Umur dan Menunggu
Oleh: Sultan Sulaeman
Jejakfakta.com - Umur itu entitas fundamental, ia menjadi rentang bagi sesiapa untuk membangun imaginasinya tentang kehidupan.
Bangunan imaginasi itu akan menuntun setiap diri untuk bertumbuh dan menjadi.
Maka, umur adalah soalan menunggu tentang diri dan segala relasi mengenainya.
Baca Juga : Mencermati Survei Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia Tahun 2023
Saya tertegun mendengar petuah seorang guru di atas mimbar dengan tongkat yang mulai lapuk.
Bahwa umur manusia akan tergerus dengan 'menunggu'. Sesungguhnya seseorang saat lahir, ia akan melibatkan orang lain di luar dirinya menunggu.
Lahir, bayi, kanak, dewasa, tua, lalu mati, adalah deretan etape menunggu.
Baca Juga : Orang-Orang Biasa di Rumah Tepi Kali
Seseorang pada kesendiriannya menunggu kehadiran orang lain mengusir kesunyian.
Setelah mereka bersama dalam biduk rumah tangga, kehidupan terasa gamang sebab ada sosok lain yang turut dinanti.
Buah hati, kehadirannya ternyata tak juga membuat laku menunggu itu berkesudahan, kita terus melakoninya sampai segalanya terputus oleh kematian.
Baca Juga : Ayah dan Secangkir Puisi yang Tumpah
Rentang imaginasi bagi mereka yang berdiri dalam kesahajaan akan mencukupkan diri dengan yang digenggam.
Umur dalam bangku tunggu diselimutinya dengan syukur.
Syukur yang hidup sebab ia menyakini bahwa sebaik-baik umur adalah yang dihabiskan untuk melukis sebanyak-banyaknya kebahagiaan buat orang lain. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News