Catatan Sekjen MUI: Proses Pemilu 2024 belum Sepenuhnya Konsisten Menjalankan Regulasi, Peraturan, dan Perundangan-undangan

Pemilu 2024

Debat capres 2024 pertama Selasa, 12 Desember 2023. Tema: pemerintahan, hukum, HAM, pemberantasan korupsi, penguatan demokrasi, peningkatan layanan publik, dan kerukunan warga.

Ketiga, penurunan nilai demokrasi lebih kepada prosedural, dan mengabaikan substansial.

Jakarta - Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Buya Amirsyah Tambunan, memberi catatan terkait proses Pemilu 2024 yang tidak lama lagi pemungutan suara.

Melansir dari MUIDigital, berikut ini sejumlah catatan Buya Amirsyah:

Pertama, menurut Buya Amisryah, pasangan calon [calon presiden dan calon wakil presiden] belum siap kalah, karena hanya siap menang. 

Baca Juga : KPU RI Telah Terima Hasil Gugatan Sengketa PSU di MK, Segara Diekspos

Kedua, para pendukung pasangan calon terlalu fanatik dalam mendukung pasangan calonnya. 

Ketiga, penurunan nilai demokrasi lebih kepada prosedural, dan mengabaikan substansial. 

Keempat, penyelenggaraan Pemilu 2024 belum sepenuhnya konsisten menjalankan regulasi, peraturan, dan perundangan-undangan. 

Baca Juga : Intip Rencana MUI Dirikan Tempat Pengobatan yang Sesuai Syariat Islam

"Kelima, institusi negara termasuk organisasi kemasyarakatan seperti MUI, NU, Muhamadiyah rentan ditarik ke arah politik praktis untuk mendulung paslon tertentu," katanya. 

Dari catatan tersebut, Buya Amirsyah menilai, diperlukan kesadaran bersama (kolektif) agar kompak dan bersatu untuk mewujudkan pemilu yang maslahat. 

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhamadiyah Jakarta tersebut berharap agar Pemilu 2024 bukan hanya menghasilkan pemimpin yang lebih baik, tetapi juga menghasilkan kemaslahatan untuk umat dan bangsa.

Baca Juga : KPU Tetapkan Prabowo-Gibran Pemenang Pilpres 2024 dengan 96.214.691 Suara, Unggul 36 Provinsi

"Maslahat adalah sesuatu yang mendatangkan faedah, manfaat berupa kebaikan, keselamatan, kedamaian, keharmonisan agar terhindar dari anarkisme, kekerasan dan bentuk lainnya," kata Buya Amirsyah dalam keterangannya yang diterima MUIDigital.

Buya Amirsyah mendorong lima upaya untuk mewujudkan Pemilu 2024 yang maslahat, yaitu:

Pertama, masing-masing Paslon tidak hanya siap menang, tapi harus siap kalah, karena dibalik kekalahan paslon, terdapat kemenangan rakyat untuk kedaulatan umat dan bangsa.

Baca Juga : KPU Tetapkan Hasil Pileg DPR 2024, PPP dan PSI Gagal Melaju ke Senayan

Kedua, para pendukung paslon dengan wajar sehingga tidak berlebihan (mubazir). Sikap berlebihan akan melahirkan panatisme yang berlebihan, karena itu berpolitik seadanya, berteman selamanya. Artinya dengan pilihan beda, tapi ukhuwah (islamiyah, basyariah dan wathaniyah) bukan pilihan, akan tetapi wajib untuk di amalkan semua pihak agar terwujud kemenangan umat dan bangsa. 

Ketiga, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia harus dapat mewujudkan demokrasi dari prosedural menuju substansial yakni penyelenggaraan Pemilu yang menjalankan prosedur secara jujur dan adil (jurdil), damai dan bermartabat.

Keempat, regulasi pemilu yang dipersiapkan harus dilaksanakan secara konsisten untuk mewujudkan pemilu maslahat yang bermartabat. 

Baca Juga : Presiden Jokowi Ungkap: Biasanya Kasus Bullying Ditutup-tutupi untuk Lindungi Nama Baik Sekolah

Kelima, pentingnya memiliki kesadaran bersama untuk bersikap netral, terutama Lembaga Negara, penyelenggara Pemilu dan sejumlah Ormas seperti NU, Muhammadiyah sehingga dapat mewujudkan Pemilu maslahat yang bermartabat. Semoga.

Sumber: MUIDigital

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru