Sektor Pariwisata Sulsel Butuh Penguatan Promosi

Direktur Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, M Firdauz Muttaqin membahas tentang sektor pariwisata. (Dok. Jejakfakta.com)

Forum Percepatan Investasi, Pariwisata, dan Perdagangan Sulawesi Selatan (Forum PINISI SULTAN), yang dapat menjadi wadah Pemerintah dan BI bersama-sama mempersiapkan dan mempromosikan proyek-proyek pariwisata di Sulsel.

Direktur Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, M Firdauz Muttaqin menilai sektor pariwisata di daerah ini sudah mulai bangkit. Namun seluruh stakeholder terkait masih perlu terus mendorong kinerja sektor ini dengan penguatan kolaborasi dan promosi. 

Menurut Firdauz, kinerja pariwisata di Sulsel, ke depan perlu terus didorong melalui penguatan kolaborasi, promosi, serta penyiapan proyek untuk mendorong kinerja pariwisata. 

Terlebih dari data Kantor Perwakilan (KPw) BI Sulsel, sejak tahun 2020, telah dibentuk Forum Percepatan Investasi, Pariwisata, dan Perdagangan Sulawesi Selatan (Forum PINISI SULTAN), yang dapat menjadi wadah Pemerintah dan BI bersama-sama mempersiapkan dan mempromosikan proyek-proyek pariwisata di Sulsel.

Baca Juga : TP PKK Makassar Gandeng BNN dan Dinsos, Perkuat Peran Keluarga Cegah Narkoba di Kalangan Generasi Muda

"Pada triwulan IV 2022 lalu, beberapa Lapangan Usaha (LU) terkait Pariwisata tumbuh kuat. LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh di atas 14% (yoy), mengindikasikan kuatnya kinerja hotel dan restoran yang menopang pariwisata," ungkal Firdauz. 

Demikian pula LU Transportasi dan Perdagangan tumbuh di atas 13% (yoy), tidak lepas dari pengaruh peningkatan mobilitas masyarakat yang menandai bangkitnya geliat pariwisata. 

Adapun Tingkat Penghunian Kamar di Sulsel menunjukkan tren peningkatan dalam 2 tahun terakhir. Demikian pula peningkatan jumlah penumpang di pintu masuk Bandara Sultan Hasanuddin menunjukkan kinerja positif pariwisata domestik. 

Baca Juga : Wabup Gowa Sisihkan Gaji Pribadi untuk Lawan Stunting, 200 Keluarga di Bajeng Terima Paket Gizi

Firdauz menambahkan, sejak tahun 2020, pandemi Covid-19 menyebabkan kontraksi lebih dalam pada kinerja LU terkait pariwisata.

Bahkan hingga tahun 2022, secara nasional, jumlah kunjungan wisatawan, devisa pariwisata, serta kontribusi PDB pariwisata belum pulih ke level sebelum pandemi.

"Karena itu, dibutuhkan strategi untuk mendorong pemulihan sektor pariwisata unggulan di Sulawesi Selatan," tambah Firdauz.

Baca Juga : Festival Literasi Lutim 2026, Ribuan Anak Diajak Jatuh Cinta pada Buku Sejak Dini

Sebagai bentuk dukungan Bank Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan beserta Pemerintah Kabupaten Kota di Sulawesi Selatan, BI Sulsel telah melakukan kajian bersama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia. 

Kajian itu untuk untuk menganalisis daya saing pariwisata unggulan Sulsel melalui pemetaan sisi permintaan dan penawaran destinasi unggulan. Kemudian menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) destinasi unggulan pariwisata di Sulsel. Serta merumuskan strategi pemulihan dan pengembangan pariwisata di destinasi unggulan di Sulsel.

Berdasarkan hasil analisis SWOT terhadap persepsi wisatawan domestik akan destinasi unggulan di Sulsel, seluruh objek kajian di Kota Makassar, Kabupaten Maros, Bulukumba, Tana Toraja dan Toraja Utara menunjukkan daya saing internal yang kuat (Strength) dan daya saing eksternal yang menjadi peluang (Opportunity). 

Baca Juga : Hari Lahir Pancasila, Munafri Ajak Warga Makassar Jaga Harmoni dan Perkuat Persatuan

"Sehingga strategi yang dapat dilakukan adalah promosi wisata yang menonjolkan kekuatan dan keunikan masing-masing destinasi, dirangkaikan dengan paket wisata, event wisata, festival budaya, expo wisata, travel fair, dan digital marketing," katanya. 

Adapun persepsi wisatawan mancanegara masih menjadi tantangan bagi pariwisata Sulsel. Berdasarkan hasil analisis SWOT terhadap persepsi wisatawan mancanegara akan destinasi unggulan di Sulsel, seluruh objek kajian di Kota Makassar, Maros, Bulukumba, Tana Toraja dan Toraja Utara sudah menunjukkan daya saing internal yang kuat (Strength), namun daya saing eksternal di Bulukumba dan Makassar masih menjadi ancaman (Threat).

"Sehingga, dibutuhkan diversifikasi destinasi dan atraksi wisata untuk menonjolkan kekuatan destinasi sementara masih dilakukan perbaikan terhadap faktor-faktor eksternal, " pungkas Firdauz.

Baca Juga : Makassar Half Marathon 2026 Jadi Mesin Penggerak Ekonomi, Hotel Penuh dan UMKM Panen Rezeki

Di sisi lain, daya saing eksternal di Kabupaten Maros merupakan peluang (Opportunity), sehingga promosi destinasi dibutuhkan untuk menonjolkan kekuatan destinasi pariwisata eksisting. (**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru