MUI Pusat Bentuk Pesantren Lansia, Mensos: Banyak Lansia Sebatang Kara

Gedung MUI Pusat di Jl Proklamasi, Jakarta.

Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengatakan, “Dalam Islam, kedudukan penghormatan kepada orang tua itu disandingkan dengan keimanan. Di sinilah peran MUI berkhidmah kepada masyarakat dengan ikut serta memperhatikan para lansia."

Jakarta - Orang tua mati-matian merawat anak sejak kandungan, lahir, kecil hingga tumbuh jadi orang. Giliran orang tua dalam kondisi lemah karena lanjut usia, apakah yang anak lakukan? 

Dan banyak pula lansia tanpa anak serta hidup sebatang kara, apa solusinya? Majelis Ulama Indonesia (MUI) memerhatikan serius masalah ini.

MUI Pusat melalui Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK MUI) baru-baru ini mencetuskan Pesantren Lansia guna menangani nasib lansia. MUI berkolaborasi dengan Rumah Zakat.

Baca Juga : Intip Rencana MUI Dirikan Tempat Pengobatan yang Sesuai Syariat Islam

Ketua MUI Bidang PRK, Prof Amany Lubis, sebagai pencetus Pesantren Lansia, mengatakan, tugas menyejahterakan para lansia tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga tuga masyarakat baik secara individu maupun kelompok.

“Saya kira perlu saling menguatkan dalam konteks ini. Kita berkewajiban memperhatikan orang tua sebagai landasan agama yang menjadi motivasi bagi MUI menggalakkan program ini bersama Rumah Zakat,” kata Amany dalam Workshop Pesantren Lansia “Keselamatan dan Kesehatan Lansia” yang digelar Komisi PRK MUI di Jakarta, Rabu (12/4/2023).

Amany menegaskan tujuan MUI membentuk Pesantren Lansia adalah upaya memberikan kesejahteraan lahir, batin serta kesehatan mental.

Baca Juga : Presiden Jokowi Ungkap: Biasanya Kasus Bullying Ditutup-tutupi untuk Lindungi Nama Baik Sekolah

Menurut Amany, tujuan tersebut yang nantinya dapat menyediakan tempat yang nyaman bagi lansia agar merasa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat

“Dalam hadis, Rasulullah SAW banyak mengabarkan pentingnya berbuat baik kepada orang tua. Orang tua di sini adalah lansia yang termasuk di dalamnya memiliki hubungan kekerabatan maupun tidak,” kata Amany.

Menurutnya, bukan tanpa sebab perintah untuk berbuat baik kepada orang tua. Hal tersebut menunjukkan pengagungan bagi siapa saja yang mampu menunjukkan akhlak yang baik mana kala berhadapan dengan orang tua.

Baca Juga : MUI Minta Guru Sekolah Serius Wujudkan Program Anti-Bullying

Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, mengatakan, MUI mendukung dan mengapresiasi program Pesantren Lansia. 

“Dalam Islam, kedudukan penghormatan kepada orang tua itu disandingkan dengan keimanan. Di sinilah peran MUI berkhidmah kepada masyarakat dengan ikut serta memperhatikan para lansia,” kata Niam dalam workshop Pesantren Lansia, Rabu (12/4/2023).

Niam menyebut orang tua yang dalam hal ini lansia terikat dalam hubungan biologis dan kemanusiaan dengan anaknya.

Baca Juga : Presiden Jokowi: Hasil Quick Count Itu Ilmiah, Tetap Tunggu Hasil KPU, Sabar

Sekalipun kedua orang tua memiliki keyakinan berbeda, sang anak harus tetap berbuat baik kepada orang tua. Keduanya harus mengetahui hak dan kewajiban masing-masing.

“Banyak dalil otoritatif baik dari Alquran maupun hadits yang kerap menyebut pentingnya berbuat baik kepada orang tua,” kata Niam.

Menurut Prof Niam, Pesantren Lansia merupakan bentuk dari fungsi pengkhidmatan MUI sebagai himayatul ummah.

Baca Juga : Ketua MUI Ajak Legawa Atas Hasil Pemilu 2024, Prabowo-Gibran Masih Pimpin Real Count KPU

Persoalan ini menjadi hal yang strategis, sebab isu kemanusiaan terkait dengan anak-anak dan lansia menjadi arus utama tidak hanya dalam perspektif agama, akan tetapi juga menjadi kesadaran kolektif di masyarakat.

“Pesantren Lansia bukan sekadar pemberian layanan kesehatan fisik dan mental melainkan lebih dari itu, kita juga tidak melupakan aspek bimbingan rohani bagi mereka,” kata Niam.

Amany mengungkapkan bahwa Pesantren Lansia adalah pintu hidup berkah.

Mensos: Banyak Lansia Sebatang Kara

Menteri Sosial Republik Indonesia, Tri Rismaharini juga hadir sebagai pemateri Workshop Pesantren Lansia yang digelar oleh PRK MUI di Aula Buya Hamka di Jakarta, Rabu (12/4/23).

Dalam sambutannya, Risma menyampaikan bahwa kepekaan terhadap lansia merupakan salah satu bagian penting dalam sebuah keluarga maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Kesejahteraan lansia menjadi tanggung jawab bersama dalam ruang sosial.

“Saya pernah menemukan seorang lansia meninggal sudah empat hari, tapi tidak ada yang tahu. Akhirnya saya membuat kebijakan, saya buat Posyandu Lansia. Dalam Posyandu lansia tersebut adalah anggota lansia semuanya,” kata Risma.(Sumber: mui.or.id)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru