Waketum MUI: Kritik adalah Vitamin

Ilustrasi. (Sumber: Everett Collection).

Dalam pidatonya Abu Bakar menyampaikan: “Wahai manusia, sungguh aku telah didaulat sebagai pemimpin atas kalian, akan tetapi aku bukanlah manusia terbaik di antara kalian, maka bila aku membuat kebajikan, kebaikan atau sesuatu yang sesuai, maka dukunglah aku. Dan jika aku bersikap buruk, tidak baik, keluar dari aturan-aturan, maka luruskanlah aku, karena kejujuran adalah amanah dan dusta adalah pengkhianatan.”

Jakarta - Kata kritik dalam KBBI diartikan: kecaman atau tanggapan, atau kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Dalam Islam, kritik penting guna memperbaiki.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, dalam laman MUIDigital belum lama ini, menyampaikan, penting menjaga adab dalam mengkritik.

“Saat ini sedang ramai tentang kritik, yang mana, mengkritiknya menggunkan kata-kata yang tidak pantas. Ingat, berbicara yang baik tidak harus dengan kata-kata yang kotor, sampaikan kritik itu dengan baik,” katanya.

Baca Juga : Intip Rencana MUI Dirikan Tempat Pengobatan yang Sesuai Syariat Islam

Kritik, lanjut KH Marsudi, merupakan suatu hal yang sangat diperlukan dalam berbangsa dan bernegara. Kritik yang baik sangat diperlukan untuk mengevaluasi dan juga memperbaiki. 

"Siapa saja yang menjadi pemimpin harus berani membuka diri untuk dikritik," katanya.

Terhadap pengkritik, kata KH Marsudi, tidak boleh mengkritik karena dengki, tetapi dengan nawaitu kebenaran dan agar terhindar dari keburukan.

Baca Juga : Presiden Jokowi Ungkap: Biasanya Kasus Bullying Ditutup-tutupi untuk Lindungi Nama Baik Sekolah

“Perlu diketahui, bahwa kritik itu untuk memperbaiki, bukan untuk mencaci. Kritik boleh, kritik adalah vitamin, kritik adalah vaksin untuk memperbaiki, bukan untuk mencaci,” kata KH Marsudi.

Kiai Marsudi lalu menceritakan sikap kepemimpinan khalifah pertama Abdullah bin Abu Quhafah atau Abu Bakr Ash-Shiddiq atau Abu Bakar.

Abu Bakar semasa memimpin, membuka ruang untuk dikritik.

Baca Juga : MUI Minta Guru Sekolah Serius Wujudkan Program Anti-Bullying

Dalam pidatonya Abu Bakar menyampaikan: “Wahai manusia, sungguh aku telah didaulat sebagai pemimpin atas kalian, akan tetapi aku bukanlah manusia terbaik di antara kalian, maka bila aku membuat kebajikan, kebaikan atau sesuatu yang sesuai, maka dukunglah aku. Dan jika aku bersikap buruk, tidak baik, keluar dari aturan-aturan, maka luruskanlah aku, karena kejujuran adalah amanah dan dusta adalah pengkhianatan.”

KH Marsudi juga menyampaikan bahwa dalam Alquran disampaikan etika mengkritik yang baik. Pesan tersebut terdapat dalam firman Allah SWT pada surat Al-Ashr ayat 3:

وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

Baca Juga : Isi Deklarasi Tokoh Agama FPID Soal Hasil Quick Count Pilpres 2024

“Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

KH Marsudi juga berpesan agar menghindari elemen-elemen dusta dalam mengkritik.

“Kritiklah, berilah wasiat-wasiat dengan kebenaran, jangan ada yang bohong, jangan ada yang salah, jangan menggunakan data-data yang tidak tepat,” katanya.

Baca Juga : Ketua MUI Ajak Legawa Atas Hasil Pemilu 2024, Prabowo-Gibran Masih Pimpin Real Count KPU

KH Marsudi mengingatkan bahwa Islam sangat peka dengan urusan akhlak, sesuatu yang benar tidak cukup hanya karena faktanya benar. 

“Pilihlah kata-kata yang bijak, kata-kata yang baik dan data yang benar, maka itu semua akan menjadi hal yang tepat untuk memperbaiki bangsa kita,” ujarnya. (Dhea Oktaviana, ed: Nashih | Sumber: MUIDigital)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru