Agar Perut Tak Buncit, Yuk Ikuti Cara Duduk Nabi Saat Makan

Ilustrasi. (Sumber: iStock).

Menurut pandangan kesehatan bahwa makan dalam keadaan bersandar dapat menyebabkan makanan tersasar masuk ke saluran napas. Dalam kondisi normal makanan yang ditelan hanya masuk ke esofagus (saluran cerna bagian atas) dan tidak masuk ke trakea (saluran napas bagian atas), sebab pada saat menelan, celah laring akan ditutup oleh epiglotis.

Wahab bin Abdullah bin Muslim bin Janadah As-Sawai atau Abu Juhaifah (wafat 74 H), mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau,

لاَ آكُلُ وَأَنَا مُتَّكِئٌ

"Aku tidak makan dalam keadaan bersandar." (HR. Bukhari no. 5399).

Baca Juga : Ini Dahsyatnya Balasan Bagi Orang yang Puasa, Bikin Semangat Sepanjang Ramadan

Makan dengan posisi bersandar disebut muttaki-an dalam hadis tersebut.

Ibnul Atsir rahimahullah berkata, "Yang dimaksud muttaki-an adalah condong ketika duduk bersandar pada salah satu sisi." (Lihat Tawdhihul Ahkam, 5: 439).

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari (9: 451), “Mengenai makna ittika’ diperselisihkan maknanya oleh para ulama. Ada yang mengatakan, pokoknya bersandar ketika makan dalam bentuk apa pun. Ada yang menjelaskan, yang dimaksud adalah condong pada salah satu sisi. Ada pula yang memaknakan dengan bersandar dengan tangan kiri yang diletakkan di lantai.”

Baca Juga : Keutamaan Anak yang Saleh, Harta Abadi Orang Tua

Dari perkataan Imam Malik –yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar- terdapat isyarat bahwa beliau memaksudkan duduk ittika’ untuk segala macam bentuk bersandar, tidak khusus pada cara duduk tertentu.

Makan bersandar pada tangan kiri

Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 451) bahwa ada hadis yang melarang bersandar dengan tangan kiri ketika makan. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu ‘Adi dengan lafaz,

Baca Juga : Waktunya Anak-anak Mandi Hujan, Biar Kekebalan Tubuh Meningkat dan Kreatif

زَجَرَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَعْتَمِد الرَّجُل عَلَى يَده الْيُسْرَى عِنْد الْأَكْل

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bersandar pada tangan kiri ketika makan.” Sayangnya, sanad hadis ini dha’if (lemah) sebagaimana kata Ibnu Hajar. Namun posisi makan seperti ini sebaiknya dihindari karena masih termasuk ittika’ (bersandar) sebagaimana kata Imam Malik.

Hukum makan sambil bersandar?

Baca Juga : Tidak Ada Urusan Teman Dekat, Ini Peringatan Nabi Bagi Orang yang Minta Jabatan

Ibnul Qashsh menyatakan bahwa hal ini hanya dimakruhkan untuk nabi. Namun Al Baihaqi menyatakan, yang lainnya pun dimakruhkan makan sambil bersandar. Karena cara makan seperti ini berasal dari para raja non Arab. Namun jika ada seseorang yang tidak memungkinkan makan selain dengan bersandar, hal itu tidak dikatakan makruh. (Lihat Fathul Bari, 9: 451).

Di antara alasan kenapa makan sambil bersandar terlarang karena dikhawatirkan perut menjadi bertambah buncit. Sebagaimana ada riwayat dari Ibnu Abi Syaibah dari jalan Ibrahim An Nakho’i. Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Fath (9: 452).

Ibnu Hajar mengatakan, “Jika sudah disadari bahwasanya makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama, maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan adalah dengan menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.” (Fathul Bari, 9: 452).

Baca Juga : Cara Nabi Hadapi Berita Bohong

Dalam tulisan Laila, Hadis Tentang Posisi Makan Sambil Bersandar (Kajian Fiqh Al-Hadits), dikatakan, meskipun hadis yang menyatakan bahwa Nabi saw tidak makan sambil bersandar tidak diriwayatkan oleh sahih Muslim, tetapi di dalam kitabnya dijelaskan bagaimana cara duduknya Nabi saw pada saat makan dan dalam syarahnya sahih muslim dijelaskan bahwa Nabi saw tidak pernah makan sambil bersandar, bunyi teks hadisnya yaitu: duduk bersimpuh” yaitu duduk dengan melipat betis ke belakang dan ditindih dengan pantat (Al-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin syaraf, Sahih Muslim bi Syarhi al-Imam al-Nawawi, h. 806).

