Pulau Langkai, Kerusakan Terumbu Karang dan Upaya Konservasi Biota Laut
Jaring Nusa gelar Peringatan Hari Nelayan di Pulau Terluar Kota Makassar.
Jejakfakta.com, Makassar - "Kondisi terumbu karang dulu bagus sekarang sudah tidak bagus karena alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti nelayan yang menggunakan bom," ujar Galang, seorang nelayan di Pulau Langkai.
Potret ini menjadi masalah yang diungkap dalam diskusi bersama nelayan dalam peringatan Hari Nelayan Nasional yang diselenggarakan Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia kolaborasi Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, WALHI Sulsel dan Yayasan Hutan Biru digelar di pulau terluar Makassar, Pulau Langkai, Kamis (06/04/2023).
Hari Nelayan Nasional diperingati sebagai bentuk mengapresiasi jasa para nelayan Indonesia dalam upaya pemenuhan kebutuhan protein dan gizi bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia sekaligus sebagai bentuk pengingat untuk bersyukur dan memajukan kesejahteraan nelayan.
Baca Juga : Bahlil Ungkap Penyebab Antrean BBM Subsidi di Makassar: Ada Peralihan Konsumsi hingga Modifikasi Tangki
Rahima Rahman, perwakilan Jaring Nusa KTI menyebutkan, jika peringatan yang digelar di Pulau Langkai ini memiliki beberapa tujuan.
“Memberikan gambaran umum terkait aturan Perikanan Terukur terhadap nelayan di Kota Makassar, selain itu menampung aspirasi dan masukan dari nelayan di Kota Makassar terkait pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di masing-masing wilayah mereka,” terangnya.
Tantangan Nelayan Pulau Langkai
Baca Juga : Rakor Persiapan Kunker Presiden Prabowo, Appi Pastikan Makassar Siap Dukung Sekolah Rakyat
Nelayan Pulau Langkai sendiri merupakan nelayan kecil dan tradisional. Kebanyakan kapasitas kapalnya di bawah 1 GT.
Sharing session bersama nelayan di Pulau Langkai terdapat beberapa tantangan yang dihadapi nelayan terutama menyangkut dengan kondisi wilayah tangkapnya.
Galang, seorang nelayan di Pulau Langkai menjelaskan jika kondisi 10 tahun yang lalu dengan kondisi sekarang sudah sangat berbeda. Hal itu dapat dilihat dengan hasil tangkapan nelayan.
Baca Juga : Antrean BBM Mulai Longgar, Disdik Makassar Kembalikan Siswa TK-SMP ke Sekolah Mulai Besok
"Pengalaman di (Pulau) Langkai dari 10 tahun yang lalu sampai sekarang itu sudah jauh perbedaannya. Tahun-tahun sebelumnya penghasilan lumayan," ungkapnya.
Ia melanjutkan jika kondisi terumbu karang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan hasil tangkapan nelayan.
"Kondisi terumbu karang dulu bagus sekarang sudah tidak bagus karena alat tangkap yg tidak ramah lingkungan, seperti nelayan yang menggunakan bom," tambahnya.
Baca Juga : Pertamina Bantah BBM Langka di Makassar, Antrean Dipicu Kepanikan Warga Imbas Pemadaman Listrik
Persoalan lainnya juga diutarakan oleh Erwin yang juga merupakan nelayan Pulau Langkai. Ia mengungkap kondisi pulaunya saat ini semakin mengkhawatirkan akibat abrasi.
"Setahun terakhir ini abrasi paling parah terjadi. Air laut semakin banyak yang masuk ke pulau, terutama bagian timur pulau. Air laut semakin tinggi, cuaca tak menentu. Semakin parah," jelasnya.
Sistem Buka-Tutup Gurita
Baca Juga : Usai 20 Daerah Disambangi, IAS Targetkan Kursi Ketua DPRD Makassar Kembali ke Pangkuan Golkar
Tahun 2021 menjadi salah satu penanda di Pulau Langkai untuk pertama kalinya diterapkan penangkapan berkelanjutan melalui sistem buka tutup gurita yang ini diinisiasi oleh Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia.
Sistem buka tutup gurita pada dasarnya memberikan waktu gurita untuk berkembang dengan menetapkan area melalui penutupan sementara lokasi yang telah ditentukan. Sistem buka tutup tersebut disepakati oleh nelayan selama kurang lebih 3 bulan lamanya.
Ardan yang merupakan nelayan gurita mengungkapkan jika adanya sistem buka-tutup gurita yang diterapkan di wilayah tangkap nelayan memberikan keuntungan bukan hanya dari ekonomi namun juga dari sisi ekologis.
"Nelayan sangat bersyukur dengan sistem buka tutup yg diterapkan. Ikan lumayan bertambah, terumbu karang agak membaik," ungkapnya.
Sistem buka-tutup gurita sendiri dilakukan di dua lokasi. Area pertama dengan di lokasi yang disebut Taka Biring Baru dengan luas 116,64 hektar dan area kedua Taka Sallangang seluas 203,42 hektar.
Sistem buka-tutup gurita memberikan kesadaran bagi masyarakat untuk melakukan upaya konservasi terhadap biota yang dilindungi.
Terakhir nelayan turut memberikan harapannya di hari nelayan dalam diskusi tersebut. Ardan menjelaskan jika nelayan di Pulau Langkai berharap agar sistem-buka tutup gurita dapat terus ditingkatkan dan ditambah lokasinya.
"Ke depannya mungkin bisa di kasih bagus lagi (sistem buka-tutup gurita) terutama karang lebih bagus lagi. Dibatasi (ada aturan khusus) dari nelayan luar untuk mengambil di wilayah tangkap nelayan langkai," terangnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News