Jejakfakta.com - MAKKAH - Belajar bahasa Arab langsung dari penutur asli menjadi pengalaman baru bagi 35 santriwati SPIDI Makkah yang mengikuti program pendidikan di Institut Al-Qur'an Putri Dar as-Safwah. Dalam pembelajaran yang didampingi empat pengajar penutur asli bahasa Arab itu, para santriwati menghadapi tantangan memahami materi tanpa terjemahan bahasa Indonesia.
Materi yang diberikan masih berada pada tingkat dasar. Namun, proses belajarnya menuntut perhatian penuh. Santriwati harus menyimak pelafalan, memahami instruksi, dan menangkap maksud perkataan pengajar yang disampaikan dalam bahasa Arab.

Pada awal pembelajaran, sebagian santriwati tampak berusaha keras mengikuti penjelasan. Seiring berjalannya kegiatan, suasana kelas menjadi lebih cair. Para pengajar menyampaikan materi secara interaktif dan memberi kesempatan kepada santriwati untuk mencoba merespons menggunakan bahasa yang sedang mereka pelajari.
Baca Juga : Pemkab Pangkep Siapkan Rp8 Miliar untuk Bantuan Pendidikan Mahasiswa

Direktur SPIDI Makkah, Ustadz Muthahhir Arif, mengatakan pengalaman belajar langsung di lingkungan berbahasa Arab menjadi salah satu bagian penting dari program Living & Learning in Makkah Al-Mukarramah.
"Melalui program ini, para santriwati tidak hanya mengikuti pelajaran di sekolah, tetapi juga memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang memungkinkan mereka berinteraksi langsung dengan bahasa dan kehidupan di Tanah Suci," ujarnya.
Program yang berlangsung selama 2,5 bulan ini mencakup pembelajaran Al-Qur'an, bahasa Arab, serta penguatan kemandirian dan kepemimpinan. Pengalaman belajar bersama penutur asli menjadi salah satu kesempatan bagi santriwati untuk membiasakan diri mendengar dan menggunakan bahasa Arab dalam kegiatan pembelajaran.
Baca Juga : Bupati Luwu Timur Buka Ruang Dialog, Warga Angkona Sampaikan Beragam Aspirasi
Mereka tidak hanya dituntut memahami kosakata, tetapi juga belajar menangkap makna melalui konteks, memperhatikan pelafalan, dan memberanikan diri merespons meskipun belum memahami seluruh ungkapan yang disampaikan.
Pengalaman belajar juga berlangsung di kelas Al-Qur'an. Menurut Muthahhir, para santriwati mengikuti talaqqi, yakni pembelajaran bacaan Al-Qur'an secara langsung bersama seorang syaikhah. Dalam sesi pembacaan Surah An-Naba, pola pembelajaran disesuaikan dengan membagi bacaan menjadi beberapa bagian ayat yang dilantunkan secara bergantian.
"Pembelajaran tidak berhenti pada bahasa Arab. Di kelas Al-Qur'an, para santriwati mengikuti talaqqi bersama seorang syaikhah," jelasnya.
Baca Juga : Sarasehan Mandalish di Pare, Bupati Irwan Uji Kemampuan Bahasa Mandarin dan Inggris Peserta
Kedua pengalaman tersebut memperlihatkan dua sisi pembelajaran yang dijalani para santriwati di Makkah. Bahasa Arab dipelajari melalui interaksi langsung, sedangkan bacaan Al-Qur'an diperkuat melalui bimbingan pengajar.
Bagi SPIDI, program ini merupakan bagian dari proses pendidikan yang lebih luas. Selain menambah pengetahuan, santriwati diharapkan mengembangkan keberanian berkomunikasi, kedisiplinan, dan kemandirian melalui pengalaman belajar di lingkungan baru.
"Selama program berlangsung, perkembangan itu perlu dibangun melalui latihan, pendampingan, dan evaluasi secara berkelanjutan," imbuh Muthahhir.
Baca Juga : Wali Kota Appi Pacu Pemerataan Pembangunan di Pulau: Sekolah, Jalan, Dermaga hingga Transportasi Laut
Sebelumnya, program SPIDI Makkah ini telah diluncurkan Wakil Wali Kota Makassar, Hj Aliyah Mustika Ilham. Aliyah mengaku tertarik dengan program yang memadukan pelajaran Bahasa Arab, Sejarah Rasulullah, dan Kepemimpinan serta Kemandirian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



