Asosiasi Petani Lada Loeha Raya Menolak tegas segala bentuk Kegiatan PT Vale Indonesia di Loeha Raya
Pentingnya memprioritaskan kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan serta mempertimbangkan aspirasi dan kebutuhan lokal.
Jejakfakta.com, Luwu Timur -- Kondisi di Loeha Raya kembali menegang. Ketegangan ini dipicu oleh aktivitas PT Vale Indonesia di Loeha Raya yang sedang melakukan pelatihan pendidikan.
Diketahui sebelumnya bahwa Asosiasi Petani Lada Loeha Raya telah dengan tegas menolak kehadiran perusahan pertambangan nikel ini di Loeha Raya, namun sampai sekarang konflik antar masyarakat dengan perusahaan belum kunjung usai.
Yahya, selaku ketua Asosiasi Petani Lada Loeha Raya mengatakan bahwa menurut perusahaan kegiatan pelatihan pendidikan yang ditujukan untuk siswa TK, SD, SMP, dan SMA diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka.
Baca Juga : Tendangan Perdana Wabup Tandai Pembukaan Bupati Cup 1 se-Loeha Raya
Namun, masyarakat setempat menegaskan bahwa manfaat jangka panjang dari pendidikan tersebut tidak dapat mengimbangi kerugian yang diakibatkan oleh aktivitas pertambangan nantinya.
"Bahkan dengan dikeluarkannya Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH), membuat kami merasa khawatir. Kami merasa cemas dengan berbagai tindakan dan strategi yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan. Padahal, kami, sebagai petani lada, telah mampu menyekolahkan anggota keluarga kami hingga tingkat sarjana. Bahkan, dalam satu rumah bisa terdapat 3-4 sarjana. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kebun merica bagi kami, masyarakat," ujar Yahya melalui keterangan tertulis yang diterima Jejakfakta.com, Kamis (9/5/2024).
Lebih lanjut, Tokoh masyarakat Ali Kamri, juga menyoroti aktivitas perusahaan tersebut dengan menjelaskan bahwa kami telah sadar seperti apa nantinya dampak yang ditimbulkan dari aktivitas tambang, makanya kami menolak.
Baca Juga : Petani dan Perempuan Loeha Raya Menolak Stigma: "Kami Bukan Perusak, Kami Bertahan Hidup"
"Peran PT. Vale Indonesia dalam dunia pendidikan membuat saya curiga. Kami merasa seakan diadu dengan tenaga pendidik dan anak didik. Kami kehilangan kepercayaan pada PT Vale. Dalam konteks pendidikan, partisipasi dinas pendidikan seharusnya diutamakan, bukan keterlibatan perusahaan yang dikenal sebagai pengrusak lingkungan," tegasnya.
Untuk itu, Asosiasi Petani Lada Loeha Raya mengambil sikap dalam memperjuangkan hak-hak kami dan menyuarakan keprihatinan kami terhadap dampak negatif yang akan ditimbulkan dari kegiatan aktivitas PT. Vale Indonesia.
Masyarakat menegaskan pentingnya memprioritaskan kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan serta mempertimbangkan aspirasi dan kebutuhan lokal dalam setiap kegiatan yang berdampak pada wilayah mereka.
Baca Juga : Buka Bersama di Desa Ranteangin, Bupati Irwan Akan Siapkan Ambulance Air
Diberitakan sebelumnya, Head of Communications PT Vale Indonesia, Bayu Aji, mengaku perluasan tambang ke Blok Tanamalia karena Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Apalagi, sebelum melakukan eksplorasi, pihaknya selalu mengedepankan dialog. Sehingga, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi penghentian perambahan hutan.
“Kita tidak melakukan kegiatan, kalau tidak mendapatkan akses dari penggarap lahan,” tutur dia dalam keterangan tertulisnya.
Menurut Bayu, pihaknya juga memiliki komitmen untuk menghormati dan melindungi hak asasi manusia (HAM), baik masyarakat maupun karyawan. Selain itu, juga ada catatan tentang konteks kerentanan masyarakat akibat dampak alam dan konflik sosial. (*)
Baca Juga : Serahkan Surat ke PT Vale Indonesia, APL Minta Pengosongan Camp Eksplorasi Tambang Nikel
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News