Kiai Ali Yafie, Sebuah Inspirasi bagi Umat Islam di Indonesia

KH Ali Yafie, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat (Ketum MUI 1998-2000). Dok. Ist

Ibunya adalah seorang putri raja dari salah satu kerajaan di Tanete, sebuah desa di pesisir barat Sulawesi Selatan. Imacayya wafat saat Ali Yafie berusia 10 tahun.

Jejakfakta.com - Anregurutta Haji (AGH) atau KH Ali Yafie telah meninggal dunia. Almarhum menghembuskan nafas terakhir di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Banten pada Sabtu (25/2/2023) malam, pukul 22.13 WIB.

KH Ali Yafie wafat pada usia 96 tahun setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama kurang lebih satu bulan terakhir. 

Jenazah akan disemayamkan di rumah duka di Bintaro, dan kemudian akan dimakamkan di TPU Tanah Kusir pada Ahad (26/2/2023) setelah zuhur.

Baca Juga : Gurutta Helmi Ali Yafie Buka Ma'had Aly DDI Abrad Makassar: Insya Allah Besar ke Depan

Kiai Ali Yafie lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, pada 1 September 1926 atau 23 Safar 1345. Beliau dilahirkan pada bulan ketika Muktamar NU pertama digelar.

Kiai Ali Yafie adalah anak ketiga dari lima bersaudara; As'ad, Muzainah, Munarussana, dan Amira. Beliau lahir dari pasangan Syekh Muhammad Al-Yafie dan Imacayya.

Ibunya adalah seorang putri raja dari salah satu kerajaan di Tanete, sebuah desa di pesisir barat Sulawesi Selatan. Imacayya wafat saat Ali Yafie berusia 10 tahun.

Baca Juga : 194 Jemaah Haji Asal Papua Dijadwalkan Tiba Mulai Minggu, 1 Orang Wafat

Lalu ayahnya menikah lagi dengan Tanawali. Pasangan ini diberi empat keturunan; Muhsanah, Husain, Khadijah, dan Idris. Muhammad Al-Yafie meninggal pada awal 1950-an.

Riwayat Karier dan Organisasi

KH Ali Yafie pernah menjabat sebagai Hakim di Pengadilan Agama Ujungpandang (Makassar) pada 1959-1962. Lalu beliau menjabat sebagai Inspektorat Pengadilan Agama Indonesia Timur pada 1962-1965.

Baca Juga : 12 Jemaah Haji Embarkasi Makassar Meninggal di Tanah Suci, Berikut Daftarnya

Kemudian pada 1965-1971, KH Ali Yafie mendapat kepercayaan untuk bertugas sebagai Dekan di Fakultas Ushuluddin IAIN Ujungpandang yang sekarang bernama UIN Alauddin.

Pada Muktamar NU di Surabaya (1971), KH Ali Yafie terpilih menjadi salah seorang Rais Syuriyah PBNU. Lalu pada Muktamar NU di Semarang (1979) dan Situbondo (1984), beliau kembali diberi amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU.

Kemudian pada Muktamar NU di Krapyak 1989, KH Ali Yafie diberi amanah sebagai wakil Rais 'Aam PBNU. Beliau kemudian menjadi Penjabat (Pj) Rais 'Aam PBNU pada 1991-1992 setelah KH Ahmad Shiddiq sebagai Rais 'Aam PBNU wafat.

Baca Juga : JK Mengenang Sosok KH Ali Yafie Sebagai Ulama Yang Lemah Lembut

KH Ali Yafie pun menjabat sebagai Ketua Umum MUI pada 1998-2000 menggantikan KH Hasan Basri. Beliau pun pernah menjadi Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta pada periode 2002-2005.

Kiai Ali Yafie, selain sibuk dengan berbagai kegiatan lainnya, juga mendedikasikan dirinya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Parepare, Sulawesi Selatan yang didirikannya pada tahun 1947. 

Selain itu, ia juga seorang ulama yang produktif menulis dan telah menelurkan beberapa karya tulis yang dijadikan buku, di antaranya:

Baca Juga : Din Syamsuddin Harap Umat Islam Lahirkan Ulama seperti KH Ali Yafie

1. Menggagas Fikih Sosial: dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi hingga Ukhuwah (1995)

2. Teologi Sosial: Telaah Kritis Persoalan Agama dan Kemanusiaan (1997)

3. Beragama Secara Praktis agar Hidup Lebih Bermakna (2002)

4. Fiqih Perdagangan Bebas (2003)

5. Merintis Fiqih Lingkungan Hidup (2006)

Karya-karya ini membahas berbagai topik yang berkaitan dengan agama dan kehidupan sosial, serta memberikan tanggapan dari sudut pandang seorang ulama terhadap perkembangan sosial yang ada.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru