Jejakfakta.com, MAKASSAR — Cuaca panas yang terasa menyengat di Kota Makassar dan sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam beberapa hari terakhir masih berada dalam kondisi normal. Namun, masyarakat diminta mewaspadai persoalan lain yang berpotensi mengganggu kesehatan, yakni memburuknya kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan dari Kalimantan.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Asriani Idrus, mengatakan suhu udara di Sulsel saat ini berkisar 30–35 derajat Celsius. Kondisi tersebut masih tergolong wajar karena Sulsel berada pada periode puncak musim kemarau.

Meski demikian, sensasi panas yang dirasakan masyarakat dapat berbeda dengan suhu yang tercatat pada termometer. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh feels like temperature atau suhu yang dirasakan tubuh.
Baca Juga : BPBD Makassar Salurkan 5,1 Juta Liter Air Bersih, Jangkau 97 Ribu Jiwa di 62 Kelurahan

“Ini berbeda dengan suhu biasa yang diukur termometer, karena merupakan kombinasi dari arah angin, suhu udara, kelembapan, dan radiasi. Jadi, kondisi tubuh kita dipengaruhi oleh tekanan akibat panas lingkungan,” ujar Asriani, Sabtu (3/10/2026).
Kualitas Udara Makassar dan Maros Terpantau Memburuk
Di tengah kondisi panas tersebut, BMKG menemukan indikator lain yang perlu mendapat perhatian, yakni kualitas udara di wilayah Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar.
Baca Juga : Warga Gugat Smelter KIBA, Klaim Polusi Udara Ganggu Kesehatan hingga Rusak Rumah
Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi Particulate Matter (PM) 2,5 berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Kondisi kualitas udara terburuk umumnya terjadi pada dini hari, tengah malam hingga pagi hari.
Kualitas udara diperkirakan mulai membaik sekitar pukul 12.00 WITA ketika pola angin mengalami perubahan.
Asriani menjelaskan, pola angin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi masuknya asap ke wilayah Sulsel. Berdasarkan peta sebaran asap, angin dominan saat ini bergerak dari timur. Namun, data Automatic Weather Station (AWS) juga menunjukkan adanya angin dari arah barat.
Baca Juga : Kekeringan Meluas, Permintaan Air Bersih di Makassar Tembus 50 Titik
“Kami melihat dari peta sebaran asap, arah angin dominan saat ini memang dari timur. Tapi data AWS menunjukkan angin juga datang dari barat. Penyebab utamanya adalah asap kebakaran hutan yang pusatnya terlihat di Kalimantan. Kemungkinan besar asap itu terbawa dari Kalimantan ke Sulawesi Selatan,” jelasnya.
Arah Angin Pengaruhi Sebaran Asap
Perubahan arah angin membuat kualitas udara di Sulsel dapat berubah dalam waktu tertentu. Ketika angin bergerak dari timur, kondisi udara cenderung membaik. Sebaliknya, ketika angin dari barat kembali dominan, partikel asap dari Kalimantan berpotensi masuk ke wilayah Sulsel.
Baca Juga : Program Langit Biru Diperkuat, DLH Luwu Timur Dorong Pengendalian Pencemaran Udara Lintas Sektor
BMKG juga menyebut penurunan kualitas udara kali ini belum terutama dipengaruhi emisi kendaraan. Asap kebakaran hutan dari wilayah lain menjadi faktor yang lebih dominan.
“Faktor utamanya memang asap kiriman. Selain Kalimantan, jika angin dominan dari timur, asap dari kebakaran hutan di Papua dan Maluku juga bisa terbawa ke wilayah Sulawesi,” kata Asriani.
BMKG Imbau Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Baca Juga : Kemarau Panjang, Appi Imbau Warga Waspadai Potensi Kebakaran dan Kekurangan Air
BMKG memprediksi kondisi kualitas udara yang kurang baik masih berpotensi berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah masih banyaknya titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah Kalimantan.
Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama pada periode ketika konsentrasi partikel udara cenderung meningkat.
“Fokusnya biasanya pada dini hari hingga pagi menjelang siang. Siang sore hari sudah mulai menurun. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam-jam tersebut,” tutup Asriani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



