Peneliti Sebut Presiden Jokowi sebagai Parasitik Simbion

Yoes C. Kenawas, peneliti politik dinasti saat Diskusi Publik, "Politik Dinasti dan Ancaman Demokrasi di Indonesia" yang digelar LAPAR di Cafe Lorong jalan Salemba, Makassar. Selasa (7/11/2023). @Jejakfakta/dok. Istimewa

Politik dinasti ini adalah politik kepentingan untuk menguntungkan pribadi atau keluarga. Jika dilanggengkan, maka kesempatan bagi orang lain untuk menjabat di pemerintahan sangat sulit.

Jejakfakta.com, Makassar -- Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat Sulawesi Selatan (Lapar Sulsel), gelar diskusi publik, di Cafe Lorong jalan Salemba, Makassar. Selasa (7/11/2023).

Diskusi bertemakan "Politik Dinasti dan Ancaman Demokrasi di Indonesia" mengundang narasumber yang berlatar belakang sebagai peneliti politik dinasti dari Nortwestern University USA, Yoes C. Kenawas dan seorang dosen filsafat dari UIN Alauddin Makassar, Muhammad Ridha.

Dalam diskusi tersebut, kedua narasumber merespon isu dugaan politik dinasti yang di bangun oleh presiden RI, Joko Widodo (Jokowi). Dengan mendorong anaknya untuk maju menjadi calon wakil presiden di Pilpres 2024 mendatang.

Baca Juga : Jusuf Kalla Tempuh Jalur Hukum, Laporkan Dugaan Pencemaran Nama Baik ke Bareskrim

Menurut Yoes, Jokowi saat ini mulai berupaya membangun politik dinasti bahkan ke tingkat pemerintahan paling tinggi.

"Bahkan yang sekarang ini belakangan kita lihat bersama bagaimana politik dinasti itu merasuk bahkan ke tingkat yang paling tinggi pemerintahan di indonesia dengan pencalonan mas Gibran (Cawapres)," kata Yoes dalam dialog publik tersebut.

"Maka apa yang kita lihat pada hari ini itu masuk ke dalam definisi tersebut, bahwa sedang ada upaya untuk membangun sebuah dinasti politik di tingkat paling tinggi di indonesia," sambungnya.

Baca Juga : Pemilu 2024 Jadi Anomali, Demokrasi Merosot Akibat Cawe-cawe Kekuasaan

Yoes menuturkan, bahwa sangat kuat dugaan dinasti politik yang di bangun oleh Jokowi, mulai dari menantunya yang menjadi Wali Kota di Medan, kemudian anak bungsunya yang dalam dua hari menjadi ketua partai, hingga anak sulungnya yang belum selesai menjabat sebagai wali kota Solo. Lalu di dorong sebagai Cawapres.

"Pertama kalinya dalam sejarah ada seorang presiden yang memiliki hubungan kekerabatan dengan ketua Mahkamah Konstitusi yang pada akhirnya memutuskan keputusan yang menguntungkan anggota keluarganya dan itu tentu ancaman besar bagi demokrasi indonesia," ungkapnya.

Yoes mengatakan politik dinasti ini adalah politik kepentingan untuk menguntungkan pribadi atau keluarga. Jika dilanggengkan, maka kesempatan bagi orang lain untuk menjabat di pemerintahan sangat sulit.

Baca Juga : Jokowi Masuk Nominasi Pemimpin Terkorup: Doxing Peneliti ICW Picu Sorotan Publik

"Dalam sistem ini membuka kesempatan bagi orang-orang yang saya sebut sebagai parasitik simbion. Parasitik simbion adalah orang-orang yang mengaku demokratis menggunakan instrumen-instrumen demokrasi, menggunakan institusi demokrasi untuk mengumpulkan atau memusatkan kekuasaannya di tangan mereka atau di tangan keluarga tertentu," pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Atri Suryatri Abbas
Berita Terbaru