Dua Alasan Israel Masih Tunda Serangan Darat ke Gaza

Brigade al-Qassam militer sayap Hamas Palestina.

Pada tahun 2014, batalion infanteri Israel mengalami kekalahan besar akibat ranjau anti-tank, penembak jitu, dan gempuran dari terowongan bawah tanah Hamas yang sulit diperhitungkan arah dan jaraknya.

Gaza, jejakfakta - Zionis Israel belum melancarkan serangan darat ke Jalur Gaza Palestina hingga detik ini. Zionis beralasan cuaca dan diduga lagi awas dampak buruk bagi Israel sendiri jika operasi darat terbesar ini terjadi.

Pejabat senior Israel berbicara kepada The New York Times bahwa invasi Israel ke Gaza ditunda karena kondisi cuaca yang menyulitkan pilot pesawat dan operator drone dalam mendukung pasukan darat Israel. 

Cuaca dimaksud pejabat Israel adalah hujan. Di Tel Aviv, Ahad (15/10/2023) malam, hujan sebentar membawa banjir ke jalan protokol. Di sekitar perbatasan Gaza, tidak terpantau apakah kondisinya sama atau tidak.

Baca Juga : DMI Salurkan Makanan Siap Saji dan Air Bersih untuk Pengungsi Palestina di Gaza

Banjir di Tel Aviv, Ahad (15/10/2023) malam. Banjir pascahujan membuat jalan protokol tak bisa dilalui kendaraa. 

Dampak buruk yang mengintai Israel jika melancarkan serangan darat, yaitu, bisa terjebak ranjau militer Hamas, Brigade Izzedine al-Qassam, yang terbukti pernah melumat pasukan Israel.

Pada tahun 2014, batalion infanteri Israel mengalami kekalahan besar akibat ranjau anti-tank, penembak jitu, dan gempuran dari terowongan bawah tanah Hamas yang sulit diperhitungkan arah dan jaraknya.

Baca Juga : Serangan Israel di Bulan Ramadhan, Pembangunan Masjid Semi Permanen di Palestina Terhenti

Potensi dampak buruk lainnya, Israel harus menanggung biaya yang besar karena meluasnya perang. Sudag banyak negara yang menyatakan siap berjuang bersama Hamas memerdekakan Palestina, Iran, salah satunya.

Pada Senin (16/10/2023) malam waktu setempat, Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, dalam pernyataan kepada Kantor Berita Republik Islam (IRNA), mengatakan, Israel tidak akan diizinkan untuk mengambil tindakan apa pun di Jalur Gaza tanpa menghadapi konsekuensinya.

“Semua opsi terbuka, dan kita tidak bisa acuh terhadap kejahatan perang yang dilakukan [Israel] terhadap rakyat Gaza,” kata Amir Abdollahian.

Baca Juga : Hamas Sampaikan Terima Kasih atas Peran Jusuf Kalla dalam Membantu Palestina

Hossein Amir-Abdollahian mengungkapkan bahwa kekuatan “poros” akan segera meluncurkan serangan pencegahan ke Israel. Hal itu menurutnya bisa terjadi dalam hitungan jam bila Israel tak menghentikan pemboman di Gaza.

Poros Perlawanan dilaporkan mencakup Iran, Suriah dan Hizbullah serta kelompok milisi anti-Barat atau anti-Israel di wilayah tersebut. 

“Kami tidak memberikan perintah kepada kekuatan perlawanan di kawasan, namun mereka mengambil keputusan sendiri,” kata Amir-Abdollahian.

Baca Juga : Indonesia Sambut Gencatan Senjata Gaza, Dorong Perdamaian Berkelanjutan

Israel dilaporkan telah merencanakan serangan ke Gaza pada Sabtu (14/10/2023), sebagaimana turunnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecek kesiapan tempur prajurit IDF ke perbatasan luar Gaza. Hari yang sama, Brigade Al Qassam Hamas merilis video "sambutan" yang menyatakan siap menghadapi pasukan Israel. 

Hingga Selasa (17/10/2023), pasukan Israel yang terdiri puluhan ribu prajurit, pasukan komando, tank, kendaraan pendeteksi ranjau, pesawat tempur, helikopter tempur, drone tempur hingga artileri dari darat dan laut, belum juga bergerak, masih diam di perbatasan. Belum ada serangan darat masuk ke Gaza.

Rencana Operasi Darat Terbesar

Baca Juga : Gencatan Senjata Israel-Hamas Hampir Disepakati, JK: Semestinya Sudah Dilakukan Sejak Dulu Secara Permanen

Rencana Israel kali ini, jika terjadi, akan menjadi operasi darat terbesar sejak Zionis menginvasi Lebanon tahun 2006 dan pertama kalinya bagi Israel merebut Gaza yang sempat mereka duduki selama Perang Enam Hari tahun 1967. Itu jika terjadi sesuai rencana Israel.

Hingga berita inu diturunkan, belum ada pengumuman resmi kapan Israel akan memulai serangan darat.

Gencatan Senjata?

 Israel dikabarkan setuju gencatan senjata dalam perang melawan pejuang Palestina, Hamas, di Jalur Gazam 

"Israel setuju gencatan senjata sementara di Gaza selatan, penyeberangan perbatasan Rafah akan Dibuka," kata media Israel, Haaretz, Senin (16/10/2023).

Media berbasis Tel Aviv tersebut melaporkan, Israel mengizinkan bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui pintu perbatasan Mesir, Rafah. 

"Bantuan tersebut dikirim ke Jalur Gaza di bawah pengawasan Mesir, seperti yang diminta oleh Amerika Serikat. Bantuan tersebut sebagian besar mencakup air dan obat-obatan. Namun bahan bakar tidak akan diberikan ke Gaza, karena Israel mengklaim Hamas menggunakan sisa pasokan bahan bakar – baik dari rumah sakit maupun warga sipil – untuk mengoperasikan generator di terowongannya, dan bukan untuk tujuan kemanusiaan," kata Haaretz.

Hari yang sama, media Palestina, Shehab News Agency, melaporkan, pihak otoritas Gaza belum mengetahui kepastian apakah Israel memilih gencatan senjata atau tidak.

Pejabat Hamas, Izzat El Reshiq, mengatakan kepada Reuters, Senin (16/10/2023), laporan tentang pembukaan perbatasan Rafah dengan Mesir atau gencatan senjata sementara, masih tanda tanya alias tidak benar.

Hamas Siap Hadapi Serangan Darat Israel

Pejuang militan Palestina, Hamas, sudah siap menghadapi rencana pendudukan Israel melancarkan serangan darat ke Jalur Gaza. Hamas siap menumpas pasukan pertahanan Israel (IDF).

Dua hari lalu, Hamas merilis video yang merekam "sambutan" Hamas terhadap pasukan Israel. Bunyinya sebagai berikut:

Selamat datang kepada para tentara Israel yang mau Gaza, kami sangat menyambut kalian.

Silakan masuk, maka akan ada tiga pilihan buat kalian. Pertama, Gaza menjadi kuburan massal kalian.

Kedua, kalian akan menjadi tawanan kami.

Ketiga, kalian akan kembali ke tempat kalian dalam kondisi cacat, baik cacat tubuh maupun cacat mental.

Demikian bunyi sambutan tentaran Al Qassam Hamas.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengunjungi basis militer IDF di perbatasan luar Jalur Gaza, Sabtu (14/10/2023). 

Seperti direkam NBC News, dalam kunjungan tersebut, Netanyahu menyambangi para pasukan Israel di sana dan berkata, "Kalian siap untuk tahap selanjutnya? Tahap selanjutnya akan datang."

Netanyahu tidak menerangkan apa maksud "tahap selanjutnya". 

Jumat (13/10/2023) pendudukan Israel mulai menyebar informasi tenggat waktu dengan dalih ingin melancarkan serangan darat, memburu pejuang militan Palestina, Hamas.

