Rabu, 09 November 2022 15:55

Pemasyarakatan Peduli TB, Yamali-TB Sosialisasi Penyakit TBC di Lapas Kelas I Makassar

Editor : Nurdin Amir
Penulis : Atri Suryatri Abbas
Sosialisasi pentingnya narapidana mengetahui penyakit menular seperti TBC di Lapas Kelas I Makassar. (Foto: Yamali-TB)
Sosialisasi pentingnya narapidana mengetahui penyakit menular seperti TBC di Lapas Kelas I Makassar. (Foto: Yamali-TB)

"Saya berharap melalui kegiatan ini terbangun kesadaran diri dan untuk orang lain untuk deteksi dini gejala TBC serta penangannya," harap Diyah.

Jejakfakta.com, Makassar  - Kasus tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan yang serius. Penyakit Tuberkulosis (TBC) adalah salah satu penyakit menular yang dapat menginfeksi semua kalangan mulai dari bayi, anak-anak, remaja sampai lansia dan menimbulkan kesakitan dan kematian lebih dari 1 juta orang setiap tahun. 

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri patogen yang disebut Mycobacterium tuberculosis (MTB). Pada kebanyakan orang, TB menginfeksi paru, namun dapat juga ditemukan pada hampir semua organ tubuh seperti otak, tulang belakang, dan ginjal. 

"Indonesia negara nomor dua dengan angka kejadian TBC paling tinggi di dunia, setelah India dengan jumlah kasus 969 ribu dan kematian 144 ribu per tahun atau setara dengan 16 atau lebih kematian per jam," ujar Kasri Riswadi, Ketua Yamali TB Sulsel, kepada reporter Jejakfakta.com, Rabu (9/11/2022). 

Baca Juga : Aliyah Mustika Ilham Hadiri Panen Raya di Lapas Kelas I Makassar, Dukung Pembinaan Kemandirian Warga Binaan

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan tahun 2022 sampai September, untuk kasus TBC baru 286 ribu dari 824 ribu kasus yang terdeteksi, sisanya 537 ribu kasus belum terdeteksi. 

Kasri mengungkapkan salah satu penyebab peningkatan kasus ini karna pengetahuan masyarakat terhadap penyakit TBC masih kurang. Selain itu, faktor sosial seperti lingkungan masyarakat pun sangat beperan. 

"Masih adanya stigma negative bagi penderita TBC. Penyakit TBC adalah penyakit memalukan, penyakit orang miskin, TBC adalah penyakit guna-guna, turun-temurun. Penderita merasa dikucilkan dari lingkungannya, yang harusnya diberikan semangat dalam proses penyembuhan malah dijauhi," terang Kasri. 

Baca Juga : Kunjungan Wamenkes ke Gowa, Perkuat Perang Melawan TB dan 2.015 Kasus Jadi Fokus Eliminasi

Stigma ini dapat memperparah penyakit tuberkulosis paru sehingga dapat menyebabkan keterlambatan pengobatan dan berdampak negatif terhadap kelangsungan berobat penderita. Kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu menekan angka kasus penyakit TBC. 

Untuk mencapai target eliminasi TBC di tahun 2030, maka para penggiat TB dari Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) Sulawesi Selatan melakukan upaya sosialisasi dan menjaring pasien TB agar mendapatkan pelayanan yang seharusnya. Salah satu upaya yang dilakukan YAMALI TB untuk penemuan kasus yaitu program sensitisasi penanggulangan TBC. 

"Upaya untuk memberikan pengetahuan dan mendorong perubahan sikap dan perilaku masyarakat agar sensitif atau peka terhadap isu TBC. Jika masyarakat sudah paham informasi mengenai TBC dan menerapkannya pada kehidupan sehari-hari maka bedampak pada pemutusan penularan TBC di masyarakat," jelas Kasri. 

Baca Juga : Munafri Dampingi Wamenkes RI Tinjau Inovasi “Hantu Mesra” di Makassar, Perkuat Pemberantasan TBC

Sri Jayanti Rasyid, Ketua Panitia Pemasyarakatan TB, mengatakan program sensitisasi salah satunya akan dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Gunung Sari Makassar atas kerja sama Yamali TB, Mahasiswa Magang Kampus Merdeka Yamali TB-Bakrie Center Foundation, Rabu (9/11/2022). 

"Seperti yang kita ketahui bahwa tempat ini merupakan salah satu tempat yang memungkinkan penularan TBC jika warga binaan pemasyarakatan tidak mengetahui apa itu TBC dan tidak memedulikan kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan," ujar Sri Jayanti. 

Sri Jayanti menjelaskan, sensitisasi penanggulangan TBC juga penting dilakukan di sektor pemukiman yang berfokus memberikan pemahaman masyarakat mengenai TBC dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-harinya. 

Baca Juga : Pelatihan Posyandu Dimulai, Fokus Tingkatkan Kompetensi Kader

"Hal penting lainnya yang harus dilakukan adalah mengakhiri stigma terhadap orang yang terkena TBC dan saling bahu-membahu melawan penyakit yang menular," ungkapnya. 

Hadir juga Penanggungjawab Program TB Dinas Kesehatan Kota Makassar, Diyah Fajarwati. Ia sangat antuasias atas dilaksanakannya kegiatan penyuluhan yang menyasar warga binaan Lapas Kelas 1 Makassar. 

"Saya berharap melalui kegiatan ini terbangun kesadaran diri dan untuk orang lain untuk deteksi dini gejala TBC serta penangannya," harap Diyah. 

Baca Juga : Dorong Sinergi Antar-Institusi Daerah, Dinkes Lutim Gelar Evaluasi Forum KKS

Sementara dari pihak Lapas, selain dokter dan petugas lapas, hadir memberikan sambutan kepala Kabid Pembinaan Narapidana, Jayadi Kusumah. Ia menjelaskan tentang pentingnya narapidana mengetahui penyakit menular seperti TBC. 

"TBC ini sulit dideteksi, penularannya mudah sehingga pengatahuan tentangnya benar-benar diperlukan. Semoga saudara semua memperoleh pengetahuan dan dapat menyambungkan informasi ini kepada warga lapas yang lain," katanya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Lapas Kelas I Makassar #Yamali TB #Tuberkulosis #Dinas Kesehatan
Youtube Jejakfakta.com