diberi Amanah Menangkan Golkar di Sulsel, Hasrullah Yakin IAS Mampu, Ini Syaratnya
Hasrullah menilai IAS mampu membawa Golkar Sulsel meraih kemenangan pada Pemilu 2029 dengan memperkuat konsolidasi, media sosial, dan keterlibatan generasi muda.
Jejakfakta.com, MAKASSAR – Ilham Arief Sirajuddin (IAS) resmi menakhodai DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk periode 2025–2030.
Dalam kepengurusan DPD I Partai Golkar Sulsel, IAS didampingi 198 orang pengurus.
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Sarmuji, dalam arahannya menyampaikan bahwa Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, secara tegas meminta seluruh DPD di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota untuk meningkatkan perolehan kursi di DPR dan DPRD.
Baca Juga : Maman Abdurahman Dorong Program UMKM Masuk Sulsel, Ajak Lawan Dominasi Produk Asing
“Saya ingin menekankan beberapa hal dalam pelantikan ini. Pertama, kita punya dua tugas sesuai dengan hasil Munas dan ini sering kali disampaikan ketua umum kita,” ucap Sarmuji usai melantik Ketua dan Pengurus DPD I Partai Golkar Sulsel di Hotel Four Points Makassar, Minggu (25/10/2026).
“Pertama adalah menaikkan kursi dan tadi sudah diikrarkan bersama-sama oleh para pengurus, oleh para ketua DPD kabupaten/kota agar kita bisa menaikkan kursi,” katanya.
Dengan demikian, IAS mengemban tanggung jawab untuk menambah perolehan kursi Partai Golkar di seluruh tingkatan legislatif, baik DPRD maupun DPR RI.
Baca Juga : Menteri UMKM Ajak Warga Sulsel Borong Produk Lokal, Dorong UMKM Tembus Pasar Digital
Pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Hasrullah, menilai IAS mampu menjalankan amanah tersebut.
“Pak IAS ini tak diragukan kerja-kerja politiknya. Butuh 20 tahun lamanya untuk memimpin Partai Golkar. Tentu semangat untuk merebut kembali kejayaan Partai Golkar bakal terwujud,” ujar Hasrullah.
Ia mengingatkan kiprah IAS pada 2022 hingga 2023, ketika menjelang pemilihan gubernur, IAS mengunjungi desa dan kelurahan di berbagai kabupaten/kota di Sulsel.
Baca Juga : Maman Abdurahman, NH hingga IAS Nyanyi Bareng Wali Band, Hibur Warga di Pesta Rakyat Golkar Makassar
“Kita masih ingat bagaimana IAS pada tahun 2022 hingga 2023, jelang pilkada gubernur telah mengunjungi desa dan kelurahan di kabupaten/kota yang ada di Sulsel,” tutur pakar komunikasi politik Unhas tersebut, Senin (26/10/2026).
“Itu yang saya katakan tadi di awal sebagai modal kemenangan Partai Golkar di Sulsel,” lanjutnya.
Doktor di bidang ilmu komunikasi politik itu menjelaskan, waktu yang tersisa menuju Pemilu 2029 sekitar tiga tahun. Karena itu, IAS perlu menyiapkan strategi untuk memenangkan Partai Golkar di tengah persaingan dengan Partai Gerindra yang saat ini menjadi salah satu kekuatan politik utama di tingkat nasional.
Baca Juga : Maman Abdurrahman Sebut Batas Sertifikasi Halal Ditunda hingga 2028, Pemerintah Cari Jalan Tengah
“Tiga tahun tersisa ini, IAS harus lebih bekerja keras. Selain melakukan konsolidasi pemenangan DPD II di kabupaten/kota, ada hal terpenting yang harus ia lakukan,” beber Hasrullah.
“Pertama, bagaimana bisa memperoleh kursi lebih banyak dari partai penguasa saat ini [Gerindra]. Tidak hanya dalam bentuk kunjungan ke seluruh tingkatan, ada hal penting yang dapat dilakukannya, misalkan memanfaatkan media sosial,” pungkas dosen pengajar ilmu komunikasi politik Unhas itu.
Menurut Hasrullah, media sosial menjadi instrumen penting untuk menjangkau pemilih. Karena itu, pengurus Partai Golkar di tingkat DPD I dan DPD II, hingga pimpinan kecamatan (Pimcam) dan pimpinan kelurahan (Pimlur), perlu aktif memanfaatkan media sosial agar pesan politik partai dapat menjangkau masyarakat pemilih.
Baca Juga : Bupati Luwu Harap Golkar Sulsel Perkuat Sinergi Pembangunan dan Ekonomi Daerah
“Media sosial itu penting di saat ini. Dibutuhkan pengurus partai di tingkatan DPD I dan II serta pengurus hingga tingkatan Pimcam dan Pimlur untuk aktif dalam bermedia sosial agar pesan ke masyarakat pemilih tercapai,” katanya.
Hasrullah juga menyinggung sejumlah konsep dalam kajian media sosial, yakni algoritma, echo chamber, dan filter bubble.
“Inilah teori yang dapat mengubah pikiran dan pilihan audiens nantinya,” katanya.
Kedua, lanjut Hasrullah, kepengurusan Partai Golkar di seluruh tingkatan perlu melibatkan anak muda dari generasi Z dan generasi Alfa. Ia merujuk pada hasil survei Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI yang, menurutnya, menunjukkan besarnya proporsi generasi muda dalam Pemilu 2029.
“Kesimpulannya, untuk pengurus Partai Golkar di seluruh tingkatan, dua hal penting itu yang harus dilakukan,” ujarnya.
Ketiga, Hasrullah menekankan pentingnya melibatkan pakar di luar struktur kepengurusan partai untuk mendiskusikan strategi mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan.
“Terakhir, ketiga, Partai Golkar juga harus melibatkan pakar di luar kepengurusan partai untuk mendiskusikan bagaimana Partai Golkar di Sulawesi Selatan memperoleh kembali kejayaannya,” kunci Hasrullah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News