MUI Bone Nyatakan Aliran Puang Nene Segitiga Emas Sunda Nusantara Menyimpang, Tiap Bulan Ritual Sesajen ke Sungai

Warga memberi sesajen ke Sungai Pampang, kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sesajen berisi songkolok, telur ayam kampung dan makanan berbahan daging ayam. (Liputan6.com/Eka Hakim).

Polisi juga mengungkap bahwa Puang Nene tiap bulan memberi sesajen berupa makanan ke pinggir sungai di Desa Mattirowalie Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone.

Bone - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menyatakan kelompok besutan Puang Nene atau Walinono menyimpang dari agama Islam.

Al Mukarrama Al Khaerat Segitiga Emas Sunda Nusantara adalah nama kelompok Puang Nene.

"Memang ada ajaran menyimpang yang mengarah pada penyembahan berhala," kata Ketua MUI Bone, Prof KH Muh Amir, Sabtu (25/3/2023), dikutip dari CNN.

KH Amir menyebut Puang Nene telah lama menuai penolakan dari pemerintah setempat, namun masih saja kembali. 

"Dia pernah diusir oleh pemerintah setempat tapi masih sering datang. Puang Nene sudah tinggal di Soppeng tidak di Bone lagi. Tapi sering datang tanpa sepengetahuan pemerintah setempat," kata KH Amir

KH Amir mengungkapkan, "Sudah banyak pengikutnya yang meninggalkan aliran ini, karena keluar dari ajaran Islam."

Rencananya, MUI Bone akan memberikan pembinaan terhadap Puang Nene dan pengikutnya yang diduga sesat. MUI akan menemui mereka.

Polres Bone sudah mengusut aliran Puang Nene yang menyebarkan ajaran tidak mewajibkan salah lima waktu dan tidak melaksanakan salat Jumat.

Para pengikut harus membayar Rp750.000 tiap akhir tahun, uang meeting dengan Puang Nene.

Polisi juga mengungkap bahwa Puang Nene tiap bulan memberi sesajen berupa makanan ke pinggir sungai di Desa Mattirowalie Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru