Yang Dianjurkan Ucapan "Innalillahi" Ketika Terpilih Jadi Pejabat
Umar bin Abdul Aziz memasukkan kepalanya ke dalam dua lututnya dan menangis sesegukan seraya berkata, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.
Kalimat istirja, Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn(a), Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali, selain diucapkan ketika mengetahui kematian atau mengalami musibah, juga dianjurkan saat terpilih jadi pejabat atau diamanahi jadi pemimpin.
Mengutip alhikmah, dalam sejarah pemimpin besar umat Islam, Umar bin Abdul Aziz menangis terisak-isak ketika diangkat menjadi Khalifah pada dinasti Bani Umayyah tepat pada hari Jumat, 10 Shafar 99 Hijriyah.
Umar bin Abdul Aziz memasukkan kepalanya ke dalam dua lututnya dan menangis sesegukan seraya berkata, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun.
Baca Juga : Pentingnya Wawasan Keagamaan dalam Memilih Pemimpin
Kemudian Umar berujar, “Demi Allah, sungguh aku tidak meminta urusan ini sedikitpun, baik dengan sembunyi-sembunyi maupun dengan terang-terangan.”
Dikatakan, Umar bin Abdul Aziz menangis karena khawatir akan keadaan dirinya kelak di hari akhir. Sebab, amanah yang diembannya amat berat dan tidak main-main.
Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim).
Baca Juga : Umar bin Khattab Pemimpin Adil, Larang Anaknya jadi Pejabat Penerus, Tak Suka Privilese
Dan, penting disadari, ketika seorang pemimpin mengabaikan amanah, maka ia termasuk dari golongan orang yang dibenci oleh Allah Ta’ala.
“Ada empat golongan yang paling Allah benci. Peniaga yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina, dan seorang pemimpin (penguasa) yang zalim.” (HR An-Nasai).
Tugas berat
Tugas pemimpin yang teramat berat yaitu komitmen pada kebenaran.
Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu kala menyampaikan pidato pertamanya tidak lama setelah dilantik menjadi pemimpin umat. Ia tak menyatakan rasa syukur, apalagi terlihat gembira atau mengadakan pesta. Berikut pidato Abu Bakar ra:
Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah aku.
Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. ‘Orang lemah’ di antara kalian aku pandang kuat posisinya di sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya.
‘Orang kuat’ di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak mereka yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya.
Janganlah di antara kalian meninggalkan jihad, sebab kaum yang meninggalkan jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya.
Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku. Kini marilah kita menunaikan shalat semoga Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua.
Komitmen Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu sangat patut menjadi teladan bagi pemimpin manapun di dunia saat ini, terutama yang beragama Islam. Sikap tersebut akan memudahkan sosok pemimpin itu peka, tajam pendengaran dan penglihatannya, sehingga bukan lagi soal dirinya yang dipikir, tetapi kesejahteraan dan kemajuan rakyat.
Dalam Al-Qur’an kita akan menemukan sikap pemimpin luar biasa, yakni Nabi Sulaiman Alayhissalam. Jangankan manusia, suara semut, alasan burung pun beliau dengar dan ditindaklanjuti dengan penuh kesungguhan. Allahu a’lam. (Alhikmah.ac.id)
Artikel telah tayang di alhikmah.ac.id dengan judul Innalillah, Saat Diberi Jabatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News