Selasa, 20 Oktober 2026 14:46

Golkar 62 Tahun: Menjaga Sejarah, Menjawab Tantangan Zaman

Editor : Editor JF
Ilham Arief Sirajuddin, Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan. @jejakfaktacom/JF
Ilham Arief Sirajuddin, Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan. @jejakfaktacom/JF

Selamat HUT ke-62 Partai Golkar. Menjaga sejarah adalah kewajiban. Menjawab tantangan zaman adalah keharusan. Mengabdi kepada rakyat adalah alasan kita terus melangkah.

Oleh: DR. Ir. H. Ilham Arief Sirajuddin, M.M.

Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan

Jejakfakta.com - MAKASSAR - Enam puluh dua tahun bukan perjalanan yang pendek bagi sebuah partai politik. Ada sejarah yang panjang, pengalaman yang berlapis, dan kontribusi yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Namun, usia juga membawa tanggung jawab. Semakin panjang perjalanan sebuah organisasi, semakin besar pula tuntutan agar ia terus relevan dengan zamannya.

Baca Juga : Golkar Sulsel Tegaskan Reorientasi Politik di Usia ke-62, IAS: Bukan Popularitas, tapi Kerja Nyata untuk Rakyat

Pada peringatan HUT ke-62 Partai Golkar, 20 Oktober 2026, kita patut bersyukur atas perjalanan yang telah dilalui. Tetapi rasa syukur saja tidak cukup. Ulang tahun seharusnya menjadi kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah dikerjakan, membaca perubahan yang sedang berlangsung, dan merumuskan jawaban atas tantangan yang akan datang.

Golkar memiliki modal sejarah, jaringan organisasi, kader di berbagai tingkatan pemerintahan, serta pengalaman panjang dalam kehidupan politik Indonesia. Modal itu penting. Namun, tidak ada jaminan bahwa kebesaran masa lalu dengan sendirinya menjadi kekuatan pada masa depan.

Sejarah memberi kita legitimasi untuk belajar, bukan alasan untuk berhenti berbenah.

Baca Juga : Pangkep Bawa Hasil Bumi di Kirab Swasembada Pangan HUT ke-357 Sulsel

Politik yang Terus Berubah

Kita sedang hidup dalam masyarakat yang berubah cepat. Teknologi mengubah cara orang memperoleh informasi. Generasi muda memiliki cara pandang dan aspirasi yang semakin beragam. Masyarakat juga semakin terbuka dalam menilai partai politik, termasuk dalam mengukur jarak antara janji dan kenyataan.

Dalam situasi seperti ini, partai politik tidak cukup hadir ketika pemilihan umum tiba. Partai harus hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan. Ia perlu mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menawarkan solusi, dan bekerja sebelum meminta kepercayaan.

Baca Juga : Sejarah! IKA SMANSA Serui 2007 dan Sahabat Denny Bonai Sukses Gelar Event Lari Modern Pertama di Yapen

Inilah tantangan Golkar hari ini. Bagaimana menjadikan kekuatan organisasi sebagai kekuatan pengabdian? Bagaimana memastikan bahwa keberadaan kader di lembaga legislatif maupun eksekutif benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat? Dan bagaimana menjaga agar partai tidak hanya dikenal karena sejarah dan tokoh-tokohnya, tetapi juga karena gagasan serta kerja nyatanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlu menjadi bahan refleksi bersama. Bukan hanya bagi pengurus di daerah, melainkan juga bagi seluruh jajaran Partai Golkar di tingkat nasional.

Membesarkan Partai, Memperluas Pengabdian

Baca Juga : Libatkan 20 UMKM, Pangkep Promosikan Produk Unggulan di Ekspo HUT Sulsel

Kita tentu memahami pentingnya target politik. Kursi legislatif merupakan salah satu ukuran kepercayaan rakyat dan kekuatan representasi partai. Golkar perlu bekerja keras menjaga dan meningkatkan capaian politiknya.

Namun, capaian elektoral harus berjalan beriringan dengan kualitas pengabdian. Kemenangan dalam pemilihan umum bukan tujuan yang berdiri sendiri. Ia merupakan sarana untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan publik, serta memastikan bahwa pembangunan memberi manfaat yang lebih luas.

Karena itu, penguatan organisasi harus dimulai dari bawah. Pengurus di tingkat provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, hingga desa dan kelurahan perlu memiliki hubungan yang hidup dengan masyarakat. Struktur organisasi tidak boleh hanya terlihat lengkap di atas kertas. Ia harus bekerja, mendengar, dan mampu menjembatani persoalan warga dengan ruang pengambilan keputusan.

Baca Juga : Gabung Demokrat, Appi Tidak Serta Merta Jadi Ketua

Dari Sulawesi Selatan, kami memandang konsolidasi seperti ini sebagai pekerjaan mendasar. Organisasi yang kuat bukan semata-mata organisasi dengan banyak pengurus, melainkan organisasi yang mampu menyatukan energi kader dalam tujuan bersama.