Cara duduk seperti ini adalah duduk dengan sopan. Nabi saw seperti ini agar membuatnya tidak betah banyak makan sehingga tidak terlalu banyak makan. Duduk yang menegakkan kedua telapak kaki dan duduk di atas kedua tumitnya, gaya seperti ini adalah gaya seorang yang giat dan tangkas, Beliau duduk demikian agar membuatnya tidak betah duduk sehingga tidak terlalu banyak makan, biasanya orang yang duduk macam ini tidak dapat duduk dengan tenang, dengan begitu ia tidak akan makan terlalu banyak, karena seseorang yang duduk.

Cara duduk seperti ini adalah duduk dengan sopan. Nabi saw seperti ini agar membuatnya tidak betah banyak makan sehingga tidak terlalu banyak makan. Duduk yang menegakkan kedua telapak kaki dan duduk di atas kedua tumitnya, gaya seperti ini adalah gaya seorang yang giat dan tangkas, Beliau duduk demikian agar membuatnya tidak betah duduk sehingga tidak terlalu banyak makan, biasanya orang yang duduk macam ini tidak dapat duduk dengan tenang, dengan begitu ia tidak akan makan terlalu banyak, karena seseorang yang duduk dengan posisi enak biasanya akan menyantap makanan lebih banyak walaupun ada juga yang makannya banyak meski posisi duduknya tidak mengenakkan, ada juga makannya sedikit walaupun posisi duduknya mengenakkan, hanya saja lebih baik mengambil posisi duduk yang sewajarnya agar hal itu membuatnya tidak makan terlalu banyak, karena makan terlalu banyak bukan perbuatan yang pantas untuk dilakukan.

Model duduk dengan melipat betis dan ditindih dengan pantat adalah model duduk yang paling bermanfaat dan paling baik, karena semua organ tubuh berada pada posisi aslinya sesuai penciptaan Allah swt selain itu juga merupakan posisi makan yang sopan, kondisi yang paling baik saat manusia makan adalah apabila organ tubuhnya berada pada keadaan alaminya. Hadis yang diriwayatkan oleh Sahih Muslim ini mengokohkan makna hadis makan sambil bersandar, bahwa duduknya Nabi saw ketika makan adalah duduknya orang yang sedikit makan, kemudian mengenai gayanya ialah agar cepet selesai. Maka kedua cara dan gaya itu sepatutnya menjadi contoh dan akhlak pula bagi setiap muslim (Majelis Tertinggi untuk Urusan Keislaman Mesir, Muntakhobu Minassunnah, h. 38).

Secara kontekstual, makan sambil bersandar tidak dilarang, asalkan tidak menimbulkan kemewahan dan kesombongan, adapun dengan tersedianya meja-meja makan dan fasilitas-fasilitas yang memudahkan seseorang untuk makan tidak dilarang, asalkan tidak berakhir pada kemewahan dan kesombongan seperti yang dijelaskan tadi. 

Sedangkan posisi makan sambil bersandar dari segi kesehatan membahayakan kesehatan tubuh adalah posisi duduk dengan posisi condong atau menyandarkan tubuhnya ke samping yang mengakibatkan posisi saluran pencernaan tidak lurus seperti layaknya sehingga hal ini dapat merusak pencernaan.

Posisi bersandar yang dapat menyebabkan makanan tidak bisa mudah turun kesaluran makanan adalah makan dengan condong ke salah satu sisi. Tetapi, apabila seseorang mendapatkan pantangan yang tidak memungkinkan makan selain dengan bersandar, maka hal itu tidak dilarang. Adapun dengan tersedianya meja-meja makan dan fasilitas-fasilitas yang memudahkan untuk makan selama tidak berakhir pada kesombongan hal ini tidak dilarang.

Menurut pandangan kesehatan bahwa makan dalam keadaan bersandar dapat menyebabkan makanan tersasar masuk ke saluran napas. Dalam kondisi normal makanan yang ditelan hanya masuk ke esofagus (saluran cerna bagian atas) dan tidak masuk ke trakea (saluran napas bagian atas), sebab pada saat menelan, celah laring akan ditutup oleh epiglotis.

Selain itu, makan dalam keadaan tengkurap juga ditafsirkan dengan bersandar pada lambung, salah satunya berisiko membahayakan orang yang makan yakni model makan bersandar pada lambung, sebab perbuatan ini menjadikan saluran makanan tidak dalam kondisi normal, menghambat laju makanan ke lambung dan menekan lambung, sehingga tidak terbuka dengan baik untuk menerima makanan, juga lambung ikut miring tidak tegak, akibatnya makanan sulit sampai ke lambung, dalam kondisi ini kerongkongan dan organ-organ telan lainnya menyempit.

Maka anjuran makan seperti cara Nabi merupakan cara ideal. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru