Akhirnya Presiden Dengar Langsung di Cianjur, Banyak Korban belum Dapat Bantuan
Gempa Cianjur
"Biasanya relawan yang lewat memberikan lebihan santunan kepada kami, tapi terkadang kami juga minta kepada relawan yang lewat agar menyisihkan kepada warga kami," kata Ketua RT 01 Kampung Sukawarna, Eti.
Cianjur, jejakfakta.com – Akhirnya Presiden mendengar langsung masalah penyaluran bantuan yang belum sampai ke korban gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
"Sulitnya mendistribusikan logistik, kemudian juga mengevakuasi karena titiknya banyak sekali," kata Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), seperti dikutip dari tvonenews, di RSUD Sayang, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (24/11/2022).
Ini kali kedua Presiden Jokowi ke lokasi bencana Cianjur pascagempa M 5,6 mengguncang Cianjur Senin (21/11/22) pukul 13.21 WIB.
Baca Juga : Isi Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Bahas Ibadah yang Khusyuk hingga Kerangka Ekonomi Makro 2025
Presiden mengakui, saat kunjungan pertamanya ke lokasi bencana Cianjur Selasa (22/11), sudah memerintahkan agar penyaluran bantuan memakai helikopter.
"Kenapa hari Selasa pagi saya sampaikan menggunakan helikopter diperlukan karena memang titiknya terlalu banyak," ungkap Presiden.
Presiden Jokowi berharap kondisi Cianjur segera tertangani, “Kemudian, kita bisa konsentrasi ke rehabilitasi karena ini kelihatannya sudah mulai mereda."
Baca Juga : Real Count KPU 70,61%: Anies-Muhaimin 24,35%, Prabowo-Gibran 58,32%, Ganjar-Mahfud 17,33%
Melansir Tempo, Kamis (24/11), masih banyak korban yang mengungsi belum mendapat bantuan. Salah satunya di Kampung Sukawarna, Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang. Pantauan tiga hari pascagempa Cianjur.
Warga bernama Eti (47) yang juga Ketua RT 01 Kampung Sukawarna, bercerita ke Tempo, sudah dari sejak awal gempa terjadi, warga di daerahnya belum mendapat santunan dari pemerintah.
Eti menyebut saat ini warganya bergantung pada pemberian bantuan dari relawan yang lalu lalang di jalan.
Baca Juga : Isi Pertemuan Presiden Jokowi dan Ketum Nasdem Surya Paloh, Pertama Kalinya Sejak Hajatan Pemilu 2024
"Biasanya relawan yang lewat memberikan lebihan santunan kepada kami, tapi terkadang kami juga minta kepada relawan yang lewat agar menyisihkan kepada warga kami," kata dia saat ditemui oleh Tempo di posko pengungsian Kampung Sukawarna.
Untuk kebutuhan warga, Eti berkata saat ini makanan sudah cukup terpenuhi dengan pembagian kepada warga yang terjadwal setiap pagi dan sore. Namun, ia menjelaskan, saat ini warganya membutuhkan tenda untuk tinggal sementara.
"Jadi tenda saat ini masih dari swadaya masyarakat. Satu tenda itu bisa menampung dua hingga tiga atau lebih keluarga," kata Eti.
Baca Juga : Rakernas APEKSI XVI Digelar di Makassar, Berikut Rangkaian Acaranya
Sudah setiap hari Eti berkoordinasi dengan kepala desa tempat ia tinggal. Sebagai pemimpin di tingkat rukun tetangga, ia menyampaikan keluhan warganya selama di pengungsian.
"Tapi hingga saat ini belum ada bantuan yang datang dari pemerintah. Baru dari relawan yang lewat aja dan itu berupa makanan dan air," ujarnya.
Presiden: Segera
Baca Juga : Presiden Jokowi Bakal Hadiri Rakernas APEKSI 12 Juli 2023 di Makassar
Dalam kunjungan Kamis, Presiden berkunjung ke Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.
Kecamatan Cugenang merupakan titik pusat gempa Cianjur Senin (21/11) siang.
“Ini adalah episentrumnya dan yang paling parah, terutama untuk rumah-rumah yang roboh yang paling banyak adalah di sini. Yang meninggal pun, yang banyak juga di sini,” kata Presiden Jokowi dalam keterangannya, di Kampung Munjul, Desa Gasol, Kecamatan Cugenang.
Presiden Jokowi menegaskan bahwa rehabilitasi bagi rumah korban akan segera dilakukan pemerintah setelah proses evakuasi dan distribusi bantuan selesai dengan baik.
“Yang paling penting setelah nanti evakuasi ini selesai, distribusi bantuan sudah bisa menjangkau ke semua lokasi, baru babak berikutnya adalah rehabilitasi untuk rumah-rumah yang roboh berat, sedang, maupun yang ringan,” kata Presiden.
Terkait skema bantuan yang diberikan pemerintah, Presiden mengatakan bahwa pemerintah tidak akan terpaku pada satu skema. Pemerintah akan menyerahkan langsung kepada masyarakat untuk memilih skema mana yang dinilai dapat mempercepat proses rehabilitasi.
“Ada yang nanti dibangun oleh Kementerian PU, ada yang juga dibangun dibantu oleh TNI, ada juga yang diserahkan kalau memang itu bisa mempercepat. Kita tidak terpaku pada satu skema,” ucap Presiden.
Data terbaru, tercatat 272 korban meninggal akibat gempa bumi 5,6 magnitudo di Cianjur. Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis 271 korban meninggal.
Pertambahan angka korban meninggal diperoleh dari satu orang warga yang sebelumnya terdata hilang dan ditemukan meninggal dunia oleh tim gabungan, Kamis (24/11/22).
“Hari ini satu jenazah ditemukan. 272 meninggal dunia,165 telah diidentifikasi by name by address, 107 jenazah masih terus diidentifikasi. Sementara itu korban luka-luka 2.046 orang, warga mengungsi 62.545 orang," kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto di Kantor Bupati Cianjur, Kamis (24/11).
Suharyanto menyebut masih ada korban hilang di satu wilayah desa akibat tertimbun longsor yang terjadi pascagempa.
"Korban hilang 39 di Cijedil, Kecamatan Cugenang akibat longsor, tujuh di antaranya orang sedang melintas dan ada saksi mata yang melihat," kata mantan Pangdam Brawijaya tersebut.
BNPB sudah mengidentifikasi nama dan alamat 39 jiwa tersebut di Desa Cijedil.
Kerugian materil, lanjut Suharyanto, juga masih pendataan, laporan dari desa dan camat langsung ke posko utama di kantor Bupati Cianjur.
"Total rumah rusak 56.311, rusak berat 22.267 unit, rusak sedang 11.836 unit dan rusak ringan 22.208 unit. Data ini akan diverifikasi dengan batasan yang sudah ada, ada Permen PUPR tentangspesifikasi kategori rumah rusak," kata Suharyanto.
Penanganan bencana masih akan terus dilakukan, untuk hari ini masih berfokus dalam pencarian dan penyelamatan korban.(ile/tvonenews/TEMPO/BPMI SETPRES/AIT).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News