Jejakfakta.com - PANGKEP - Tim asesor UNESCO melanjutkan rangkaian revalidasi Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Kamis (30/7/2026). Pada hari kedua, asesmen difokuskan pada pengembangan masyarakat dan peninjauan geosite di kawasan kepulauan.
Tim asesor mengawali agenda di Sentra UMKM Barakka Jaya dan Rumah Produksi Bersama Komoditas Garam. Kedua lokasi tersebut merupakan bagian dari kategori Community Development Site untuk menilai upaya pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan produk unggulan di kawasan geopark.

Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau (MYL) berharap Maros-Pangkep UNESCO Global Geopark dapat mempertahankan statusnya sebagai UNESCO Global Geopark. Menurutnya, pengakuan tersebut akan semakin memperkenalkan kawasan geopark di tingkat internasional sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara.
Baca Juga : PAD Pangkep Semester I 2026 Capai 53,87 Persen, Pemkab Perkuat Digitalisasi dan Gandeng ATR/BPN
"Kami berharap status Geopark Maros-Pangkep ini bisa tetap dipertahankan dan yang pastinya Geopark Maros-Pangkep makin dikenal lagi di mancanegara," ujarnya.
MYL menambahkan, kawasan geopark mulai menarik minat wisatawan asing. Karena itu, pemerintah daerah menargetkan peningkatan kunjungan ke destinasi kepulauan, khususnya Pulau Kapoposang dan Pulau Panambungan.
"Ada beberapa turis mancanegara mengunjungi PIG, dan tahun ini kita targetkan juga kunjungan ke beberapa daerah kepulauan, khususnya Pulau Kapoposang dan Panambungan," katanya.
Baca Juga : Bupati MYL Salurkan 309 Roll Geomembran ke Petambak Garam, Dukung Swasembada Garam di Pangkep
Usai meninjau Rumah Produksi Bersama Komoditas Garam, tim asesor melanjutkan perjalanan melalui Dermaga Maccini Baji menuju Geosite Pulau Karang Kapoposang dan Pulau Karang Panambungan.
Di Pulau Kapoposang, asesor dijadwalkan mengunjungi SDN 12 Kapoposang serta meninjau industri rumahan pengolahan Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai salah satu produk unggulan masyarakat di kawasan geopark. Tim juga akan mengunjungi kawasan konservasi penyu, melakukan snorkeling untuk mengamati keanekaragaman hayati bawah laut, mengobservasi pendaratan penyu hijau, hingga mengikuti pelepasan tukik sebagai bagian dari upaya konservasi.
Sementara itu, di Pulau Karang Panambungan, tim asesor akan meninjau geosite serta berbagai kegiatan konservasi yang dilaksanakan di kawasan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