Soliditas juga tidak berarti meniadakan perbedaan. Partai yang sehat memberi ruang bagi dialog, gagasan, dan regenerasi. Perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan apabila dikelola dengan kedewasaan dan orientasi pada kepentingan organisasi.

Memberi Ruang bagi Generasi Berikutnya

Salah satu tantangan penting Golkar adalah memastikan keberlanjutan kepemimpinan. Generasi muda tidak cukup hanya diajak hadir dalam kegiatan partai atau ditempatkan sebagai pelengkap struktur. Mereka perlu memperoleh ruang untuk belajar, mengambil tanggung jawab, menyampaikan gagasan, dan membuktikan kemampuan.

Pengalaman tidak bisa diwariskan begitu saja. Ia harus dibangun melalui kesempatan. Karena itu, regenerasi perlu menjadi proses yang direncanakan, bukan sekadar pergantian nama ketika momentum tiba.

Kader senior memiliki tanggung jawab membagikan pengalaman dan menjaga nilai organisasi. Sementara itu, kader muda membawa energi, kreativitas, serta kepekaan terhadap perubahan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Golkar akan lebih siap menghadapi masa depan apabila pengalaman dan pembaruan berjalan bersama.

Hal yang sama berlaku dalam pengembangan gagasan. Partai harus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi digital, persoalan lingkungan, dan tantangan kesejahteraan generasi mendatang. Politik tidak boleh berhenti pada cara-cara lama ketika persoalan masyarakat terus berkembang.

Suara dari Sulawesi Selatan

Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan, saya memandang peringatan HUT ini sebagai momentum untuk memperkuat kontribusi daerah terhadap agenda besar partai. Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah yang harus dijaga kekuatan elektoralnya. Daerah juga merupakan ruang lahirnya gagasan, kader, dan pengalaman yang dapat memperkaya arah perjuangan Golkar secara nasional.

Apa yang kita bangun di daerah seharusnya terhubung dengan kebutuhan partai secara keseluruhan. Konsolidasi yang kuat, kaderisasi yang berkelanjutan, kedekatan dengan masyarakat, dan kemampuan merespons persoalan lokal merupakan bagian dari pekerjaan bersama untuk memperkuat Golkar di tingkat nasional.

Sebaliknya, daerah juga membutuhkan organisasi nasional yang mampu memberikan arah, membangun koordinasi, serta membuka ruang bagi aspirasi dari bawah. Hubungan pusat dan daerah idealnya tidak berhenti pada instruksi dan pelaksanaan. Ia harus menjadi hubungan yang saling mendengar dan saling menguatkan.

Saya percaya, kekuatan Golkar ke depan tidak hanya ditentukan oleh keputusan yang lahir di pusat, tetapi juga oleh kemampuan seluruh struktur di daerah menerjemahkan cita-cita partai menjadi kerja yang nyata. Suara daerah perlu menjadi bagian dari percakapan nasional, sebab pengalaman Indonesia tidak tunggal. Setiap daerah memiliki tantangan dan potensi yang dapat memperkaya cara kita melihat masa depan bangsa.

Menatap Masa Depan

Enam puluh dua tahun memberi Golkar warisan sejarah yang patut dijaga. Tetapi warisan itu baru akan bermakna apabila mampu diteruskan melalui kerja yang relevan dengan kebutuhan masyarakat hari ini.

Tantangan ke depan bukan sekadar mempertahankan keberadaan partai. Tantangannya adalah memastikan bahwa Golkar tetap menjadi tempat tumbuhnya gagasan, pengabdian, dan kepemimpinan yang dipercaya rakyat. Kita perlu menjaga identitas tanpa menutup diri terhadap perubahan, merawat soliditas tanpa membatasi ruang dialog, serta mengejar kemenangan politik tanpa melupakan tujuan pengabdian.

HUT ke-62 seharusnya tidak hanya menjadi penanda bertambahnya usia. Ia perlu menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen bersama.

Dari Sulawesi Selatan, kami menyampaikan harapan agar Golkar terus tumbuh sebagai partai yang berakar pada masyarakat, terbuka terhadap pembaruan, dan sanggup menjawab tantangan zaman.

Sebab, kebesaran partai pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh berapa lama ia bertahan atau seberapa besar kekuatan politik yang dimiliki. Kebesaran itu juga ditentukan oleh seberapa berarti kehadirannya bagi rakyat dan seberapa besar sumbangannya bagi masa depan Indonesia.

Selamat HUT ke-62 Partai Golkar.

Menjaga sejarah adalah kewajiban. Menjawab tantangan zaman adalah keharusan. Mengabdi kepada rakyat adalah alasan kita terus melangkah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Golkar #Sulsel #Ilham #Hut #Pengabdian #Sejarah #Rakyat
Youtube Jejakfakta.com