Psikolog Ungkap Indonesia Darurat Kesehatan Mental, Flexing Masuk Indikator

Ilustrasi. (lirboyo.net)

Maria Ekowati merujuk Laporan INdonesia National Adolescent Mental Health-SUrvey (I-NAMHS) 2023 bahwa masalah kesehatan mental paling menkhawatirkan: satu dari tiga remaja mengalami kesehatan mental, satu dari 20 remaja ada gejala gangguan mental dalam 12 bulan terakhir, dan 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental tingkat sedang.

Jakarta - Psikolog mengungkap hasil penelitian bahwa jumlah penduduk Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan mental sudah di level darurat. Flexing (pamer harta di media sosial) dan bullying (penindasan dengan mengolok-olok hingga menyakiti) masuk indikatornya. 

“Indonesia sedang menghadapi darurat kesehatan mental. Akhir-akhir ini, banyak terjadi flexing, bullying, kekerasan yang dilakukan banyak kalangan,” kata Psikolog Maria Ekowati dalam jumpa pers WIK Dorong Kesehatan Mental Masuk dalam UU Kesehatan, di Jakarta Selatan dikutip dari Republika Ahad (28/5/2023).

Menurut Ketua Wanita Indonesia Keren (WIK) itu, fenomena gangguan mental zaman sekarang yaitu flexing, bullying, narsistik (lebai/terlalu peduli ekspresi diri sendiri), KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), dan suka mengintimidasi. 

Baca Juga : Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin Ingatkan ASN Hindari Flexing dan Utamakan Pelayanan Publik

“Jika ada kecenderungan flexing atau narsis, itu gangguan kesehatan mental,” tegas Maria.

Narsistik dan flexing, kata Maria, secara signifikan dipengaruhi gangguan kepribadian dan psikologis di masa kecil. 

“Temuan satu dari dua masyarakat Indonesia merasa dirinya punya masalah kesehatan mental,” kata Maria.

Baca Juga : Presiden Jokowi Ungkap: Biasanya Kasus Bullying Ditutup-tutupi untuk Lindungi Nama Baik Sekolah

Maria mengungkap, persentase komulatif orang Indonesia dengan masalah kesehatan mental sebanyak 52 persen. Perempuan lintas usia, ibu hamil, menyusui, dan ibu dengan anak usia dini termasuk dalam kualitas keparahan angka masalah kesehatan mental ini.

Maria Ekowati merujuk laporan INdonesia National Adolescent Mental Health-SUrvey (I-NAMHS) 2023 bahwa masalah kesehatan mental paling menkhawatirkan: satu dari tiga remaja mengalami kesehatan mental, satu dari 20 remaja ada gejala gangguan mental dalam 12 bulan terakhir, dan 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental tingkat sedang.

Gangguan kesehatan mental pada populasi penduduk usia anak juga tinggi. Di Semarang, 57 persen anak TK mengalami gangguan mental emosional. Di Denpasar, 83,3 sersen anak usia 6 tahun menunjukkan skala emosi abnormal. Di Jakarta, 28 persen anak usia dini mengalami perkembangan emosional meragukan.

Baca Juga : MUI Minta Guru Sekolah Serius Wujudkan Program Anti-Bullying

Belakangan ini flexing atau pamer menggejala di jagat maya Indonesia. Salah satunya, aksi emak-emak di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pamer harta berupa uang arisan senilai Rp 2,5 miliar.

Uang arisan diduga senilai Rp 2,5 miliar oleh emak-emak di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, baru-baru ini.

Baca Juga : Fenomena Flexing Keluarga Pejabat Banyak Terungkap, JK Minta Agar Menjaga Situasi

Aksi tersebut mengundang sorotan warganet hingga Kantor Wilayah Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Sulawesi, Barat dan Tenggara (Sulselbartra) turun gunung menyelidiki.

Menurut pemerhati media sosial, solusi terbaik menghadapi fenomena flexing yaitu dengan banyak-banyak bersyukur dan mengoreksi hati dan cara beribadah selama ini. (Republika/I-NAMHS/berbagai sumber).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru