Cerita Jeritan Daeng Siruju, Pengayuh Becak yang Kian Tergerus Zaman
"Sekarang biar jungkir balik belum tentu ada (penumpang), iya sabar mamiki, mau mi diapa," keluh Daeng Siruju, pengayuh becak di Makassar.
Jejakfakta.com, Makassar - Daeng Situju (74) duduk di atas becaknya. Menatap lalu lalang kendaraan yang begitu padat di Jalan Masjid Raya Makassar, Sulawesi Selatan. Padangan matanya tajam, menanti penumpang yang ingin menggunakan jasa becaknya.
Jasa mengayuh becak yang iya tekuni selama kurang lebih 40 tahun, perlahan mati ditelan zaman.
"Sudah lebih ma' 40 tahun tarik becak," kata Situju, saat ditemuai Jejakfakta.com, Rabu (22/3/2023).
Baca Juga : 90 Anak Gowa Berangkat ke Sekolah Rakyat, Peluang Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan
Waktu menunjukkan pukul 14.00 Wita, Situju masih duduk. Tak ada penumpang yang mengampiri becaknya.
Kata Situju, warga Bontoala, Makassar ini, sejak hadirnya jasa ojek online yang berbasis aplikasi membuat jasa kayuh tiga roda mulai tidak dilirik.
Pedapatannya Situju melorot, akibat sejumlah penumpang bergeser ke becak motor dan ojek online berbasis aplikasi. Mirisnya lagi, belakangan bahkan setiap harinya tidak menemukan penumpang.
Baca Juga : Makassar Siap Jadi Tuan Rumah Olymrun 2026, Targetkan 5.000 Pelari di Anjungan Pantai Losari
"Jauh bedah mi sekarang karena ada pa'bentor (becak motor) dan Grab (ojek online)," keluhnya.
Setiap hari, kata Situju mulai keluar rumah mencari nafkah dari jam 08.00 pagi dan pulang pukul 17.00 Wita, penghasilannya terkadang hanya sampai Rp20.000.
"Kadang satu kali dua puluh ribu, kadang tidak ada sama sekali. Yah mau maumi kalau tidak ada," katanya.
Dulu, cerita Situju, penghasilannya menjanjikan setiap hari karena penumpang yang turun dari angkutan Pete-pete (angkot) langsung mencari becak untuk melanjutkan perjalanannya.
Baca Juga : Makassar Jadi Panggung Diplomasi Dunia, 28 Negara Dijamu Lewat Kuliner hingga Peluang Investasi
Sekarang sudah berubah drastis, penumpang tinggal pesan ojek onlie lewat mobile phone miliknya.
"Dulu enak, kalau ada pete'-pete' (angkot) berhenti, (penumpang) turun naik becak, sekarang tidak mi, naik grab mi, na telpon (pesan online) saja," jelasnya.
Situju pasrah, ia tidak mampu beradaptasi dengan alat modern. Tak ada harapan banyak, pendapatan yang diakuinya menurun saat semua beralih ke transportasi modern.
Baca Juga : 21 Daerah Masuk Zona Risiko Tinggi dan Sedang, Penyempitan Ruang Sipil Dinilai Perparah Krisis Ekologis
"Sekarang biar jungkir balik belum tentu ada, iya sabar mamiki, mau mi diapa."
Keahliannya dalam menggunakan becak motor operan gigi, kata Situju, tak dikuasai. Sehingga ia tetap bertahan menggunakan becak roda tiga dengan ayunan kakinya.
"Kurang penglihatanku. Dan motor matic ji bisa, kalau motor persneling gigi tidak bisa," jelasnya.
Ditengah penghasilan yang tidak menentu, Situju tetap berharap belas kasih dari pemerintah untuk mengeluarkan dirinya dari kondisi yang terpuruk ini.
"Kalau saya (berharap bantuan) pemerintah. Semoga bisa berubah ini. Kasian saya sebagai rakyat kecil," katanya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News