Hadapi Dampak Perang Dagang Global 2.0, Pemprov Sulsel Susun Langkah Strategis

Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, saat menghadiri forum diskusi “Sulsel Talk” yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel di Baruga Pinisi, Kantor BI Sulsel, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Rabu (14/5/2025). @Jejakfakta/dok. Humas Pemprov Sulsel

Pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai 5,78 persen pada kuartal I-2025, naik dari 5,18 persen pada kuartal sebelumnya.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggandeng berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun langkah strategis menjaga pertumbuhan ekonomi daerah di tengah meningkatnya ketegangan Perang Dagang Global 2.0.

Melalui forum diskusi “Sulsel Talk” yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel di Baruga Pinisi, Kantor BI Sulsel, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Rabu (14/5/2025), berbagai pihak duduk bersama membahas dampak konflik dagang global terhadap ekonomi daerah.

Forum yang mengangkat tema “Ekonomi Sulsel di Pusaran Perang Dagang Global 2.0: Menakar Risiko, Menjemput Peluang” ini menghadirkan Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Kepala BI Sulsel, Kepala OJK Sulselbar, serta ekonom senior dari INDEF.

Baca Juga : Kementerian ATR/BPN dan KPK Gencarkan Transformasi Layanan Pertanahan di Sulsel

Perang Dagang Global 2.0 merujuk pada babak baru ketegangan perdagangan antarnegara besar, khususnya antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Konflik ini ditandai dengan peningkatan tarif, hambatan non-tarif, hingga persaingan teknologi, yang berdampak pada rantai pasok dan pasar global.

Sekretaris Daerah Sulsel, Jufri Rahman, menekankan pentingnya forum ini sebagai wadah merumuskan langkah konkret dalam menjaga kestabilan ekonomi daerah.

“Kegiatan ini sangat penting, mengingat dunia kini menghadapi ketidakpastian akibat memanasnya perang dagang global,” ujarnya.

Baca Juga : Bupati Irwan Teken Komitmen Pengolahan Sampah, Dorong Warga Jadi Garda Terdepan Kebersihan Luwu Timur

Meski dampaknya belum terlalu signifikan, Jufri menyebut Sulsel tetap perlu waspada karena sebagian besar ekspor daerah masih ditujukan ke Jepang dan Tiongkok—dua negara yang turut terpengaruh dinamika global.

“Karena sebagian besar ekspor Sulsel ke Jepang dan Tiongkok, dampaknya belum terlalu terasa. Tapi kita harus tetap bersiap,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap hasil diskusi ini bisa menjadi masukan penting dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulsel 2025–2030. Di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi, Pemprov terus berupaya menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca Juga : Wabup Gowa Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor Lewat Pelatihan

“Kami berharap Sulsel Talk ini memperkaya substansi RPJMD lima tahun ke depan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa meski pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2025 sedikit melambat (4,87 persen), wilayah Sulawesi justru mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni 6,40 persen secara tahunan (year-on-year).

Sulsel berperan besar dalam capaian tersebut dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,78 persen pada kuartal I-2025, naik dari 5,18 persen pada kuartal sebelumnya.

Baca Juga : Luwu Timur Sapu Bersih Tiga Penghargaan Sulsel, Bukti Kinerja Nyata Tekan Kemiskinan hingga Dongkrak Ekonomi

“Sulsel menempati posisi kelima dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor utama pendorongnya antara lain pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan,” ungkap Rizki, yang sebelumnya bertugas di Divisi Analisis Kebijakan Moneter BI.

Forum ini juga menghadirkan Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, serta ekonom senior INDEF, Dr. Aviliani, S.E., M.Si., yang dikenal luas sebagai analis kebijakan ekonomi nasional dan global. Keduanya menyoroti strategi memperkuat sektor jasa keuangan dan memperluas ekspor sebagai langkah menghadapi gejolak ekonomi global.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Samsir
Berita Terbaru