Nyatanya Pengungsi Gaza Pun Dibantai, Serangan Israel Mengarah Nakba Kedua!
Pada 1948, sedikitnya 700 ribu orang dipaksa mengungsi dan dirampas tanahnya oleh Israel. Jumah itu telah beranak pinak menjadi jutaan orang di pengungsian di Palestina dan negara tetangga seperti Lebanon. Sampai sekarang, meski sebagian masih memegang kunci rumah dan sertifikat tanah, mereka tak diberi hak pulang.
Gaza - Hari ini hampir sepekan pasukan pendudukan Israel menyerang Jalur Gaza, Palestina. Lebih dari 1.900 warga Gaza tewas, kebanyakan adalah warga sipil dan termasuk lebih dari 600 di antaranya adalah anak-anak. Parahnya lagi, Israel juga membantai pengungsi Gaza dan situasi mirip Nakba kedua.
Melansir dari Al Arabiya, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), Sabtu (14/10/2023), melaporkan, lebih dari 1.300 perumahan hancur di Jalur Gaza akibat serangan Israel sejak Sabtu (7/10/23) hingga saat ini.
"Menurut Kementerian Pekerjaan Umum Gaza, 1.324 perumahan dan non-perumahan, yang terdiri dari 5.540 unit rumah, telah hancur,” kata OCHA. "Sebanyak 3.743 unit rumah lainnya telah rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi dan tidak dapat dihuni.” Sebanyak 55.000 unit rumah lainnya rusak sebagian, kata OCHA.
Baca Juga : DMI Salurkan Makanan Siap Saji dan Air Bersih untuk Pengungsi Palestina di Gaza
PBB mengklaim telah memantau jumlah orang yang mengungsi dari rumah mereka di Jalur Gaza, yakni, lebih dari 423.000 orang, tercatat pada Kamis (12/10/2023).
Israel kemudian memperingatkan bahwa sekitar 1,1 juta orang di wilayah utara Gaza harus segera mengungsi ke wilayah selatan, menjelang serangan darat yang diperkirakan akan dilakukan oleh Israel.
Baca Juga : Serangan Israel di Bulan Ramadhan, Pembangunan Masjid Semi Permanen di Palestina Terhenti
Pejuang militan Palestina, Hamas, mengecam peringatan Israel. Hamas mengingatkan agar Israel berhenti melakukan propaganda palsu dan Hamas sudah siap menghadapi serangan darat Israel. Hamas pun meminta rakyat Palestina di Gaza tetap di tanah mereka, jangan pindah, abaikan peringatan penjajah.
OCHA mengatakan, hingga Jumat kemarin, diperkirakan puluhan ribu orang telah melarikan diri. “Saat ini, cakupan pasti pengungsi internal di Jalur Gaza tidak diketahui."
Baca Juga : Hamas Sampaikan Terima Kasih atas Peran Jusuf Kalla dalam Membantu Palestina
Kementerian Kesehatan Palestina, melaporkan, “Kendaraan mereka yang mengungsi dari wilayah utara terkena serangan [Israel], menewaskan lebih dari 40 orang dan melukai 150 lainnya. Insiden ini mendorong banyak orang meninggalkan upaya evakuasi dan kembali ke rumah.”
“Pada awalnya tidak ada koridor aman yang disediakan bagi orang-orang untuk mematuhi perintah untuk bergerak ke selatan dengan aman. Ratusan orang, termasuk keluarga, harus mengungsi dengan berjalan kaki.”
OCHA mengatakan sebagian besar warga di Jalur Gaza kini tidak memiliki akses terhadap air minum bersih. “Sebagai upaya terakhir, masyarakat mengonsumsi air payau dari sumur pertanian, sehingga memicu kekhawatiran serius mengenai penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air.”
Baca Juga : Indonesia Sambut Gencatan Senjata Gaza, Dorong Perdamaian Berkelanjutan
OCHA mengatakan bahwa sejak dimulainya penyerangan, enam sumur air, tiga stasiun pompa air, satu reservoir air, dan satu pabrik desalinasi yang melayani lebih dari 1.100.000 orang, telah hancur akibat dibombardir oleh Israel.
Situasi Gaza makin parah, kata OCHA, pemadaman listrik secara menyeluruh oleh Israel telah menghambat layanan kesehatan, pasokan air.
Baca Juga : Gencatan Senjata Israel-Hamas Hampir Disepakati, JK: Semestinya Sudah Dilakukan Sejak Dulu Secara Permanen
Bantai Pengungsi Gaza
Sudah bukan rahasia lagi, klaim Israel menggempur Gaza karena hanya menargetkan Hamas, adalah bohong besar. Nyatanya, saat ini pendudukan Israel membantai masyarakat sipil dan berusaha merampas bumi Gaza.
Jumat (13/10/2023), Israel mengultimatum warga di utara Gaza untuk mengungsi ke selatan. Saat sebagian menjalani pengusiran paksa tersebut, rakyat Gaza dibom dengan brutal dalam kendaraan yang mereka gunakan mengungsi.
