Dana Rp 278,83 Triliun Mengendap di Bank, Presiden Harap Daerah Cepat Pakai
Dana yang mengendap saat ini lebih tinggi dari periode sebelumnya di tahun 2021 yang berkisar Rp210-220 triliun.
Jakarta, jejakfakta.com - Dana Rp 278,83 triliun mengendap di perbankan, menurut data dari Menteri Keuangan, hingga akhir Oktober 2022. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) berharap duit tersebut cepat terealisasi dan memacu perekonomian daerah. Apatah lagi di situasi pelik saat ini.
“Kita ini cari investasi agar dapat arus modal masuk, yang sudah ada di kantong enggak dipakai, ya percuma. Rp278 triliun gede banget lho, gede banget, besar sekali. Ini kalau cepat direalisasikan, cepat dibelanjakan, ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di daerah, hati-hati,” kata Presiden Jokowi saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Investasi Tahun 2022, di The Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu (30/11/2022).
Dana yang mengendap saat ini lebih tinggi dari periode sebelumnya di tahun 2021 yang berkisar Rp210-220 triliun.
Baca Juga : Hari Otonomi Daerah ke-30, Wabup Gowa Tekankan Sinergi Pusat-Daerah Demi Pemerataan Pembangunan
Presiden memerintahkan kepada kepala daerah untuk cepat-cepat merealisasikan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) guna memacu pertumbuhan ekonomi daerah.
“Ini mengenai APBD, karena mumpung ada gubernur, bupati, wali kota, ini saya ingatkan, kita ini mencari uang dari luar agar masuk, terjadi perputaran uang yang lebih meningkat; tetapi uang kita sendiri yang ditransfer dari Menteri Keuangan ke daerah-daerah justru enggak dipakai,” kata Presiden Jokowi.
Presiden memerintahkan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memantau dana yang belum terealisasi tersebut.
Baca Juga : Bongkar Lima Strategi Dongkrak PAD, Dirjen Keuda Kemendagri Tekankan Intensifikasi hingga Inovasi
“Memang realisasi biasanya di akhir tahun, di Desember, tapi ini ndak. Kita bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya ini sudah melompat tinggi sekali. Ini cost of money kayak gini, biaya uang itu gede banget. Kalau caranya kita enggak ngerti bahwa ini ada biayanya,” ujar Presiden.
Presiden pun mengungkapkan bahwa besaran realisasi belanja nasional lebih tinggi dibanding realisasi belanja daerah, yaitu 76 persen berbanding 62 persen.
“Ini sudah Desember lho, besok sudah Desember, hati-hati. Artinya, kita pontang-panting cari arus modal masuk, cari capital inflow lewat investasi, tetapi uang yang ada di kantong sendiri tidak diinvestasikan. Ini hati-hati, ini keliru besar ini, keliru besar,” kata Presiden Jokowi. (TGH/UN/Setkab)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News