Libatkan 25 NGO, DP3A Makassar Bangun Gerakan Bersama Cegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
DP3A Makassar melibatkan 25 NGO dalam Festival Perempuan dan Anak 2026 untuk memperkuat kampanye Stop Kekerasan serta layanan perlindungan korban.
Jejakfakta.com, MAKASSAR — Upaya mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Makassar tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi organisasi masyarakat sipil menjadi salah satu kekuatan penting untuk memperluas edukasi, mempercepat penanganan kasus, hingga memastikan korban mendapatkan pendampingan.
Semangat tersebut mengemuka dalam Festival Perempuan dan Anak Makassar 2026 yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar di kawasan Car Free Day (CFD) Boulevard, Minggu (8/11/2026).
Memeriahkan HUT ke-419 Kota Makassar, kegiatan ini melibatkan 25 organisasi nonpemerintah (NGO), shelter warga, Forum Anak, Forum Anak Disabilitas, serta jajaran DP3A Kota Makassar.
Baca Juga : Vakum 10 Tahun, Appi Hidupkan Kembali Makassar Memancing untuk Dongkrak Wisata Bahari
Salah satu agenda utama festival adalah penandatanganan komitmen bersama oleh perwakilan 25 NGO untuk memperkuat sinergi dalam pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Komitmen tersebut kemudian dilanjutkan dengan long march kampanye Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak yang diikuti ratusan peserta. Mereka menyusuri kawasan CFD Boulevard sembari membawa papan kampanye dan membagikan brosur edukasi kepada masyarakat.
Kepala DP3A Kota Makassar, dr. Ita Anwar, mengatakan pelibatan berbagai organisasi merupakan bentuk kepedulian bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak.
Baca Juga : Cegah Sengketa Tanah Berujung ke Pengadilan, Pemkot Makassar Perluas Klinik Konflik ke Sembilan Kecamatan
Menurutnya, antusiasme 25 NGO yang berpartisipasi menjadi modal penting untuk memperkuat gerakan perlindungan perempuan dan anak di Makassar.
"Alhamdulillah kegiatan ini melibatkan seluruh shelter warga di kelurahan se-Kota Makassar, 25 organisasi nonpemerintah (NGO), Forum Anak, Forum Anak Disabilitas, serta jajaran DP3A Kota Makassar," kata Ita.
Ia mengungkapkan, partisipasi organisasi masyarakat dalam festival tersebut lahir dari inisiatif dan kepedulian bersama, tanpa dukungan anggaran khusus dari DP3A.
Baca Juga : Kado HUT ke-419 Makassar, DPPKB Raih Penghargaan Terbaik I Nasional 2026
Selain long march dan pembagian brosur, peserta juga membagikan bunga kepada masyarakat sebagai simbol kepedulian sekaligus pesan bahwa pemerintah hadir untuk memberikan perlindungan dan pendampingan bagi korban kekerasan.
Festival ini juga menjadi momentum kick off kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP). Melalui kampanye tersebut, DP3A berharap kesadaran masyarakat mengenai berbagai bentuk kekerasan, pencegahan, serta mekanisme pelaporan semakin meningkat.
Ita menegaskan, masyarakat yang mengalami atau mengetahui kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat mengakses layanan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA).
Baca Juga : HUT ke-419 Makassar, Pemkot Gelar Pasar Murah, Warga Bisa Tebus Sembako Rp63 Ribu
DP3A menyediakan fasilitas konseling dan pendampingan psikologis untuk membantu korban maupun masyarakat yang membutuhkan layanan perlindungan.
"Kami menyiapkan tempat pelayanan UPTD PPA. Jika ada masyarakat yang mengalami atau mengetahui kasus kekerasan, silakan datang. Kami juga menyediakan ruang konseling dan psikolog untuk membantu penanganan kasus. Semua layanan ini gratis bagi masyarakat Kota Makassar," tegasnya.
Sementara itu, Asisten I Sekretariat Daerah Kota Makassar, Irwan Bangsawan, yang membuka kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa perlindungan perempuan dan anak merupakan bagian penting dari pembangunan kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Baca Juga : Sambut HUT ke-419 Makassar, DPPKB Gelar Pemilihan Duta GenRe dan Wisuda 350 Lansia
Ia menilai perempuan harus memperoleh ruang dan kesempatan yang lebih luas untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Begitu pula penyandang disabilitas yang berhak mendapatkan kesempatan dan perlakuan setara.
"Makassar ini untuk semua, termasuk teman-teman penyandang disabilitas dan mereka yang berkebutuhan khusus. Kita ingin membangun kota yang inklusif, aman, dan nyaman bagi seluruh masyarakat," ujarnya.
Irwan juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda, untuk mengambil peran aktif menjaga keamanan dan kenyamanan kota.
Bagi DP3A, kolaborasi yang terbangun dalam festival ini diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan deklarasi dan kegiatan seremonial.
Ita mengatakan pihaknya berencana membentuk grup komunikasi bersama NGO yang terlibat. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang koordinasi untuk mempercepat pertukaran informasi dan tindak lanjut laporan kekerasan.
Dengan demikian, jejaring perlindungan perempuan dan anak di Makassar dapat bekerja lebih terkoordinasi, mulai dari pencegahan, pelaporan, hingga pendampingan korban.
"Kami ingin seluruh NGO yang sudah hadir dapat terus bersatu. Setelah berkomitmen, kita akan membuat grup komunikasi agar setiap kasus bisa kita tangani bersama. Kami ingin kegiatan ini berkesinambungan dan tidak berhenti sampai di sini," tutupnya. (rls)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News