"Resesi Seks" Makin Ngeri di China, Ini Penyebabnya!

"Resesi Seks" Makin Ngeri di China, Ini Penyebabnya! (Foto : Routers)

Populasi turun menjadi 1,412 miliar tahun lalu dari 1,413 miliar pada 2021. Seperti yang dilaporkan Biro Statistik Nasional China . Ini merupakan pertumbuhan alami negatif untuk pertama kalinya sejak tahun 1960.

Jejakfakta.com, Internasional - Fenomena resesi seks atau rendahnya angka kelahiran tak hanya menimpa Jepang. Baru-baru ini China, negara yang notabenenya terpadat di dunia, juga mengalami hal serupa.

Populasi turun menjadi 1,412 miliar tahun lalu dari 1,413 miliar pada 2021. Seperti yang dilaporkan Biro Statistik Nasional China . Ini merupakan pertumbuhan alami negatif untuk pertama kalinya sejak tahun 1960.

Pemerintah China menghapus kebijakan satu anak pada tahun 2016 dan menghapus batas kelahiran pada tahun 2021. Namun, pasangan menikah memiliki lebih sedikit anak, atau memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali. Berbanding terbalik seperti kebijakan pemerintah China.

Baca Juga : Indonesia Buat Sejarah, Kalahkan Jepang 5-3 dan Lolos ke Final Piala Asia Futsal 2026

Asisten profesor di departemen sosiologi dan antropologi di Universitas Nasional Singapura, Mu Zheng, mengatakan hal ini disebabkan lebih banyak wanita yang memilih untuk fokus pada karir dan tujuan pribadi mereka, daripada memulai sebuah keluarga.

Seperti yang dilansir CNBC International. "Covid terus memiliki banyak dampak negatif dan telah menyebabkan rasa ketidakpastian secara keseluruhan terhadap masa depan. Ada rasa tidak berdaya yang melarang banyak wanita ingin punya anak." Senin (10/4/2023).

"Meningkatnya biaya hidup juga menjauhkan lebih banyak orang dari keinginan untuk memperluas keluarga mereka."

Baca Juga : Timnas Indonesia Hadapi China dalam Laga Krusial Kualifikasi Piala Dunia 2026

Partisipasi wanita dalam angkatan kerja di China memang diketahui lebih besar dibandingkan negara-negara Barat. Ini kemudian mendorong wanita untuk mendapatkan gaji yang lebih besar, dan kemudian menekan suaminya agar memiliki penghasilan yang lebih besar lagi.

"Pria menghadapi beban yang luar biasa karena wanita akan menuntut keamanan finansial dari mereka. Dan pada gilirannya (pria) juga tidak ingin menikah," tambah seorang ekonom independen, Andy Xie.

Tak hanya itu, Andy Xie juga menyebut persoalan rendahnya minat memiliki anak ini didasari harga properti yang mahal. Ia berpendapat harga properti di Negeri Panda itu perlu diturunkan hingga 50% agar pasangan dapat tertarik untuk memiliki anak.

Baca Juga : Pejabat Pemkot Makassar ke Maniwa Jepang Belajar Penerapan Low Carbon City

"Ketersediaan dan harga rumah bergantung pada pernikahan dan jumlah anak yang dimiliki pasangan," terangnya.

Salah satu warga China bernama Awen mengatakan bahwa ia senang melajang sekarang. Ia memaparkan sebagian besar suami di China sering tidak memainkan peran penting dalam pengasuhan anak, dan juga sebagai gantinya beban sepenuhnya berada pada ibu.

"Banyak wanita tidak mau menikah karena pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak akan menjadi tanggung jawab mereka. Jadi, jika perempuan merasa perlu melakukan pekerjaan rumah, mencari uang, dan melakukan semuanya sendiri, mengapa tidak sendirian saja?," kata Awen.

Baca Juga : Mahasiswa FKIK Unismuh jadi Finalis Olimpiade Fisiologi Internasional di Jepang

Meski begitu, dukungan untuk memiliki anak pun masih tetap mengalir. Tak hanya dari keluarga, motivasi ini pun mulai diberikan para tempat kerja di Negeri Tirai Bambu itu.

Trip.com adalah salah satu perusahaan China yang dengan bangga mencoba mendorong lebih banyak wanita untuk memiliki anak. Ini terlihat dari langkah perusahaan yang memberikan subsidi hingga US$ 300.000 (Rp 4,4 miliar) untuk membantu karyawan mengimbangi biaya pembekuan sel telur.

Sebagai informasi, pembekuan sel telur sendiri merupakan proses dimana sel telur wanita diambil dari ovariumnya dan disimpan. Setelah wanita menyatakan siap memiliki anak, sel telur kemudian dibuahi dengan sperma dan ditanam kembali di dalam rahim. Metode ini biasanya dilakukan untuk wanita yang baru ingin memiliki anak di usia lanjut.

Baca Juga : Laga Hidup Mati: Indonesia vs Jepang di Piala Asia 2023. Akankah Tim Garuda Membuat Sejarah?

"Kami hanya memberi wanita tujuh hingga delapan tahun untuk membangun karier, keluarga, dan memiliki anak," ujar CEO Trip.com, Jane Sun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru