Pete-Pete Kian Tersingkir, Siapa yang Bertahan?
FOTO CERITA
Moda transportasi pete-pete, yang dulu menjadi andalan warga Makassar dalam beraktivitas sehari-hari, kini semakin kurang diminati. Seiring masa, tersingkir di antara hadirnya transportasi berbasis online.
Irfan (40) duduk santai di atas mobil angkutan pete-pete, sambil memandangi lalu lalang orang di Jalan AP Pettarani, di depan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Model, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (12/3/2025). Sehari, ia hanya bisa meraup pendapatan tertinggi hanya 100 ribu, tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
"Paccei lurang (tidak ada penumpang), kadang 70 ribu, kadang 100 ribu paling tinggi itu. Pajak mobil 60 ribu," ujar Irfan, saat ditemui Jejakfakta.
Baca Juga : Wali Kota Makassar Finish 10K MHM 2026, Lebih dari 12 Ribu Pelari Ramaikan Losari
Moda transportasi pete-pete, yang dulu menjadi andalan warga Makassar dalam beraktivitas sehari-hari, kini semakin kurang diminati. Seiring masa, tersingkir di antara kencangnya moda-moda lain. Namun, sejumlah pengemudi tetap bertahan.
Tak ada pilihan lain bagi Irfan untuk bertahan menjadi pengemudi Pete-pete. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, banyak pengguna yang beralih ke moda transportasi lainnya.
Ditambah, salah satu moda transportasi Bis Mamminasata, jalur kampus Unhas membuatnya ia terpukul.
Baca Juga : TP PKK Makassar Turun ke Sekolah, Siswa SMP Diajak Jadi Agen Perubahan Pengelolaan Sampah
"Sebelumnya bisa dapat 400 ribu per hari (pendapatan bersih), sekarang hanya 100 ribu. kadang 70 ribu," keluhnya.
"Tidak cukup, macam saya ada anak, 3 anak. Itu mana cukup. Mana harus isi bensin lagi."
Meski kurang penghasilan, Irfan tetap terus bertahan, dan berdoa tetap mendapat keberuntungan. Khususnya warga yang tetap memilih angkot, karena alasan murah dan trayek yang melewati rumahnya.
Baca Juga : Perwakilan Makassar Bersinar di MTQ Maros, 31 Kafilah Lolos Final Bidik Juara Umum
"Karena opsi termurah, kalo pakai gojek lumayan mahal 15 ribuan. Ini hanya 5 rib sampai 8 ribu ji. Saya mau mau pulang ke Batua Raya," ujar Fad fayad, siswa MTS 1 Makassar.
Baca Juga : Hadiri Dharma Santi Nyepi, Wali Kota Makassar Ajak Warga Hindu Rawat Kerukunan dan Keberagaman
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News