Jejakfakta.com, Makassar - Jelang perayaan hari besar Idul Fitri 1444 H, ketersediaan bahan pangan di Sulawesi Selatan sudah terjamin hingga harga bahan pokok stabil.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan, Kemal Redindo Syahrul Putra, di ruang kerjanya, Kamis (13/4/2023). Menurutnya, Sulsel sebagai lumbang pangan nasional dan penyumbang terbesar komoditi pangan, dimana sebesar 20 persen nasional bahan pangan ada di Sulsel.

Meski permintaan bahan pokok menjelang lebaran Idul Fitri tahun mulai naik, pihaknya menjamin ketersediaan bahan pokok terjaga.
Baca Juga : Tinjau Gedung Simpurusiang, Bupati Irwan Tekankan Kualitas Pengerjaan hingga Tahap Akhir
“Jadi fonemena tinggi permintaan tapi ketersediaan terjaga itu yang penting, memang permintaan biasanya tinggi di cabe, telur, daging ayam, daging sapi. Dan ini kemarin kita sudah menjalin kerjasama dengan beberapa PT Buls itu sendiri untuk menyiapkan daging," ujar Kemal kepada wartawan, Kamis (13/04/2023) kemarin.
"Kita juga komunikasikan dengan pengusaha telur dan itu ketersediaan cukup. Tapi kita kembali lagi harga semua turun, memang tidak turun secara normal,” sambungnya.
Kemal menjelaskan, penurunan harga di Sulsel dibanding daerah lain karena ketersediaan produksi di Sulsel tinggi dan cukup meningkat.
Baca Juga : Pemkab Gowa Perkuat Budaya Keamanan Siber ASN Lewat Webinar Cyber Security Awareness 2026
Kemal mengaku, salah satu bahan pangan saat ini yang kurang yaitu bawang putih, hal ini terjadi karena kurangnya dari produksi lokal.
“Yang kurang sekarang itu bawang putih, karenakan itu dasarnya adalah importasi. Bawang kita sendiri untuk bawang putih tidak terjadi peningkatan pertumbuhan karena memang dibanding bawang yang impor itu memang bedalah. Kalau cabe tersedia aman dan lainnya pun juga begitu,” sebutnya.
Solusi Pasar Murah
Baca Juga : Wabup Lutim Hadiri HLM TPID Sulsel, Tegaskan Komitmen Stabilitas Harga Jelang Iduladha
Untuk memotong rantai pasokan dan stok pangan, Pemprov Sulsel melalui Dinas Ketanahan Pangan Sulsel menggelar pasar murah untuk masyarakat kurang mampu.
“Pasar murah itu sebagai satu solusi, untuk memotong rantai pasok, artinya memotong ongkos kirim pasok, sehingga harga langsung dari distributor ke masyarakat. Jadi bukan harganya yang turun tapi ongkos kirimnya yang dipotong,” ujar Kemal.
Sementara itu, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat surplus 2,08 juta ton beras pada 2022 dan tercatat mampu berkontribusi sebanyak 25 persen untuk stok beras nasional.
Baca Juga : Komitmen Perlindungan Anak, TP PKK Luwu Timur Ikut Dorong Percepatan Imunisasi Zero Dose di Sulsel
Pada tahun tersebut, produksi beras Sulsel sebanyak 3,08 juta ton, naik 154.700 ton atau 5,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 2,92 juta ton. Angka ini sejalan dengan meningkatnya produksi padi yang mencapai 5,36 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 269.500 ton GKG atau 5,29 persen dibandingkan 2021 yang hanya sebesar 5,09 juta ton GKG. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




