Rahim Tak Gentar
Cerpen
Di lorong (gang) kecil tampat tinggalnya pun, ia seringkali melerai rekannya yang sedang "bentrok" gegara urusan mainan. Rahim tumbuh di lingkungan sesak nan padat penduduk, di sebuah lorong sempit di kotanya.
Oleh:
Abdul Karim
(Penulis, mantan Direktur LAPAR Sulsel)
Baca Juga : Penertiban PKL di Makassar Dikritik, Lapar Sulsel: Pemerintah Jangan Hanya Kejar Estetika Kota
Ia sebenarnya berhati lembut, tak jahat. Saat masih duduk di bangku SD kelembutan hatinya terpancar dari sikapnya yang mendamaikan rekannya yang cekcok gegara berebut bola saat bermain di halaman sekolah. Di lorong (gang) kecil tampat tinggalnya pun, ia seringkali melerai rekannya yang sedang "bentrok" gegara urusan mainan.
Rahim tumbuh di lingkungan sesak nan padat penduduk, di sebuah lorong sempit di kotanya. Ia hidup bersama kedua orang tuanya di sepetak rumah kontrakan berukuran 4x6 meter persegi.
Sebelum tinggal di situ, keluarga rudin ini hidup berpindah dari rumah kontrakan yang satu ke rumah kontrakan lainnya. Semuanya, di dalam kawasan lorong.
Baca Juga : LAPAR Sulsel Nilai SDM Legislator Perlu Diteliti demi Kesejahteraan Rakyat
Dan seperti umumnya lorong di kota itu, kehidupan sesak nan padat, kumuh, drainase yang buntu adalah ciri khasnya. Sumber penghidupan warga lorong yang umumnya serabutan, hingga nihilnya layanan air bersih juga sangat khas.
Di lorong itu, hanya satu orang yang mengakses air bersih PAM, yakni, Pak Rauf, pensiunan guru SMP. Dia adalah ketua RT di sana. Warga yang hendak memakai air untuk konsumsi harus membeli air PAM di rumah sang ketua RT. Jirgen ukuran 20 liter dibeli dengan harga Rp. 10.000.
Saat PLN menjalankan "program mati lampu" secara bergilir, warga di lorong itu tumpah ruah di luar rumah, di pinggiran setapak lorong dengan sobekan kardus ditangan. Mengipas tubuh masing-masing yang kepanasan. Saban hari pula, rentenir datang menagih pada sejumlah warga. Ada pula penjual alat-alat dapur keluar-masuk di lorong itu menawarkan jualannya. Pembayarannya dilakukan secara tunai dan kredit harian atau mingguan. Dg, Kebo', ibu Rahim salah satu pelanggannya. Di tengah suasana hidup lorong seperti itu, Rahim bertumbuh, bermain, bersekolah seperti halnya anak kebanyakan.
Baca Juga : Ayam dan Manusia
Kedua orang tua Rahim bekerja serabutan. Sang ibu, Daeng Kebo' bekerja sebagai tukang cuci pakaian yang diupah sekali seminggu. Saban hari, tiga rumah tangga ia layani untuk cuci pakaian. Dalam setiap pekan, total upah yang diterimanya tak kurang dari Rp. 150.000.
Sementara Dg. Ngitung sang suami, bekerja kadangkala jadi buruh angkat barang di pelabuhan. Seringkali ia tarik Bentor yang disewanya dari seorang juragan Bentor. Tak jarang ia bekerja sebagai buruh bangunan atau tukang parkir.
Hasil keringat kedua orang tua Rahim selain menutupi kebutuhan hari-hari, juga disisihkan untuk biaya sekolah Rahim walaupun pendidikan gratis berjalan. "Bu, Rahim sekarang kelas VI SD, tahun depan dia masuk SMP. Kita harus bersiap", kata Dg. Ngitung disuatu malam pada istrinya.
Ayah Rahim faham situasi, bahwa anak semata wayangnya itu tak boleh hidupnya menjelma seperti kehidupannya kelak. Dan ia faham, hanya bersekolah, nasib Rahim tak akan serupa nasibnya. Ia hanya ingin Rahim bersekolah, tak perlu cerdas. Yang penting dapat izajah, lalu bekerja kantoran.
Hingga di suatu malam yang gelap, khayalnya mulai mengepul saat menyeruput kopi di depan rumah kontrakannya yang sempit itu. Tembakau yang dihisapnya mengeluarkan asap tebal dari bibirnya. Sementara kursi kayu lapuk yang ia duduki tetap betah ditindis pantatnya. Nyamuk yang menghisap darahnya tak dihiraukannya.
Dalam khayalnya, ia melihat putranya, Rahim, mengenakan busana necis; sepatu kulit hitam mengkilap, celana kain hitam yang dipadu kemeja putih bersih, hingga sepasang dasi warna biru dengan kembang kecil yang warna-warni, jam tangan impor, hingga tas kulit cokelat--semua itu menempel di tubuh Rahim.
Baca Juga : Lakpesdam dan Lapar Sulsel Gelar Diskusi Soal Pemilu dan Desakan Reformasi Partai Politik
Saat itu, suatu pagi dirumah mewahnya, Rahim bersiap sedia menuju kantor. Sarapan bersama istri dan dua orang anaknya telah usai. Dan sebuah mobil sedan merk Honda warna putih sedari tadi menanti di garasi bersama Dg. Ngerang, sang supir.
Tiba di kantor, Rahim langsung menuju ruangannya di lantai lima. Hanya sejenak di situ, ia menuju lantai tiga untuk memipin rapat. Di kantor megah itu, Rahim adalah Kepala Kantor Perwakilan sebuah bank milik negara.
Kebahagiaan Dg. Ngitung melihat putra semata wayangnya dalam khayalnya terhenti saat dua ekor kucing berkejaran di hadapannya. "Hussss, huuusss, huuussss, pergi", bentaknya pada dua ekor binatang itu.
Tetapi Dg. Ngitung berbahagia, sebab Rahim menyelesaikan sekolah hingga SLTA melalui program pendidikan gratis di kotanya. Namun kecewa menghampiri, sebab biaya kuliah teramat sulit dijangkaunya. Tinggallah Rahim jadi pengangguran belia.
Rahim lalu menghabiskan waktunya di jalan raya terutama saat larut malam membungkus kota. Rahim jadi joki balap motor liar di tengah jalan raya. Jika menang, ia kadang mendapat upah Rp. 200 ribu. Uang itu dipakainya beli baju, minum alkhohol bersama rekannya, jika ada sisa, ia berikan pada ibunya di rumah.
Keberaniannya menunggang roda dua dengan kecepatan tinggi itu lalu ia digelari oleh teman-temannya "Rahim Tak Gentar". Siapapun dilayaninya untuk balapan liar, sepanjang sewanya oke.
Hebat mengaspal, ia diajak temannya membegal di tengah jalan. "Ayomi, kau kan jago balap motor", ajak Accung pada Rahim. Tanpa pikir panjang, Rahim mengiyakannya.
Suatu malam, kedua remaja ini menjalankan aksinya. Korbannya, adalah seorang mahasiswi. Dengan motor Matic rekannya, Rahim melaju kencang menghampiri motor yang dikendarai mahasiswi itu. Accung sukses merampas tas milik mahasiswi itu. Orang-orang berkerumun menolong mahasiswi itu yang jatuh dari motornya. Dengan gas full, Rahim melaju tanpa ada yang mengejarnya.
Setibanya di rumah Accung, tas rampasan tadi dibuka, dan isinya, smartphone Samsung dan dompet berisi uang Rp 300 ribu. Gelar “Rahim Tak Gentar” semakin sempurna melengket. Sebab ia jago mengaspal dan membegal.
Di suatu malam yang larut, celaka menyambut. Rahim yang pulas usai meneguk alkohol di rumah Accung disergap polisi. Pekan lalu, ia membegal seorang ibu yang ternyata istri seorang sersan tentara. Rahim tak gentar diborgol. Mata Dg Kebo’ dan Dg Ngitung banjir air melihat anaknya diringkus polisi. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News