Sambil menyuruh 1,1 juta warga mengungsi, pemerintah Israel sibuk mengerahkan ratusan ribu tentara dan peralatan militer ke perbatasan untuk mengepung Gaza.

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, mengatakan, warga sipil Palestina “yang ingin selamat” harus memperhatikan ultimatum Israel untuk mengungsi ke arah selatan Gaza.

Ismail Haniyeh, pemimpin kelompok militan Palestina Hamas, dalam pidatonya di televisi. mengatakan, warga Palestina tidak akan meninggalkan Gaza atau Tepi Barat dan bermigrasi ke Mesir. 

“Keputusan kami adalah untuk tetap berada di tanah kami,” kata Haniyeh.

Amerika Tambah Kapal Induk

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) menambah kelompok penyerang kapal induk untuk membantu sekutunya, Israel, yang hari ini genap sepekan membombardir rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Sabtu (14/10/2023), seorang pejabat senior AS mengatakan kepada ABC News bahwa kelompok penyerang kapal induk USS Eisenhower diperintahkan ke Mediterania timur untuk bergabung dengan kelompok penyerang kapal induk USS Gerald R Ford yang lebih dulu tiba di sana dan berada di perairan internasional lepas pantai Israel.

“Saya telah mengarahkan Kelompok penyerang kapal induk (CSG) USS Dwight D Eisenhower untuk mulai bergerak ke Mediterania Timur,” kata Menteri Pertahanan Lloyd Austin dalam sebuah keterangannya mengonfirmasi pengerahan tersebut. 

“Sebagai bagian dari upaya kami untuk mencegah tindakan permusuhan terhadap Israel atau upaya apa pun untuk memperluas perang ini setelah serangan Hamas terhadap Israel," katanya menambahkan.

Kapal induk Eisenhower meninggalkan Norfolk, Virginia, Sabtu (14/10/2023) pagi menuju ke kawasan Timur Tengah melalui Laut Mediterania.

Para pejabat senior AS mengatakan bahwa kehadiran kelompok penyerang kapal induk USS Ford di Mediterania timur dan penambahan lebih banyak jet tempur Angkatan Udara Amerika ke wilayah tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan komitmen AS terhadap Israel. 

AS juga mempertimbangkan penempatan kapal serbu amfibi USS Bataan lebih dekat ke Israel untuk memberikan dukungan tambahan jika diperlukan. 

Kelompok penyerang Eisenhower mencakup kapal induk USS Eisenhower dan kapal penjelajah berpeluru kendali USS Philippine Sea (CG-58), serta kapal perusak berpeluru kendali USS Laboon (DDG-58), USS Mason (DDG-87) dan USS Gravely (DDG- 107).

Kelompok penyerang USS Ford tiba di perairan Mediterania timur pada Selasa (10/10/2023) dan termasuk kapal penjelajah USS Normandy (CG 60), serta kapal perusak USS Thomas Hudner (DDG 116), USS Ramage (DDG 61), USS Carney (DDG 64), dan USS Roosevelt (DDG 80).

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, dalam siaran persnya, Ahad (8/10/23), menuduh perjuangan rakyat Palestina yang digawangi militan Hamas sebagai serangan teroris. 

Berbeda dari Amerika dan sekutu Israel lainnya, PBB dan kebanyakan negara menyatakan tindakan Hamas adalah sah, sebagai bentuk perjuangan membela Tanah Air mereka dan penjajag Israel. Hukum internasional pun mengesahkan, bangsa yang terjajah berhak melakukan penyerangan kapan saja terhadap penjajah. 

Menurut Mantan Wakil Dubes Indonesia untuk Mesir, Aji Surya, seperti pengalaman di Perang Arab-Israel 1948, Perang Enam Hari 1967, dan Perang Yom Kippur 1973, Perang Gaza kali ini akan membuat Israel memperluas wilayahnya dan mungkin mencaplok kembali Jalur Gaza.(New York Times/IRNA/Haaretz/Reuters/ABC News/Republika/defense.gov).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru