Lebaran Idulfitri 1445 Hijriah Rabu 10 April Versi Muhammadiyah
Ramadan 1445 H
Keputusan lebaran versi Muhammadiyah dimuat dalam Maklumat PP Nomor 1/MLM/I.0/E/2024 berdasarkan hasil hisab wujudul hilal yang dipedomani oleh majelis tarjih dan tajdid.
Makassar, jejakfakta - Lebaran Idulfitri 1445 Hijriah jatuh pada Rabu 10 April 2024 menurut keputusan Muhammadiyah.
Hari lebaran versi pemerintah masih menunggu pemantauan hilal dan sidang isbat penetapan 1 Syawal atau penetapan Hari Raya Idulfitri.
Keputusan lebaran versi Muhammadiyah dimuat dalam Maklumat PP Nomor 1/MLM/I.0/E/2024 berdasarkan hasil hisab wujudul hilal yang dipedomani oleh majelis tarjih dan tajdid.
Baca Juga : Puncak Arus Balik di Pelabuhan Makassar Diperkirakan H+10 Idulfitri 1445 H
Artinya hari terakhir Ramadan Muhammadiyah Selasa 9 April 2024. Atau 14 hari lagi menuju Lebaran 2024.
Amalan 10 Terakhir
Itikaf menjadi cara ideal umat Islam mencari malam kemuliaan Lailatulqadar yang diyakini terjadi pada 10 terakhir Ramadan.
Baca Juga : 6 Topik Pembicaraan Ini Perlu Dihindari Saat Kumpul Keluarga
Doa-doa yang dipanjatkan di malam Lailatulqadar lebih baik daripada 1000 bulan, pahala ibadah dilipatgandakan, dan banyak faedah lainnya. Inilah alasan banyak muslim memilih amalan Itikaf di malam 10 terakhir Ramadan.
Itikaf berasal dari kata ‘akafa (عكف) yang berarti al habsu (الحبس) adalah mengurung diri atau menetap.
Diartikan pula bahwa Itikaf adalah berhenti (diam) di dalam masjid dengan syarat-syarat tertentu, semata-mata niat beribadah kepada Allah.
Baca Juga : Sholat Id di Masjid Al-Azhar, JK Bersyukur Lebaran Tahun Ini Lebih Ramai dan Syahdu
Menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah, pengertian itikaf secara bahasa adalah berada di suatu tempat dan mengikat diri kepadanya.
Itikaf bisa dilakukan kapan saja, bukan hanya di bulan Ramadan. Bahkan Anda dapat beritikaf dalam rentang waktu antara Magrib ke Isya di masjid.
Namun, Itikaf di bulan Ramadan, jelas jauh lebih primadona. Sebab dalam bingkai Ramadan sendiri, segala ibadah dilipatgandakan pahalanya.
Baca Juga : Terbuka untuk Umum, Pj Gubernur Sulsel Ajak Masyarakat Datang ke Open House Lebaran di Rumah Jabatan
Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya Fiqih Islam wa Adilatuhu mengatakan bahwa itikaf dianjurkan pada semua waktu, di bulan Ramadan atau di bulan lainnya. Serta dilakukan pada suatu masjid.
Rasulullah Saw selalu melaksanakan itikaf di bulan Ramadan. Baginda tak pernah melewatkan Itikaf hingga datang ajal. Dari Aisyah, ia berkata:
أَنَّ النَّبِيِّ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ إِلَى أَنْ تَوَفَّاهُ اللَّهُ تَعَالَى
Baca Juga : Pantauan Hilal 1 Syawal 1445 H di Kampus Unismuh, BMKG: Posisi Hilal 5 Derajat
Artinya: "Nabi SAW dulu senantiasa beritikaf selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sejak beliau tiba di Madinah sampai beliau wafat." (HR Muttafaq Alaih).
Syarat dan Rukun Itikaf:
1. Niat mendekatkan diri kepada Allah Swt
Sebagaimana sabda Nabi SAW, "Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung dengan niatnya." (HR Bukhari dan Muslim).
Ada beberapa bacaan niat itikaf, silakan Anda pilih.
نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالَى
Nawaitul i'tikaafa fii haadzal masjidi lillaahi ta'aalaa
Artinya: "Saya niat itikaf di masjid ini karena Allah SWT."
Atau:
نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ
Nawaitu an a'takifa fii haadzal masjidi maa dumtu fiihi
Artinya: "Saya niat itikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya."
Atau niat singkat ini:
نويت الاعتكاف لله تعالي
“Nawaitul I’tikaf Lillahi Ta’ala”
2. Berdiam di dalam masjid sekurang-kurangnya selama tuma’ninah salat.
Saat berdiam atau berada di masjid, orang yang beritikaf meninggalkan perbuatan-perbuatan yang terlarang.
Sebagaimana firman Allah SWT “…Tetapi, jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beritikaf dalam masjid.” (QS Al-Baqarah: 187).
3. Islam dan suci serta sudah akil baligh.
Yang beritikaf harus muslim, berakal, suci dari hadas besar (ada pendapat yang mengatakan bahwa hadas kecil juga membatalkan itikaf), dan harus di masjid.
Itikaf dianggap sah bila memenuhi tiga rukun tersebut di atas.
Amalan-amalan saat Itikaf
1. Salat
Salat adalah amalam utama saat itikaf. Baik salat fardu maupun sunah, baik berjamaah maupun yang sendiri. Seperti salat lima waktu, salat rawatib (qabliyah dan ba'diyah). Tentunya salat-salat sunah yang dianjurkan seperti tahajud.
2. Berzikir
Berzikir adalah amalan yang dianjurkan saat beritikaf. Itikaf bukanlah tinggal melamun atau dengan pikiran kosong di masjid. Itikaf adalah upaya mendekatkan diri kepada-Nya.
Zikir dapat ditempuh dengan berbagai cara seperti membaca Alquran, membaca dan memahami kandungan makna ayat Alquran, membaca asmaul husna, dan sebagainya.
3. Berdoa
Itikaf adalah kesempatan ideal berdoa kepada Allah dengan mohon ampunan, rahmat serta ridha-Nya, hingga apa saja yang kita inginkan.
Apatah lagi jika doa Anda menemui turunnya Lailatulqadar.
Di kota Makassar, dua masjid besar yang selalu mengadakan Itikaf di malam 10 terakhir Ramadan: Masjid Al Markaz Al Islami Jend Jusuf dan Masjid Raya Makassar.
Khusus di Al Markaz Al Islami, kegiatan itikaf dimulai pukul 02.00 Wita dengan berbagai salat sunat yang dipimpin para imam senior dan imam besar. Ada salat tobat, salat tasbih, salat tahajud, dan witir. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News