Dilaporkan berbagai media Palestina, puluhan orang, terutama perempuan dan anak-anak, tewas dalam beberapa serangan udara Israel di jalan utama yang menghubungkan Gaza utara dan selatan. Mereka yang gugur diketahui sedang melaksanakan perintah Israel untuk meninggalkan rumah mereka.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 70 orang gugur dalam tiga serangan udara terpisah di jalan raya, dengan serangan terbaru yang menewaskan sedikitnya 40 orang.
Tentara Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat bahwa warga sipil harus meninggalkan Kota Gaza di utara, dan bahwa mereka tidak akan diizinkan untuk kembali “sampai kami membolehkannya” dan sampai “sebuah pernyataan dikeluarkan yang mengizinkan hal ini”.
Namun, penduduk setempat telah melaporkan sejumlah serangan di Jalan Salah al-Din sejak saat itu. Para penyintas, saat berbicara kepada media lokal, memohon agar warga lainnya tidak melakukan perjalanan tersebut karena takut menjadi sasaran tentara Israel.
“Jangan pergi,” kata seorang penyintas serangan kepada media lokal seperti dilansir Middle East Eye (MEE). “Mereka mengebom konvoi tersebut. Mereka mengebomnya di Jalan Salah al-Din. Mereka mengebom ambulans.”
Korban selamat lainnya mengatakan serangan itu merupakan “target langsung terhadap perempuan dan anak-anak”.
"Saya berada di dalam truk. Ada sekitar 200 orang, 90 persennya adalah perempuan dan anak-anak. Kami mengambil jalan utama yang diketahui seluruh dunia. Seluruh keluarga saya bersama saya. Entah dari mana, mereka menjatuhkan bom. Semuanya gelap dan saya pingsan selama 10 menit," kata mereka kepada media lokal.
“Saat saya bangun saya melihat seorang ibu terbaring bersama bayinya, yang otaknya berada tepat di sebelahnya. Saya mendengar suara ambulans lalu mereka mengebom lagi. Saya berlindung dan setelah beberapa menit mencoba memeriksa kerusakan, lalu mereka mengebom lagi."
Warga Palestina dari utara Gaza telah menjadi pengungsi dalam beberapa hari terakhir akibat kampanye pemboman Israel.
Koresponden MEE, Maha Hussaini, telah meninggalkan rumahnya di utara menyusul perintah pemindahan paksa. Reporter MEE lainnya di lapangan mengatakan bahwa saat ini "seperti Nakba kedua" atau bencana dalam bahasa Arab, dan "banyak keluarga sekarang meninggalkan rumah mereka".
PBB meminta Israel untuk membatalkan perintah evakuasi. “Perserikatan Bangsa-Bangsa menganggap gerakan seperti itu tidak mungkin terjadi tanpa konsekuensi kemanusiaan yang buruk,” kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB.
Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan tegas meminta agar perintah semacam itu, jika memang benar, dibatalkan, untuk menghindari hal yang dapat mengubah situasi yang sudah menjadi tragedi menjadi situasi yang membawa malapetaka.”
Hamas: Bertahan!
Jumat (13/10/2023), pejabat Hamas menyerukan kepada penduduk Jalur Gaza untuk tetap tinggal di rumah di tanah mereka di Gaza. Seruan Hamas menentang seruan militer Israel agar lebih dari satu juta warga sipil pindah ke selatan dalam waktu 24 jam.
Seruan Hamas disampaikan melalui pengumuman di masjid. Masjid-masjid yang berada di Gaza menyiarkan pesan: "Pertahankan rumahmu. Pertahankan tanahmu."
Hamas yang memimpin wilayah Gaza selama ini menggambarkan perintah evakuasi Israel sebagai disinformasi yang dirancang untuk menyebarkan kepanikan dan memfasilitasi rencana Israel untuk menyerang dan menghancurkan kelompok militan Hamas.
Nakba kedua
Ancaman invasi darat Israel telah memunculkan gambaran Nakba yang mengacu pada perang pada 1948 yang menyebabkan perampasan massal wilayah Palestina.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di Amman, bahwa dia juga menolak pemindahan paksa warga Palestina di Gaza. Dia mengatakan kejadian seperti itu akan menjadi Nakba kedua.
Pada 1948, sedikitnya 700 ribu orang dipaksa mengungsi dan dirampas tanahnya oleh Israel. Jumah itu telah beranak pinak menjadi jutaan orang di pengungsian di Palestina dan negara tetangga seperti Lebanon. Sampai sekarang, meski sebagian masih memegang kunci rumah dan sertifikat tanah, mereka tak diberi hak pulang.
Analis Gaza Talal Okal menggambarkan perintah relokasi Israel sebagai upaya untuk mendorong rakyat Palestina di Gaza ke dalam Nakba.
“Seperti yang mereka lakukan pada 1948 ketika mereka mengusir orang-orang dari Palestina yang bersejarah dengan menjatuhkan barel bahan peledak ke kepala mereka, hari ini Israel mengulangi hal yang sama di depan mata dunia dan kamera langsung,” kata Okal.(Al Arabiya, Republika, MEE, BBC, dan berbagai sumber).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News